Minggu, 05 Januari 2014
Sabtu, 04 Januari 2014
Demokrasi Dalam Pandangan Islam , Al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Sumber: AnwarusSunnahPTH•Blogspot.Com
Kajian Fawaid Manhajiyyah 2 , Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh
Kamis, 02 Januari 2014
Apakah majelis tafsir al-Qur’an (MTA) termasuk Ahlus Sunnah wal Jamaah?
Dijawab oleh al-Ustadz Rijal:
MTA bukanlah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Ahlussunnah wal jama’ah adalah orang yang mengagungkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Adapun MTA, betapa banyak pengingkaran mereka terhadap hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Selain itu, MTA banyak menyimpang dalam pokok-pokok keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Diantara penyimpangan MTA dalam masalah aqidah adalah mengingkari ru’yatullah (melihat Allah diakhirat bagi orang mukminin), padahal hadits-hadits tentang melihat Allah mencapai derajat mutawatir, lebih dari 30 orang shahabat meriwayatkannya. dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim, dari Jabir berkata,
كُنَّا جلوسا عِنْدَ رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ نَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ فَقَالَ: أَمَا إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا القمر لَا تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ
“Ketika kami sedang bermajelis bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba beliau memandang bulan purnama, seraya bersabda, “Sesungguhnya kalian akan dapat melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini, dan kalian tidak berdesak-desakkan ketika kalian melihat-Nya.”
Seluruh shahabat Nabi, tabi’in, atba’ut tabi’in dan seluruh imam Ahlus Sunnah wal Jamaah, seperti al-Imam Malik, asy-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, al-Bukhari, al-Auza’i, dan ulama Ahlus Sunnah seluruhnya, berada diatas keyakinan ini.
Keika menafsirkan al-Qur’an, MTA pun tidak menggunakan metode Ahlus Sunnah wal Jamah dalam hal tafsir. Tafsir mereka tidak dibekali ilmu hadits, tidak pula dibekali pemahaman ahlus sunnah dalam hal tafsir. mereka lebih mengedepankan akal.
Mereka juga memiliki bai’at bid’ah, yang diatasnya mereka membangun al-wala’ wal bara’ (loyalitas dan permusuhan).
walhasil, jalan mereka menyelisihi jalan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan telah menyimpang dari jalan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Allahul musta’an.
Sumber : Majalah Qonitah, edisi 08/vol. 01/1434H-2013 Melalui website inginbelajarislam.wordpress.comRabu, 01 Januari 2014
Menisbahkan Sesuatu Kepada ‘Ulama, Demi Menjatuhkan Kredibilitas Pihak Lain (Bagian Ke 2)
(Studi Kejujuran Abdul Barr – tulisan kedua –)
Jika pada tulisan pertama telah kita ungkap ucapan yang dinisbahkan kepada asy-Syaikh ‘Abdullah Mar’i oleh ust Abdul Barr ini, yang ternyata dusta adanya. Maka ketika mengawali tulisannya, Ustadz Abdul Barr menyebutkan sebuah kisah yang kali ini dia nisbahkan kepada asy-Syaikh ‘Abdurrahman Mar’i. Berikut penuturannya,
“Sebelum saya kembali ke tanah air tercinta, Alhamdulillah, Allah berikan taufiq kepada saya untuk menyambangi guru kami Asy Syaikh Abdur Rahman Al Adeny –hafidhohulloh. Pada kesempatan itu, beliau bertanya tentang perihal dakwah di Indonesia. Kemudian beliau bertanya kepada saya, “Siapa sekarang orang yang menggantikan posisi Ja’far Umar Thalib dalam dakwah? Maka saya katakan, “Luqman Ba’abduh ya Syaikh”. Kemudian beliau berkata :
أنا أخشى عليه وهو ليس بذاك وإندونيسيا بلدة كبيرة فيها أمة كبيرة تحتاج إلى واحد قوي يحتفون حوله
“Aku mengkhawatirkan dirinya, karena dia tidak sepantas itu, sedangkan Indonesia adalah negeri yang besar, padanya terdapat umat yang besar, membutuhkan seorang yang kuat (dalam ilmu), (untuk) kaum muslimin merujuk kepadanya.” – selesai –
Apa makna ucapan yang dinisbahkan kepada asy-Syaikh ‘Abdurrahman tersebut?
