Minggu, 10 Januari 2016

KLARIFIKASI USTADZ LUQMAN BA'ABDUH TENTANG PERNYATAAN ASY-SYAIKH ABDULLAH BIN SHALFIQ hafizhahullah


Telah beredar sebuah rekaman audio (juga video) yang diberi judul "Pujian asy-Syaikh Abdullah bin Shalfiq terhadap Luqman Ba'abduh".

Maka dengan ini perlu saya — Luqman bin Muhammad Ba'abduh — menegaskan,

1. Hingga tulisan ini dibuat,  saya belum mendengarkan langsung isi audio atau video tersebut, tidak pula membaca transkrip atau terjemahannya. Hanya saja banyak pihak yang menyampaikan kepada saya tentang isinya secara global via telepon.

2. Tidak tenang hati saya sekaligus tidak ridha dengan beredarnya rekaman dan keberadaan pujian tersebut. Karena tazkiyah yang hakiki untuk seseorang hanyalah dari Allah Ta'ala, kemudian amalan, aqidah,  dan manhajnya.

3. Dalam penjelasannya, asy-Syaikh Abdullah bin Shalfiq hafizhahullah menyebutkan bahwa saya, Luqman Ba'abduh, pernah belajar kepada asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan.

 Maka saya tegaskan,  bahwa SAYA,  LUQMAN BA'ABDUH, BELUM PERNAH BELAJAR SECARA LANGSUNG KEPADA FADHILAH ASY-SYAIKH AL-'ALLAMAH SHALIH AL-FAUZAN hafizhahullah.
Walaupun tentu saya sangat berharap bisa belajar langsung kepada beliau.

4. Adapun pernyataan asy-Syaikh Abdullah bin Shalfiq tersebut sangat besar kemungkinannya adalah karena SALAH UCAP DARI BELIAU yang tidak beliau sengaja.

5. Bersama dengan surat Klarifikasi ini,  saya meminta kepada ikhwah yang dekat dengan Asy-Syaikh Abdullah bin Shalfiq hafizhahullah untuk segera mengabarkan hal ini kepada beliau. Agar kesalahan tak sengaja ini tidak terus berlanjut.

6 Klarifikasi ini sengaja saya sampaikan karena :

★ Kekhawatiran yang sangat besar pada diri saya dari sikap senang dan ridho dengan berbagai pujian dan sanjungan manusia.
★ Untuk menepis penilaian-penilaian negatif dari orang-orang yang suka memancing di air keruh terhadap Syaikhuna 'Abdullah bin Shalfiq hafizhahullah akibat sabqul lisan (ketergelinciran kata) yang beredar.

7. Terkait orang yang bertanya di rekaman tersebut,  saya tidak mengenal secara pasti siapa dia dan tidak tahu secara pasti apa tujuan sebenarnya (yang hakiki) di balik pertanyaan itu.

8. Besar harapan saya kepada ikhwah salafiyin untuk TIDAK TERUS MENYEBARKAN rekaman suara beliau yang berisi pujian tersebut,  begitu pula transkrip dan terjemahannya, melalui media apapun. Karena alasan-alasan di atas.

اللهم اجعلني خيرا مما يظنون واغفر لي فيما لا يعلمون

Ya Allah jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangka (tentang diriku), dan ampunilah aku (dari dosa-dosa) yang tidak mereka ketahui.

Semoga Allah mengokohkan saya di atas manhaj as-Salafy.

ditulis oleh Luqman bin Muhammad Ba'abduh
30 Rabiul Awal 1437 H - 11 Januari 2016 M

••••••••••••••••

Majmu'ah Manhajul Anbiya
Channel Telegram https://bit.ly/ManhajulAnbiya

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Telah beredar sebuah rekaman audio (juga video) yang diberi judul "Pujian asy-Syaikh Abdullah bin Shalfiq terhadap Luqman Ba'abduh".

