Jumat, 10 Januari 2014

Kamis, 09 Januari 2014

Senin, 06 Januari 2014

Surat dari asy-Syaikh Hani’ bin Buraik, yang telah dibaca oleh al-’Allamah asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah untuk Salafiyyin di Indonesia

Terjemah Surat dari asy-Syaikh Hani’ bin Buraik (dibaca dan dikoreksi asatidzah)

بسم الله الرحمن الرحيم
إلى إخواننا أهل السنة والجماعة في إندونيسيا
“قرأها فضيلة الشيخ العلامة ربيع بن هادي المدخلي”
نحمد الله إليكم الذي أسبغ علينا وعليكم نعمه ظاهرة وباطنة والتي أجلها نعمة الهداية للسنة والدعوة إليها في زمن كثرت فيه البدع والدعاة إليها.
وﻻشك أن الدعوة إلى السنة على منهج سلف اﻷمة الصالح والذب عن دين الله بالحكمة والموعظة الحسنة والجدال بالتي هي أحسن من أعظم أبواب الجهاد في سبيله سبحانه وتعالى جعلنا الله وإياكم على هذا النهج وثبتنا عليه حتى نلقاه.
هذا وقد جرى في سابق علمكم الخلاف في أمور دعوية بين الإخوة عندكم وكان من ذلك ما أخذ على اﻷخ ذي القرنين ورفع للمشايخ في فترة مضت ثم جرى بعد ذلك تحذير شيخنا العﻻمة ربيع بن هادي المدخلي – حفظه الله وأمتعنا والمسلمين بحياته – من اﻷخ ذي القرنين – نصحا له ورغبة في الخير له – وقد نشر عندكم على نطاق واسع فما كان من اﻷخ الفاضل ذي القرنين – حفظه الله – إﻻ أن استجاب وقام ببادرة يشكر عليها يظهر منها حرصه على لزوم السنة وجمع الكلمة مع إخوته اﻷفاضل – الذين ﻻ يظن بهم إﻻ إرادة الخير له وللدعوة – فزار شيخنا ربيعا بمكة واستمع لنصحه وتوجيهه .
وها نحن نكتب بمشورة شيخنا ووالدنا العلامة ربيع بن هادي المدخلي – حفظه الله – للإخوة جميعا في إندونيسيا وباﻷخص الإخوة اﻷفاضل المختلفين معه بأن يرحبوا بأخيهم الفاضل ذي القرنين أخا وداعية ومعلما معهم حيث التزم بالرجوع عن كل المؤاخذات التي أقر بها المشايخ وهو بذلك يضرب مثاﻻ طيبا يشكر له. ونرجو له الثبات وعدم العود لما أخذ عليه حتى ﻻ يفتح بابا للفرقة والخلاف يلج منه خصوم السنة. وعلى كل من نصح له علماء السنة أن يعود لنصحهم ويلتزم به وﻻ يكابر ويعاند.
وعلى الجميع أن يسعدوا باجتماع الكلمة ويفرحوا بها فاﻻجتماع أصل عظيم من أصول أهل السنة والجماعة. وهو عﻻمة على أن الناصح ﻻيريد بالنصح إﻻ وجه الله سبحانه وتعالى.
ونوصي الجميع بأن يتركوا أسباب الفرقة ويأخذوا بأسباب اﻹجتماع وترك التعصب للأشخاص وقبول النصح ممن جاء به وعدم التعالي عن قبول الحق .
وأن نلتزم بالرجوع لعلمائنا في أمورنا الدعوية وأﻻ ننطلق من فهمنا الخاص لمنهج السلف الصالح بل بعلم العلماء و فهمهم الصائب وحكمتهم وتجاربهم وتطبيقهم العلمي العملي لذلك المنهج الرباني العظيم الذي هو بحق وصدق يصدق عليه الوصف اﻹلاهي للرسالة المحمدية العظمى ذلك الوصف في قوله جل شأنه (وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ) تلك الرسالة التي أضاءت العالم بعد ظلمة وآنسته بعد وحشة ونشرت في أكنافه وأرجائه حقيقة التوحيد وكمال اﻹيمان والعدالة بين البشرية واﻷخوة بين المؤمنين والرحمة.
ونختم بحمد الله الذي بنعمته تتم الصالحات (قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ)
ونصلي ونسلم على من جمع الله به قلوب أهل اﻹيمان وهدى به من نزغات الشيطان وعلى آله وصحبه من صدق فيهم قوله سبحانه (وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ ۖ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ) وقوله تعالى (وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَىٰ سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ) .
كتبها هاني بن علي بن بريك
 