Maka ust. Abdul Barr mencoba menafsirkannya dengan tafsirannya sendiri dia mengatakan,
“Dan ternyata setelah saya pulang ke Indonesia apa yang dikhawatirkan oleh Asy Syaikh Abdur Rahman benar adanya. Ketika orang yang tidak berilmu berbicara tentang agama maka dia akan sesat lagi menyesatkan. Telah benar sabda Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
قبل الساعة سنون خداعة يكذب فيها الصادق ويصدق فيها الكاذب ويخون فيها الأمين ويؤتمن فيها
الخائن وينطق فيها الرويبضة
الخائن وينطق فيها الرويبضة
“Sebelum hari kiamat ada tahun-tahun pengkhianatan, orang yang jujur ketika itu didustakan, sedang pendusta dibenarkan, dan orang yang terpercaya dikhianati, sedang pengkhianat dipercaya, dan ketika itu Ar-Ruwaibidhoh pun berbicara”. (HR. Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)” – selesai –
Demikianlah ‘Abdul Barr menafsirkan ucapan asy-Syaikh ‘Abdurrahman yang ia nukilkan tersebut.
Ada beberapa kejanggalan dari penukilan tersebut,
- Kapan dan di mana terjadi pertemuan tersebut?
Dalam tulisannya tersebut, ust. Abdul Barr hanya menyebutkan bahwa sebelum dia pulang ke Indonesia. Kapankah itu? Apakah yang dia maksud sebelum kepulangannya dari Dammaj dulu? Berarti pertemuan tersebut sudah sangat lama. Yang berarti penilaian tersebut adalah penilaian yang sudah sangat lama.
Sementara kita semua tahu, bahwa pada tahun 2007 lalu asy-Syaikh ‘Abdurrahman dengan senang hati mau memenuhi undangan Daurah Nasional ke Indonesia, dan Nampak sekali keakraban dan ketsiqahan beliau kepada ust. luqman. Bagaimana mungkin beliau akan mau diundang oleh seorang “Ruwaibidhah” dan beliau mau tsiqah kepadanya?
Demikian pula, selama di Indonesia beliau tidak mengungkit hal tersebut sama sekali, atau menyalahkan ust. Luqman. Padahal mestinya dengan melihat kenyataan kondisi Dakwah Salafiyyah yang ada di Indonesia “versi Abdul Barr di atas”, sangat harus beliau memperingatkan ust. Luqman atau mengingatkan Salafiyyin dari bahayanya.
Ataukah justru keadaannya memang sudah berubah? Yakni penilaian beliau yang sudah sangat lama tersebut sudah mansukh, artinya Ustadz Luqman Ba’abduh itu bukan Ruwaibidhah seperti yang dituduhkan oleh ust, Abdul bar.
Ataukah kenyataannya ucapan tersebut memang benar-benar tidak pernah ada wujudnya alias tidak pernah diucapkan oleh Asy-Syaikh ‘Abdurrahman hafizhahullah?
- Apakah ada bukti rekaman suara dari ucapan tersebut?
Kejanggalan berikutnya adalah, apa ada bukti dari ucapan Syaikh Abdurrahman yang beliau ucapan dalam pertemuan tersebut? berupa rekaman suara, atau saksi?
Jika tidak ada, berarti sumber berita benar-benar hanya dari ust Abdul Barr seorang. Jika demikian, bisa kah kita mempercayainya. Sementara sebuah peristiwa yang disaksikan oleh orang banyak ust. Abdul Barr berani membuat-buat cerita yang tidak ada pada kenyataannya, yakni sebagaimana apa yang dia nisbahkan pada asy-Syaikh ‘Abdullah Mar’i (lihat kembali tulisan pertama). Maka bagaimana dengan sebuah “pertemuan rahasia”, yang tidak ada seorang pun yang tahu kecuali ust. ‘Abdul Barr sendiri dan asy-Syaikh ‘Abdurrahman.