Maka dengan ini perlu saya — Luqman bin Muhammad Ba'abduh — menegaskan,

1. Hingga tulisan ini dibuat,  saya belum mendengarkan langsung isi audio atau video tersebut, tidak pula membaca transkrip atau terjemahannya. Hanya saja banyak pihak yang menyampaikan kepada saya tentang isinya secara global via telepon.

2. Tidak tenang hati saya sekaligus tidak ridha dengan beredarnya rekaman dan keberadaan pujian tersebut. Karena tazkiyah yang hakiki untuk seseorang hanyalah dari Allah Ta'ala, kemudian amalan, aqidah,  dan manhajnya.

3. Dalam penjelasannya, asy-Syaikh Abdullah bin Shalfiq hafizhahullah menyebutkan bahwa saya, Luqman Ba'abduh, pernah belajar kepada asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan.

 Maka saya tegaskan,  bahwa SAYA,  LUQMAN BA'ABDUH, BELUM PERNAH BELAJAR SECARA LANGSUNG KEPADA FADHILAH ASY-SYAIKH AL-'ALLAMAH SHALIH AL-FAUZAN hafizhahullah.
Walaupun tentu saya sangat berharap bisa belajar langsung kepada beliau.

4. Adapun pernyataan asy-Syaikh Abdullah bin Shalfiq tersebut sangat besar kemungkinannya adalah karena SALAH UCAP DARI BELIAU yang tidak beliau sengaja.

5. Bersama dengan surat Klarifikasi ini,  saya meminta kepada ikhwah yang dekat dengan Asy-Syaikh Abdullah bin Shalfiq hafizhahullah untuk segera mengabarkan hal ini kepada beliau. Agar kesalahan tak sengaja ini tidak terus berlanjut.

6 Klarifikasi ini sengaja saya sampaikan karena :

★ Kekhawatiran yang sangat besar pada diri saya dari sikap senang dan ridho dengan berbagai pujian dan sanjungan manusia.
★ Untuk menepis penilaian-penilaian negatif dari orang-orang yang suka memancing di air keruh terhadap Syaikhuna 'Abdullah bin Shalfiq hafizhahullah akibat sabqul lisan (ketergelinciran kata) yang beredar.

7. Terkait orang yang bertanya di rekaman tersebut,  saya tidak mengenal secara pasti siapa dia dan tidak tahu secara pasti apa tujuan sebenarnya (yang hakiki) di balik pertanyaan itu.

8. Besar harapan saya kepada ikhwah salafiyin untuk TIDAK TERUS MENYEBARKAN rekaman suara beliau yang berisi pujian tersebut,  begitu pula transkrip dan terjemahannya, melalui media apapun. Karena alasan-alasan di atas.

اللهم اجعلني خيرا مما يظنون واغفر لي فيما لا يعلمون

Ya Allah jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangka (tentang diriku), dan ampunilah aku (dari dosa-dosa) yang tidak mereka ketahui.

Semoga Allah mengokohkan saya di atas manhaj as-Salafy.

ditulis oleh Luqman bin Muhammad Ba'abduh
30 Rabiul Awal 1437 H - 11 Januari 2016 M

••••••••••••••••

Majmu'ah Manhajul Anbiya
Channel Telegram https://bit.ly/ManhajulAnbiya

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Sabtu, 09 Januari 2016

Kelompok Hizbut Tahrir dan Khilafah, Sorotan Ilmiah Tentang Selubung Sesat Suatu Gerakan



(ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Lc.)

Bagi orang yang tidak mengenal secara mendalam tentang kelompok Hizbut Tahrir, tentu akan menganggap tujuan mereka yang ingin mendirikan Khilafah Islamiyyah sebagai cita-cita mulia. Namun bila mengkaji lebih jauh siapa mereka, siapa pendirinya, bagaimana asas perjuangannya dan sebagainya, kita akan tahu bahwa klaim mereka ingin mendirikan Khilafah Islamiyyah ternyata tidak dilakukan dengan cara-cara yang Islami.