Terjemah
بسم الله الرحمن الرحيم
Kepada saudara-saudara kami Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Indonesia
“Surat ini telah dibaca oleh Fadhilatu asy-Syaikh al-’Allamah Rabi’ bin Hadi al-Madkhali”
Kami memuji Allah di hadapan kalian, Dia yang telah menyempurnakan kepada kami dan kepada kalian nikmat-nikmat-Nya, baik yang zhahir (tampak) maupun yang bathin (tidak tampak). Nikmat terbesar adalah nikmat Hidayah (petunjuk) kepada as-Sunnah dan Dakwah kepada sunnah tersebut, pada masa yang banyak tersebar padanya bid’ah-bid’ah dan juru dakwah kepadanya.
Tidak diragukan bahwa Dakwah kepada as-Sunnah di atas manhaj Salaful Ummah yang Shalih, dan pembelaan terhadap agama Allah (yang dilakukan) dengan hikmah, mau’izhah hasanah, dan dialog dengan cara yang lebih baik tergolong pintu jihad fi sabilillah Subhanahu wa Ta’ala yang terbesar. Semoga Allah menjadikan kami dan anda sekalian berada di atas manhaj ini, dan semoga Allah teguhkan kita semua di atas manhaj tersebut hingga kita berjumpa dengan-Nya.
Sebagaimana yang telah kalian semua ketahui  telah terjadi khilaf terkait dengan urusan dakwah antara ikhwah. Di antaranya adalah kritikan terhadap al-Akh Dzulqarnain. (Permasalahan tersebut) telah diangkat kepada masyaikh sebelum ini. Kemudian terjadilah setelah itu tahdzir Syaikhuna al-’Allamah Rabi bin Hadi al-Madkhali – semoga Allah menjaga beliau dan memberikan kenikmatan kepada kita dan muslimin dengan hidupnya beliau – terhadap al-Akh Dzulqarnain, sebagai bentuk nasehat untuknya dan harapan kebaikan untuknya. Berita tahdzir tersebut telah tersebar luas di tengah-tengah kalian.
Maka tidak ada dari al-Akh al-Fadhil Dzulqarnain kecuali dia menerima (tahdzir tersebut), dan bersegera melakukan upaya yang disyukuri atasnya, tampak darinya semangat untuk berpegang kepada as-Sunnah dan menjaga persatuan dengan saudara-saudaranya yang utama (yakni para asatidzah dan duat, pen), yangtidak ada dugaan terhadap mereka (para asatidzah dan duat yang mengkritisinya, pen) kecuali niatan yang baik untuknya (Dzulqarnain) dan untuk dakwah. Maka dia (al-Akh Dzulqarnain) pun mengunjungi Syaikhuna Rabi’ di Makkah dan mendengar nasehat dan bimbingan beliau.
Maka sekarang, setelah bermusyawarah dengan Syaikh dan Ayah kami al-’Allamah Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah, kami menulis untuk semuah ikhwah di Indonesia – dan secara khusus untuk para ikhwah yang utama (yakni para asatidzah dan duat, pen) yang berselisih dengannya (Dzulqarnain) – agar mereka menyambut saudaranya yang utama Dzulqarnain, sebagai seorang saudara, dai, dan pengajar kembali bersama mereka, karena dia konsisten untuk rujuk (bertaubat, pen) dari semua kritik terhadapnya, yang semua kritikan tersebut telah diakui oleh masyaikh. Dengan itu dia (Dzulqarnain) bisa menjadi permisalan bagus yang patut disyukuri. Kita berharap untuknya tsabat(keteguhan) dan tidak kembali lagi kepada permasalahan-permasalahan yang ia dikritik atasnya, sehingga dengan demikian tidak membuka pintu perpecahan dan perselisihan, yang bisa dimanfaatkan oleh para musuh sunnah. Kesimpulannya, barangsiapa yang telah dinasehati oleh ulama sunnah, maka hendaknya ia kembali kepada nasehat tersebut dan konsisten denganya, serta tidak menyombongkan diri dan tidak menentang.