- Kenapa baru sekarang Ustadz Abdul Barr baru mengungkap adanya “pertemuan rahasia” tersebut, dan kenapa ia sengaja baru mengungkap isi “pertemuan rahasia” tersebut pada masa-masa penuh fitnah seperti ini?
Ini merupakan kejanggalan berikutnya. Ya, kenapa baru diungkap sekarang? Kemana sebelumnya penilaian yang “sangat penting” ini?
Kenapa engkau baru menyampaikannya sekarang wahai ust. Abdul Barr? Kenapa sebelumnya engkau diam, yang berarti engkau rela Dakwah Salafiyyah ini dipegang oleh Ruwaibidhah?
Menjawab kejanggalan-kejanggalan tersebut, maka satu-satunya jalan adalah dengan tabayyun langsung kepada asy-Syaikh ‘Abdurrahman Mar’i. Melalui ikhwah Indonesia para penuntut ilmu yang ada di sana, disampaikanlah penukilan tersebut kepada asy-Syaikh ‘Abdurrahman, dengan disebutkan secara jelas bahwa nama penukilnya adalah Abdul Barr.
Demi mendengar penukilan aneh yang dinisbahkan kepada dirinya tersebut, maka dengan tegas asy-Syaikh ‘Abdurrahman menyatakan pengingkarannya terhadap penukilan tersebut, dan beliau mengulang-ulangnya. Di antara yang diucapkan oleh beliau (secara makna),
والله! أنا لا أذكر، لا قليلا ولا كثيرا صدر مني هذا الكلام
بل أستطيع أن أقول : أنا ما قلت هذا!! هذا الكلام غريب جدا!! فلماذا لم يخرجه إلا الآن؟! وقل له : اتق الله!!
ولا أرتضي نشر هذا الكلام!!
Artinya,
Demi Allah! aku tidak ingat, sedikit atau pun banyak, bahwa terucap dariku pernyataan tersebut. Bahkan bisa aku katakan bahwa aku tidak mengucapkan pernyataan ini. Pernyataan tersebut sangat aneh, kenapa dia (Abdul Barr) tidak mengeluarkannya kecuali sekarang?! Katakan padanya (Abdul Barr), ‘bertaqwalah kamu kepada Allah!’ dan aku tidak ridha penyebaran pernyataan ini (yaitu yang dinisbahkan oleh Abdul Barr kepada asy-Syaikh Abdurrahman).”
Perhatikan, beliau menafikan penisbatan ucapan tersebut pada dirinya dengan bersumpah menyebut nama Allah. Sebagai bentuk penegasan atas ketidakjujuran penukilan tersebut yang dinisbatkan kepada beliau.Lahaula wala Quwwata illa billah
Pada kesempatan yang sama, ditanyakan kepada asy-Syaikh ‘Abdurrahman tentang Ust. Luqman Ba’abduh, maka beliau menjawab,
هو قائم بدعوة وخير، عسى الله أن يتقبل
”Dia menegakkan dakwah dan kebaikan, semoga Allah menerimanya.”
Melihat kenyataan di atas ada beberapa hal yang bisa kita ambil sebagai faidah :