Apa Itu Hizbut Tahrir?

Hizbut Tahrir (untuk selanjutnya disebut HT) telah memproklamirkan diri sebagai kelompok politik (parpol), bukan kelompok yang berdasarkan kerohanian semata, bukan lembaga ilmiah, bukan lembaga pendidikan (akademis) dan bukan pula lembaga sosial (Mengenal HT, hal. 1). Atas dasar itulah, maka seluruh aktivitas yang dilakukan HT bersifat politik, baik dalam mendidik dan membina umat, dalam aspek pergolakan pemikiran dan dalam perjuangan politik. (Mengenal HT, hal. 16)

Adapun aktivitas dakwah kepada tauhid dan akhlak mulia, sangatlah mereka abaikan. Bahkan dengan terang-terangan mereka nyatakan: “Demikian pula, dakwah kepada akhlak mulia tidak dapat menghasilkan kebangkitan…, dakwah kepada akhlak mulia bukan dakwah (yang dapat) menyelesaikan problematika utama kaum muslimin, yaitu menegakkan sistem khilafah.”(Strategi Dakwah HT, hal. 40-41).

Padahal dakwah kepada tauhid dan akhlak mulia merupakan misi utama para nabi dan rasul.

Allah Subhanahu wa Ta’alamenegaskan:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Beribadahlah hanya kepada Allah dan jauhilah segala sesembahan selain-Nya’.” (An-Nahl: 36)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menegaskan:

“Aku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan akhlak yang bagus.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, Ahmad, dan Al-Hakim. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 45)

Tujuan dan Latar Belakang

Mewujudkan kembali Daulah Khilafah Islamiyyah di muka bumi, merupakan tujuan utama yang melatarbelakangi berdirinya HT dan segala aktivitasnya. Yang dimaksud khilafah adalah kepemimpinan umat dalam suatu Daulah Islam yang universal di muka bumi ini, dengan dipimpin seorang pemimpin tunggal (khalifah) yang dibai’at oleh umat. (Lihat Mengenal HT, hal. 2, 54 )

Para pembaca, tahukah anda apa yang melandasi HT untuk mewujudkan Daulah Khilafah Islamiyyah di muka bumi? Landasannya adalah bahwa semua negeri kaum muslimin dewasa ini –tanpa kecuali– termasuk kategori Darul Kufur (negeri kafir), sekalipun penduduknya kaum muslimin. Karena dalam kamus HT, yang dimaksud Darul Islam adalah daerah yang di dalamnya diterapkan sistem hukum Islam dalam seluruh aspek kehidupan termasuk dalam urusan pemerintahan, dan keamanannya berada di tangan kaum muslimin, sekalipun mayoritas penduduknya bukan muslim. Sedangkan Darul Kufur adalah daerah yang di dalamnya diterapkan sistem hukum kufur dalam seluruh aspek kehidupan, atau keamanannya bukan di tangan kaum muslimin, sekalipun seluruh penduduknya adalah muslim. (Lihat Mengenal HT, hal. 79)

Padahal tolok ukur suatu negeri adalah keadaan penduduknya, bukan sistem hukum yang diterapkan dan bukan pula sistem keamanan yang mendominasi.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Keberadaan suatu bumi (negeri) sebagai Darul Kufur, Darul Iman, atau Darul Fasiqin, bukanlah sifat yang kontinu (terus-menerus/langgeng) bagi negeri tersebut, namun hal itu sesuai dengan keadaan penduduknya. Setiap negeri yang penduduknya adalah orang-orang mukmin lagi bertakwa maka ketika itu ia sebagai negeri wali-wali Allah. Setiap negeri yang penduduknya orang-orang kafir maka ketika itu ia sebagai Darul Kufur, dan setiap negeri yang penduduknya orang-orang fasiq maka ketika itu ia sebagai Darul Fusuq. Jika penduduknya tidak seperti yang kami sebutkan dan berganti dengan selain mereka, maka ia disesuaikan dengan keadaan penduduknya tersebut.” (Majmu’ Fatawa, 18/282)