Kepada semua pihak, hendaknya bahagia dan gembira dengan persatuan. Persatuan merupakan prinsip agung di antara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Itu merupakan tanda bahwa pemberi nasehat tidaklah meniatkan dengan nasehatnya kecuali wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kami wasiatkan kepada semua pihak untuk meninggalkan sebab-sebab khilaf, sebaliknya melakukan sebab-sebab persatuan. Tinggalkan ta’ashshub (fanatik buta) terhadap pribadi-pribadi tertentu, dan mau menerima nasehat dari siapapun yang membawa nasehat tersebut, serta jangan merasa tinggi (sombong) untuk menerima al-Haq.
Hendaknya pula kita konsisten untuk kembali kepada para ‘ulama kita dalam urusan dakwah kita,dan jangan berpijak dengan pemahaman kita sendiri terhadap manhaj salafus shalih, namun berpijak dengan ilmunya para ‘ulama dan pemahaman mereka yang benar, hikmah, pengalaman, serta penerapan ilmiah dan amaliah mereka terhadap manhaj rabbani yang agung tersebut, yang manhaj tersebut benar-benar sangat tepat untuknya penyifatan ilahi terhadap risalah Muhammadiyyah yang agung. Penyifatan tersebut terdapat dalam firman Allah Jalla sya’nuhu (Yang Maha Agung urusan-Nya)
(وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ)
“Tidaklah kami mengutusmu kecuali sebagai rahmat untuk alam semesta.” (al-Anbiya’ : 107)
Risalah tersebut, yang telah menerangi alam setelah kegelapan, yang menenangkannya setelah sebelumnya menakutkan, serta menyebarkan ke seluruh sisi dan penjurunya hakekat tauhid, kesempurnaan iman, keadilan antara manusia, ukhuwah antara mukminin, dan kasih sayang.
Kami tutup dengan pujian kepada Allah, yang dengan nikmat-nikmat-Nya sempurnalah berbagai kebaikan.
(قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ)
“Katakanlah, ‘Dengan keutamaan Allah dan dengan rahmat-Nya, maka dengan itulah hendaknya mereka bergembira. Itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan’.” Kami ucapkan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad, yang dengannya Allah menyatukan hati orang-orang yang beriman, dan dengannya Allah memberi  hidayah dari godaan-godaan syaitan, juga kepada keluarga dan para shahabatnya, yang sangat pantas untuk mereka firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
(وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ ۖ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ)
“Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai, dan mereka berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah memberi hidayah kami kepada (surga) ini, dan kami sekali-kali tidak akan mendapat hidayah (petunjuk) kalau Allah tidak memberi kami petunjuk’.”(Al-A’raf : 43)
(وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَىٰ سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ)
“Kami cabut segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (al-Hijr : 47)
Ditulis oleh Hani bin Ali bin Buraik
(Keterangan : surat ini diterima kemarin, sekitar jam 10:15 WIB. Langsung diterjemahkan dan dikoreksi terjemahnya oleh asatidzah)
—- * * * —-
Mengetahui :
- Muhammad Umar as-Sewed
- Qomar Su’aidi
- Usamah Mahri
- Ayip Syafruddin
- Luqman bin Muhammad Ba’abduh
- Asykari bin Jamal
- Muhammad as-Sarbini
- Abdush Shomad Bawazir
- Ahmad Khadim
- Afifuddin as-Sidawi
- Ruwaifi’ bin Sulaimi
download PDF