1. Abdul Barr adalah seorang yang pandai merekayasa sebuah kisah
2. Tidak jujur dalam menukil sebuah pernyataan dan menisbahkannya kepada ‘ulama.
3. Abdul Barr, sangat mirip dengan Dzulqarnain dalam sikap tala’ub (mempermainkan) salafiyyin, bahkan ulama.
Hal ini mengingatkan kita kepada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
«الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ، وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ»
“Arwah itu tentara yang berbaris. Ruh yang saling kenal, maka akan saling cenderung dan sesuai, sementara ruh yang tidak saling kenal, maka akan saling berselisih.” (al-Bukhari 3336, Muslim 2638)
Makna hadits tersebut dijelaskan oleh para ‘ulama, bahwa arwah itu akan saling menyesuaikan diri, maka arwah manusia yang baik akan condong kepada arwah lain baik pula. Sementara arwah yang jelek akan condong kepada arwah yang jelek semisalnya. Maka arwah akan berupaya saling mengenal sesuai dengan tabiatnya masing-masing. Jika sudah saling mengenal, maka yang jelek akan berkawan dengan yang jelek, sementara yang baik akan berkawan dengan yang baik. Jika arwah tersebut menemui arwah lainnya yang tidak sama tabiat atau perangainya, maka mereka akan saling berpisah. (lihat Fathul Bari, syarh hadits tersebut)
Kita juga teringat untaian nasehat seorang ayah yang bijak, asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah, “Barangsiapa yang tampak darinya tala’ub wajib ditahdzir, dan hendaknya Salafiyyin waspada dari orang-orang seperti itu.” (lihat http://dammajhabibah.net)
Sampai di sini tentu akan muncul pertanyaan, kalau begitu siapa sebenarnya Ruwaibidhah? Dengan dua tulisan singkat ini saja, para pembaca insya Allah bisa menarik kesimpulan jawabannya.
Dan insya Allah, pembaca akan semakin jelas jawabannya, dengan tulisan-tulisan berikutnya.
http://tukpencarialhaq.com/
Al-Ustadz Qomar Suaidi , Dzammut Taqlid wat Ta‘ashshub (Tercelanya Taqlid dan Ta‘ashshub)
[Sesi 1] Tercelanya Taqlid dan Ta‘ashshub
[Sesi 2] Tercelanya Taqlid dan Ta‘ashshub
Sumber: WhatsApp Salafy Indonesia
Menisbahkan Sesuatu Kepada ‘Ulama, Demi Menjatuhkan Kredibilitas Pihak Lain
Menisbahkan Sesuatu Kepada ‘Ulama, Demi Menjatuhkan Kredibilitas Pihak Lain
(Studi Kejujuran Abdul Barr – tulisan pertama –)Sungguh membelalakkan mata dan membuat hati tercabik-cabik, apa yang ditorehkan oleh al-Ustadz Abdul Barr Kaisinda pada 26 Desember 2013 kemarin. Dalam sebuah tulisan berjudul Mengenal Sang Politikus Dakwah, Pemecah Belah Ahlus Sunnah, Al Ustadz Lukman Baabduh, dia menggeber sejumlah data demi menjatuhkan kredibilitas nama yang ia sebutkan dalam judul tersebut. Tentu saja masalahnya bukan sekedar nama baik seseorang, namun taruhannya adalah Dakwah Salafiyyah di Indonesia.
Apabila ditelisik lebih cermat, sebenarnya “data-data” yang ditampilkan oleh Ustadz Abdul Barr yang sepintas lalu sebagai “hujjah yang kokoh” ternyata hanya semakin membuat seorang yang adil dan jujur mengelus dada.
Perlu ada studi untuk mengukur sejauh mana kejujuran ustadz yang menorehkan tulisan yang telah banyak meresahkan salafiyyin di Indonesia tersebut.
Untuk studi tersebut, maka di sini kami akan mencoba memulai dengan sebuah peristiwa – yang memang peristiwa tersebut tidak disinggung oleh sang ustadz dalam tulisannya tersebut – namun perlu untuk diketengahkan di sini, karena sangat terkait dengan sang ustadz. Yaitu penukilan sekaligus penisbatan sebuah perkataan kepada asy-Syaikh ‘Abdullah Mar’i. Dari sini, kita akan bisa mengukur jujurkah ust Abdul Barr, ataukah ternyata itu sebuah kedustaan?
Berikut penuturan al-Ustadz Fauzan hafizhahullah bersama al-Ustadz Muhammad Ihsan dan al-Ustadz Muhammad Afifuddin hafizhahumallah,
“Saya Abu Ubaidillah (Fauzan) – bersama al-Ustadz Muhammad Ihsan dan al-Ustadz Muhammad Afifuddin – menulis persaksian ini dengan tujuan sebagai pelajaran bagi salafiyyin di Indonesia dalam menyikapi berita-berita yang disampaikan oleh al-Ustadz Abdul Barr, untuk bisa dinilai sejauh mana kejujurannya.