Para pembaca, mengapa –menurut HT– harus satu khilafah? Jawabannya adalah, karena seluruh sistem pemerintahan yang ada dewasa ini tidak sah dan bukan sistem Islam. Baik itu sistem kerajaan, republik presidentil (dipimpin presiden) ataupun republik parlementer (dipimpin perdana menteri). Sehingga merupakan suatu kewajiban menjadikan Daulah Islam hanya satu negara (khilafah), bukan negara serikat yang terdiri dari banyak negara bagian. (Lihat Mengenal HT, hal. 49-55)

Ahlus Sunnah Wal Jamaah berkeyakinan bahwa pada asalnya Daulah Islam hanya satu negara (khilafah) dan satu khalifah. Namun, jika tidak memungkinkan maka tidak mengapa berbilangnya kekuasaan dan pimpinan. Al-’Allamah Ibnul Azraq Al-Maliki, Qadhi Al-Quds (di masanya) berkata: “Sesungguhnya persyaratan bahwa kaum muslimin (di dunia ini) harus dipimpin oleh seorang pemimpin semata, bukanlah suatu keharusan bila memang tidak memungkinkan.” (Mu’amalatul Hukkam, hal. 37)

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata: “Para imam dari setiap madzhab bersepakat bahwa seseorang yang berhasil menguasai sebuah negeri atau beberapa negeri maka posisinya seperti imam (khalifah) dalam segala hal. Kalaulah tidak demikian maka (urusan) dunia ini tidak akan tegak, karena kaum muslimin sejak kurun waktu yang lama sebelum Al-Imam Ahmad sampai hari ini, tidak berada di bawah kepemimpinan seorang pemimpin semata.” (Mu’amalatul Hukkam, hal. 34)

Al-Imam Asy-Syaukani berkata:“Adapun setelah tersebarnya Islam dan semakin luas wilayahnya serta perbatasan-perbatasannya berjauhan, maka dimaklumilah bahwa kekuasaan di masing-masing daerah itu di bawah seorang imam atau penguasa yang menguasainya, demikian pula halnya daerah yang lain. Perintah dan larangan sebagian penguasapun tidak berlaku pada daerah kekuasaan penguasa yang lainnya. Oleh karenanya (dalam kondisi seperti itu -pen) tidak mengapa berbilangnya pimpinan dan penguasa bagi kaum muslimin (di daerah kekuasaan masing-masing -pen). Dan wajib bagi penduduk negeri yang terlaksana padanya perintah dan larangan (aturan -pen) pimpinan tersebut untuk menaatinya.” (As-Sailul Jarrar, 4/512)

Demikian pula yang dijelaskan Al-Imam Ash-Shan’ani, sebagaimana dalam Subulus Salam (3/347), cet. Darul Hadits.

Kapan HT Didirikan?

Kelompok sempalan ini didirikan di kota Al-Quds (Yerusalem) pada tahun 1372 H (1953 M) oleh seorang alumnus Universitas Al-Azhar Kairo (Mesir) yang berakidah Maturidiyyah1 dalam masalah asma` dan sifat Allah, dan berpandangan Mu’tazilah dalam sekian permasalahan agama. Dia adalah Taqiyuddin An-Nabhani, warga Palestina yang dilahirkan di Ijzim Qadha Haifa pada tahun 1909. Markas tertua mereka berada di Yordania, Syiria dan Lebanon (Lihat Mengenal HT, hal. 22, Al-Mausu’ah Al-Muyassarah, hal. 135, dan Membongkar Selubung Hizbut Tahrir (1) hal. 2, Asy-Syaikh Abdurrahman Ad-Dimasyqi). Bila demikian akidah dan pandangan keagamaan pendirinya, lalu bagaimana keadaan HT itu sendiri?! Wallahul musta’an.