Sumber: http://dammajhabibah.net/2014/01/06/terjemah-surat-dari-asy-syaikh-hani-bin-buraik-dibaca-dan-dikoreksi-asatidzah/

Minggu, 05 Januari 2014

Menjaga Kemurnian Agama Dengan Membantah Orang-Orang Menyimpang , Ditulis Oleh : Ustadz Rismal hafizhahullah (sorowako)


Ikhwany fillah Hafizhakumullah. Sesungguhnya manhaj tahdzir dari orang-orang yang menyimpang telah diabaikan oleh sebagian orang yang mengaku mendakwahkan ilmu dan sunnah.

Bahkan salah seorang dari mereka pernah menasehati saya dengan ucapannya ''Tinggalkanlah kalam `Alar rijaal (membantah orang-orang) dan sibukkanlah kaum muslimin dengan ilmu" Apakah mereka telah melupakan bahwa membantah orang-orang yang menyimpang termasuk ilmu dan dakwah ilallah.
Tidakkah mereka mengingat ucapan Al-Imam Ahmad Rahimahullah ketika Muhammad bin bundar Al-Jurjany berkata kepadanya :
"Sesungguhnya berat bagiku untuk berkata 'si fulan begini dan si fulan begitu!' Beliau menjawab"Jika engkau diam dan saya diam, maka kapan orang yang jahil mengetahui yang shohih dari yang saqiim (lemah/salah)?
(Majmu' Al-Fatawa 28/231, Syarh 'Ilal At-Tirmidzi 1/350, dengan perantaraan kitab Al-Ajwibah Al-Mufidah hal.31 cet.Dar Al-Minhaj catatan kaki no.31).
  
Al -Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah berkata :
"Ketahuilah bahwa menyebutkan seseorang dengan sesuatu yang tidak disenanginya adalah diharamkan, jika maksud penyebutan tersebut semata-mata celaan,aib,kekurangan.
Adapun jika didalamnya terdapat maslahat bagi kaum muslimin secara umum, atau khusus untuk sebagian dari mereka, dan maksud penyebutan tersebut dalam rangka tercapainya maslahat tadi, maka hal tersebut tidaklah diharamkan bahkan dianjurkan.
Sungguh para ulama hadits telah menetapkan masalah ini di dalam kitab-kitab mereka dalam masalah al-jarh wa at-ta'dil, dan mereka menyebutkan perbedaan antara menjarah seorang rawi dan ghibah, dan mereka membantah orang yang menyamakan kedua hal tersebut dari kalangan ahlul bid'ah dan selain mereka dari kalangan orang-orang tidak luas keilmuannya.
Tidak ada perbedaan antara mengkritik para perawi lafazh-lafazh hadits, membedakan antara orang yang diterima periwayatan dari mereka dan yang tidak diterima, (tidak ada perbedaan) dengan menjelaskan kesalahan orang yang salah dalam memahami makna-makna Al-Quran dan As-Sunnah, mentakwil (menafsirkan) sesuatu darinya tidak di atas penakwilan (yang sebenar)nya, berpegang teguh dengan sesuatu yang tidak bisa dipegang teguh dengannya, dalam rangka agar tidak diikuti pada apa yang dia salah di dalamnya. Sungguh para ulama juga telah bersepakat akan bolehnya hal tersebut.