Pada saat Dauroh Masyaikh di Bandung, tepatnya di Wisma Komandan SECAPA, Ust. Abdul Barr menisbatkan sebuah ucapan kepada asy-Syaikh Abdullah Mar’i di hadapan sejumlah asatidzah, di antaranya al-Ustadz Muhammad Ihsan, bahwa asy-Syaikh Abdullah ketika di sebuah villa di Bali ba’da shalat Fajr berkata tentang Ja’far Umar Thalib:
Pada saat Dauroh Masyaikh di Bandung, tepatnya di Wisma Komandan SECAPA, Ust. Abdul Barr menisbatkan sebuah ucapan kepada asy-Syaikh Abdullah Mar’i di hadapan sejumlah asatidzah, di antaranya al-Ustadz Muhammad Ihsan, bahwa asy-Syaikh Abdullah ketika di sebuah villa di Bali ba’da shalat Fajr berkata tentang Ja’far Umar Thalib:
“كيف يا اخوان لو نأتي إلى جعفر؟” [1]
Kemudian kata Abdul Barr, Ustadz Usamah Mahri yang juga ada di majelis itu menjawab:
“لا يا شيخ، هو يتلاعب بتوبته” [2]
asy-Syaikh Abdullah menjawab:
“لعلكم لا تعطونه فرصة، ولعلكم سددتم عليه الطريق، الانسان اذا وقع في الكبير لا يرجع مباشرة لكنه يرجع شيئا فشيئا.” [3]
Kemudian ust. Abdul Barr berkata, “Mereka (asatidzah, ust usamah, dan lain-lain) langsung menundukkan kepala. (Sambil Abdul Barr mempraktekkan dengan menundukkan kepalanya).
Penukilan ustadz Abdul Barr yang saya dengar bersama ust Muhammad Ihsan hafizhahullah itu juga pernah disampaikan oleh Abdul Barr dalam kesempatan lain kepada al-ustadz Muhammad Afifuddin hafizhahullah
Jujurkah saudara Abdul Barr dalam penisbatan ucapan tersebut kepada syaikh Abdullah Mar’i?
Jawabannya adalah:
Pernyataan tersebut sudah kami klarifikasi langsung kepada Syaikh Abdullah Mar’i di hadapan beberapa asatidzah, tentang kebenaran penukilan tersebut, maka beliau dengan tegas mengingkari penisbahan ucapan tersebut kepada dirinya.
Demikian tulisan ini saya buat, agar Salafiyyin bisa mengambil pelajaran.
Pernyataan tersebut sudah kami klarifikasi langsung kepada Syaikh Abdullah Mar’i di hadapan beberapa asatidzah, tentang kebenaran penukilan tersebut, maka beliau dengan tegas mengingkari penisbahan ucapan tersebut kepada dirinya.
Demikian tulisan ini saya buat, agar Salafiyyin bisa mengambil pelajaran.
Tertanda,
- Fauzan Abu ‘Ubaidillah
- Muhammad Ihsan
- Muhammad Afifuddin
- Fauzan Abu ‘Ubaidillah
- Muhammad Ihsan
- Muhammad Afifuddin
Demikian persaksian 3 ustadz Ahlus Sunnah atas rekayasa Ustadz Abdul Barr yang mengatasnamakan asy-Syaikh ‘Abdullah Mar’i. Yang juga menarik dari cara penukilan Ustadz Abdul Barr di atas, adalah bagaimana Ustadz Abdul Barr menggambarkan apa yang terjadi pada para asatidzah setelah itu, yaitu dengan disertai ekspresi sedemikan rupa, seraya dia mempraktekkan dengan menundukkan kepalanya. Sehingga benar-benar bisa meyakinkan pendengarnya.
Padahal, asatidzah yang hadir pada jalsah di Bali bersama asy-Syaikh ‘Abdullah tersebut – antara lain al-Ustadz Usamah, al-Ustadz Qomar, al-Ustadz Ruwaifi’, dll – sama sekali tidak tahu adanya peristiwa yang dinukilkan oleh ustadz Abdul Barr tersebut. Lahaula wala Quwwata illa billah
Setelah kita mengetahui kadar kejujuran ustadz penulis artikel tersebut melalui persaksian tiga ustadz Ahlus Sunnah di atas, berikutnya insya Allah kita akan mengupas “data-data” yang diungkap oleh ustadz penulis, s upaya kita bisa mengetahui lebih jauh lagi kadar kejujurannya
Setelah kita mengetahui kadar kejujuran ustadz penulis artikel tersebut melalui persaksian tiga ustadz Ahlus Sunnah di atas, berikutnya insya Allah kita akan mengupas “data-data” yang diungkap oleh ustadz penulis, s upaya kita bisa mengetahui lebih jauh lagi kadar kejujurannya
————————–
Catatan Kaki:
[1] Artinya, “Wahai Ikhwan, bagaimana kalau kita mendatangi Ja’far?”