Landasan Berpikir Hizbut Tahrir

Landasan berpikir HT adalah Al Qur‘an dan As Sunnah, namun dengan pemahaman kelompok sesat Mu’tazilah bukan dengan pemahaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Mengedepankan akal dalam memahami agama dan menolak hadits ahad dalam masalah akidah merupakan ciri khas keagamaan mereka. Oleh karena itu tidaklah berlebihan bila ahli hadits zaman ini, Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah, menjuluki mereka dengan Al-Mu’tazilah Al-Judud (Mu’tazilah Gaya Baru).

Padahal jauh-jauh hari, shahabat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu telah berkata: “Kalaulah agama ini tolok ukurnya adalah akal, niscaya bagian bawah khuf lebih pantas untuk diusap daripada bagian atasnya.”2 (HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya no. 162, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani)

Demikian pula menolak hadits ahad dalam masalah akidah, berarti telah menolak sekian banyak akidah Islam yang telah ditetapkan oleh ulama kaum muslimin. Di antaranya adalah: Keistimewaan Nabi MuhammadShallallahu ‘alaihi wa sallam atas para nabi, syafaat RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam untuk umat manusia dan untuk para pelaku dosa besar dari umatnya di hari kiamat, adanya siksa kubur, adanya jembatan (ash-shirath), telaga dan timbangan amal di hari kiamat, munculnya Dajjal, munculnya Al-Imam Mahdi, turunnya Nabi ‘Isa ‘alaihi sallam di akhir zaman, dan lain sebagainya.

Adapun dalam masalah fiqih, akal dan rasiolah yang menjadi landasan. Maka dari itu HT mempunyai sekian banyak fatwa nyeleneh. Di antaranya adalah: boleh mencium wanita non muslim, boleh melihat gambar porno, boleh berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram, boleh bagi wanita menjadi anggota dewan syura mereka, boleh mengeluarkan jizyah (upeti) untuk negeri kafir, dan lain sebagainya. (Al-Mausu’ah Al-Muyassarah, hal. 139-140)

Langkah Operasional untuk Meraih Khilafah

Bagi HT, khilafah adalah segala-galanya. Untuk meraih khilafah tersebut, HT menetapkan tiga langkah operasional berikut ini:

1. Mendirikan Partai Politik

Dengan merujuk Surat Ali ‘Imran ayat 104, HT berkeyakinan wajibnya mendirikan partai politik. Untuk mendirikannya maka harus ditempuh tahapan pembinaan dan pengkaderan (Marhalah At-Tatsqif) (Lihat Mengenal HT hal. 3). Pada tahapan ini perhatian HT tidaklah dipusatkan kepada pembinaan tauhid dan akhlak mulia. Akan tetapi mereka memusatkannya kepada pembinaan kerangka Hizb (partai), memperbanyak pendukung dan pengikut, serta membina para pengikutnya dalam halaqah-halaqah dengan tsaqafah (materi pembinaan) Hizb secara intensif, hingga akhirnya berhasil membentuk partai. (Lihat Mengenal HT hal. 22, 23)

Adapun pendalilan mereka dengan Surat Ali ‘Imran ayat 104 tentang wajibnya mendirikan partai politik, maka merupakan pendalilan yang jauh dari kebenaran. Adakah di antara para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para tabi’in, para tabi’ut tabi’in dan para imam setelah mereka yang berpendapat demikian?! Kalaulah itu benar, pasti mereka telah mengatakannya dan saling berlomba untuk mendirikan parpol! Namun kenyataannya mereka tidak seperti itu. Apakah HT lebih mengerti tentang ayat tersebut dari mereka?!

Cukup menunjukkan batilnya pendalilan ini adalah bahwa parpol terbangun di atas asas demokrasi, yang amat bertolak belakang dengan Islam. Bagaimana ayat ini dipakai untuk melegitimasi sesuatu yang bertolak belakang dengan makna yang dikandung ayat? Wallahu a’lam.