Oleh karena itulah engkau menjumpai dalam kitab-kitab karangan mereka di berbagai jenis ilmu syar'i berupa tafsir, syarah-syarah hadits, fikih, perbedaan para ulama dan selainnya, dipenuhi dengan perdebatan-perdebatan (ilmiah) dan mereka membantah pendapat-pendapat dari orang-orang yang lemah pendapat-pendapatnya dari para imam-imam salaf dan khalaf dari kalangan sahabat, tabi'in, dan selain mereka, dan tidak seorangpun dari para ulama yang meninggalkan hal tersebut, dan tidak seorangpun yang mengklaim bahwa hal itu merupakan tikaman terhadap orang yang dibantah pendapatnya, tidak pula celaan dan kekurangan (aib).... kecuali jika si penulis (orang yang mengkritik)  termasuk orang yang berkata-kata kotor/keji, beradab jelek dalam ungkapan, maka diingkari kekejian dan kejelekannya, bukan asal bantahan dan penyelisihannya, dalam rangka menegakkan hujjah-hujjah syar'i dan dalil-dalil mu'tabaroh.
Sebab hal tersebut adalah para ulama seluruhnya bersepakat di atas maksud untuk menampakkan kebenaran yang dengannya Allah mengutus rasul-Nya Shallallahu Alaihi Wasallam, agar agama seluruhnya hanya milik Allah, dan agar kalimat-Nyalah yang paling tinggi."
(Al-Mahajjah Al-Baidha' karya Asy-Syaikh Robi' hal.53-53, cet.Darul Minhaj).

Bahkan para ulama salaf memandang bahwa membantah ahlul bidah lebih utama daripada berpuasa, sholat, dan i'tikaf.
Ditanyakan kepada Al-Imam Ahmad Rahimahullah :"Seseorang yang melaksanakan puasa, sholat, l'tikaf, apakah lebih engkau sukai ataukah seseorang yang berbicara (membantah) ahli bid'ah?" Maka beliau Rahimahullah menjawab :"Jika dia melaksanakan puasa, sholat, dan i'tikaf, maka itu untuk dirinya sendiri, sedangkan jika dia berbicara (membantah) ahli bid'ah maka itu untuk kaum muslimin, dan ini lebih utama." (Majmu' Al-fatawa 28/231, dengan perantaraan kitab Al-Ajwibah Al-Mufidah hal.31 cet.Dar Al-Minhaj, catatan kaki no.22).
Bahkan walapun orang tersebut terkenal sebagai orang yang berilmu dan memiliki bantahan kepada sebagian ahlul bid'ah, maka hal itu tidak menghalangi untuk membantah kesalahan dan kesesatannya.  Simaklah ucapan Al-Imam Ahmad Rahimahullah berkaitan dengan Husain Al-Karobiisy :"Berhati-hatilah engkau, berhati-hatilah engkau dari Husain Al-Karobiisy! Jangan engkau berbicara dengannya, jangan engkau berbicara dengan orang yang berbicara denganya" Beliau mengucapkannya 4 atau 5 kali. Dalam tempat yang lain beliau berkata bahwa dia (Al-Karobiisy) adalah mubtadi'. (Lihat kitab Al-Ajwibah Al-mufidah hal.31, catatan kaki no.22.
Tahukah anda siapakah Husain Al-Karobiisy itu? Dia adalah orang yang berilmu dan memiliki bantahan kepada ahlul bid'ah, tetapi dia terjatuh dalam masalah al-lafzhu bil Quran.
Demikian pula Al-Imam Abu Zur'ah Rahimahullah ketika ditanya tentang Al-Harits Al-Muhasiby dan kitab-kitabnya, beliau berkata :"Hati-hatilah engkau dari kitab-kitab ini, ini adalah kitab-kitab bid'ah dan kesesatan, dan hendaknya engkau berpegangteguh dengam atsar." Tahukah siapa Al-Harits Al-Muhasiby itu? Dia termasuk orang yang berilmu tetapi terjatuh dalam sebagian ilmu kalam/filsafat dan membantah ahlul kalam dengan ilmu kalam dan tidak membantah dengan sunnah. Wallahu A'lam.
Sumber : Forum TIS (Thalab Ilmu Syar'i)

Sabtu, 04 Januari 2014