[2] Artinya, “Tidak wahai Syaikh, dia itu main-main saja dalam taubatnya.”
[3] Artinya, “Bisa saja kalian tidak memberikan kesempatan baginya. Mungkin kalian telah menutup jalan (taubat) baginya. Seorang manusia jika jatuh dalam sebuah dosa besar tidak segera rujuk secara langsung, tetapi dia rujuk secara bertahap.
Catatan Kaki:
[1] Artinya, “Wahai Ikhwan, bagaimana kalau kita mendatangi Ja’far?”
[2] Artinya, “Tidak wahai Syaikh, dia itu main-main saja dalam taubatnya.”
[3] Artinya, “Bisa saja kalian tidak memberikan kesempatan baginya. Mungkin kalian telah menutup jalan (taubat) baginya. Seorang manusia jika jatuh dalam sebuah dosa besar tidak segera rujuk secara langsung, tetapi dia rujuk secara bertahap.
Sumber: http://forumsalafy.net/?p=396
Al Ustadz Ayip Syafruddin
Membaca tulisan ustadz Abdul Barr Kaisinda berjudul: “Mengenal Sang Politikus Dakwah, Pemecah Belah Ahlus Sunnah
, Al Ustadz Lukman Ba’abduh”, sungguh sangat memprihatinkan. Padahal sering kita dengar pernyataan, bahwa kita tidak boleh mendahului para ulama. Apa yang dipaparkan ustadz Abdul Barr Kaisinda, senyatanya menelanjangi apa yang ada pada dirinya. Beliau menjarh ustadz Luqman Ba’abduh sedemikian keras. Tak sampai disitu, kebesaran nama ulama, Asy-Syaikh Abdurrahman Al-Adeny hafizhahullah, pun beliau tarik guna memuaskan keinginannya tersebut. Betapa beliau begitu bernafsu ingin melibas keberadaan ustadz Luqman Ba’abduh dalam atmosfer dakwah salafiyah di Indonesia. Entah, apa yang memicunya hanya Allah Ta’ala yang Mahatahu.Mari kita perhatikan untaian kalimat ustadz Abdul Barr Kaisinda yang penuh letupan membara berikut:
“Sebelum saya kembali ke tanah air tercinta, Alhamdulillah, Allah berikan taufiq kepada saya untuk menyambangi guru kami Asy-Syaikh AbdurRahman Al-Adeny –hafidhohulloh. Pada kesempatan itu, beliau bertanya tentang perihal dakwah di Indonesia. Kemudian beliau bertanya kepada saya, “Siapa sekarang orang yang menggantikan posisi Ja’far Umar Thalib dalam dakwah? Maka saya katakan, “Luqman Ba’abduh ya Syaikh”. Kemudian beliau berkata :
أنا أخشى عليه وهو ليس بذاك وإندونيسيا بلدة كبيرة فيها أمة كبيرة تحتاج إلى واحد قوي يحتفون حوله
“Aku mengkhawatirkan dirinya, karena dia tidak sepantas itu, sedangkan Indonesia adalah negeri yang besar, padanya terdapat umat yang besar, membutuhkan seorang yang kuat (dalam ilmu), (untuk) kaum muslimin merujuk kepadanya.”
Dan ternyata setelah saya pulang ke Indonesia apa yang dikhawatirkan oleh Asy Syaikh Abdur Rahman benar adanya. Ketika orang yang tidak berilmu berbicara tentang agama maka dia akan sesat lagi menyesatkan.”
Bila kita cermati pernyataan di atas, ada beberapa hal yang mengganjal dalam benak.
Pertama, atas dasar apa ustadz Abdul Barr menyebut nama Luqman Ba’abduh saat ditanya siapa yang menggantikan posisi Ja’far Umar Thalib dalam dakwah? Bila seseorang ditanya, siapa salah seorang penasehat majalah Asysyariah, lantas ada yang menyebut, bahwa penasehat majalah Asysyariah adalah ustadz Luqman Ba’abduh. Tentu, itu jawaban yang bisa dipertanggungjawabkan. Orang yang menjawab tersebut punya dasar pijak yang jelas dan tidak gegabah karena berdasar hasil musyawarah pengelola majalah Asysyariah menunjuk ustadz Luqman Ba’abduh sebagai penasehat.
Kini, apa yang jadi dasar pijak ustadz Abdul Barr sehingga beliau menyebut nama Luqman Ba’abduh? Mungkinkah beliau pernah mendapat kepastian berita bahwa salafiyin Indonesia bermusyawarah dan secara sepakat mengangkat nama Luqman Ba’abduh sebagai orang yang menggantikan Ja’far Umar Thalib dalam dakwah? Ah, rasanya kemungkinan ini musykil. Orang secerdas beliau tentu tak akan mudah percaya menerima berita seperti itu. Jadi, atas dasar apa –kalau begitu– sehingga beliau menyebut nama Luqman Ba’abduh? Atau, penyebutan nama Luqman Ba’abduh itu cuma akal-akalan ustadz Abdul Barr saja? Nah, untuk menjawab hal itu tentu tidak sulit selama beliau masih memiliki niat yang baik dan bersikap jujur. Kita akan tunggu alasan apa yang mendasari penyebutan nama Luqman Ba’abduh. Tentunya, alasan yang tidak direkayasa dan diatas kejujuran.
Kenapa masalah ini diungkit? Karena beliau menyebut nama ulama dan menyangkut kehormatan dan nama baik seorang muslim. Sehingga pantas apabila pernyataan ustadz Abdul Barr tersebut harus bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan penuh kejujuran.
Kenapa masalah ini diungkit? Karena beliau menyebut nama ulama dan menyangkut kehormatan dan nama baik seorang muslim. Sehingga pantas apabila pernyataan ustadz Abdul Barr tersebut harus bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan penuh kejujuran.
Kedua, apa sebenarnya motif penyebutan kisah tersebut? Sungguh, satu hal yang sangat tidak baik apabila peristiwa itu –kalau benar-benar terjadi– dipolitisir untuk menghancurkan kehormatan seseorang. Apalagi kehormatan seseorang yang namanya dikenal para ulama sebagai da’i Ahlu Sunnah. Bukan nama yang para ulama memiliki “catatan kelam” terhadapnya. Nah, sekarang. Bagaimana jika peristiwa itu sendiri tidak diakui kebenarannya lantas beliau tetap bersikukuh menyebarkan pada khalayak ramai? Tentu, ini merupakan tindakan tidak bertanggungjawab, jauh dari nilai kejujuran dan hanya orang yang tidak berakal sehat yang akan melakukannya.
Penyebutan kisah tersebut tentu akan memberi dampak yang tidak baik bagi dakwah salafiyah. Berbeda bila nama yang disebutkan telah dinyatakan ulama sebagai orang yang bermasalah dan umat diingatkan agar berhati-hari darinya. Maka untuk kasus semacam ini, tentu sebuah keharusan menjelaskan sepak terjang orang dimaksud agar umat tidak terpengaruh oleh dakwah dan seruannya.
Ketiga, sungguh sangat disayangkan bila kisah tersebut dijajakan dalam rangka “membalas” terhadap orang yang dianggap telah menelanjangi teman seiringnya. Padahal kalau kita mau sedikit saja berlapang dada dan bersikap tawadhu, niscaya enggan untuk “membalas”. Bukankah Allah Ta’ala akan meninggikan kedudukan orang yang bersikap tawadhu?
Hanya kepada Allah Ta’ala kita memohon keselamatan dan bimbingan-Nya agar tetap kokoh dalam menaati-Nya.
Allahu a’lam.
29 Shafar 1435 H / 1 Januari 2014 M
http://dammajhabibah.net/
http://dammajhabibah.net/