2. Berinteraksi dengan Umat (Masyarakat)

Berinteraksi dengan umat (Tafa’ul Ma’al Ummah) merupakan tahapan yang harus ditempuh setelah berdirinya partai politik dan berhasil dalam tahapan pembinaan dan pengkaderan. Pada tahapan ini, sasaran interaksinya ada empat:

– Pertama: Pengikut Hizb, dengan mengadakan pembinaan intensif agar mampu mengemban dakwah, mengarungi medan kehidupan dengan pergolakan pemikiran dan perjuangan politik (Lihat Mengenal HT, hal. 24). Pembinaan intensif di sini tidak lain adalah doktrin ‘ashabiyyah (fanatisme) dan loyalitas terhadap HT.

-Kedua: Masyarakat, dengan mengadakan pembinaan kolektif/umum yang disampaikan kepada umat Islam secara umum, berupa ide-ide dan hukum-hukum Islam yang diadopsi oleh Hizb. Dan menyerang sekuat-kuatnya seluruh bentuk interaksi antar anggota masyarakat, tak luput pula interaksi antara masyarakat dengan penguasanya. Taqiyuddin An-Nabhani berkata: “Oleh karena itu, menyerang seluruh bentuk interaksi yang berlangsung antar sesama anggota masyarakat dalam rangka mempengaruhi masyarakat tidaklah cukup, kecuali dengan menyerang seluruh bentuk interaksi yang berlangsung antara penguasa dengan rakyatnya dan harus digoyang dengan kekuatan penuh, dengan cara diserang sekuat-kuatnya dengan penuh keberanian.” (Lihat Mengenal HT, hal. 24, Terjun ke Masyarakat, hal. 7)

Betapa ironisnya, RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallammemerintahkan kita agar menjadi masyarakat yang bersaudara dan taat kepada penguasa, sementara HT justru sebaliknya. Mereka memecah belah umat dan memporakporandakan kekuatannya. Lebih parah lagi, bila hal itu dijadikan tolok ukur keberhasilan suatu gerakan sebagaimana yang dinyatakan pendiri mereka: “Keberhasilan gerakan diukur dengan kemampuannya untuk membangkitkan rasa ketidakpuasan (kemarahan) rakyat, dan kemampuannya untuk mendorong mereka menampakkan kemarahannya itu setiap kali mereka melihat penguasa atau rezim yang ada menyinggung ideologi, atau mempermainkan ideologi itu sesuai dengan kepentingan dan hawa nafsu penguasa.” (Pembentukan Partai Politik Islam, hal. 35-36)

– Ketiga: Negara-negara kafir imperialis yang menguasai dan mendominasi negeri-negeri Islam, dengan berjuang menghadapi segala bentuk makar mereka (Lihat Mengenal HT, hal. 25).

Demikianlah yang mereka munculkan. Namun kenyataannya, di dalam upaya penggulingan para penguasa kaum muslimin, tak segan-segan mereka meminta bantuan kepada orang-orang kafir dan meminta perlindungan dari negara-negara kafir. (Lihat Membongkar Selubung Hizbut Tahrir (1) hal. 5)

– Keempat: Para penguasa di negeri-negeri Arab dan negeri-negeri Islam lainnya, dengan menyerang seluruh bentuk interaksi yang berlangsung antara penguasa dengan rakyatnya dan harus digoyang dengan kekuatan penuh, dengan cara diserang sekuat-kuatnya dengan penuh keberanian. Menentang mereka, mengungkapkan pengkhianatan, dan persekongkolan mereka terhadap umat, melancarkan kritik, kontrol, dan koreksi terhadap mereka serta berusaha menggantinya apabila hak-hak umat dilanggar atau tidak menjalankan kewajibannya terhadap umat, yaitu bila melalaikan salah satu urusan umat, atau mereka menyalahi hukum-hukum islam. (Terjun Ke Masyarakat, hal. 7, Mengenal HT, hal. 16,17).

Para pembaca, inilah hakikat manhaj Khawarij yang diperingatkan RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidakkah diketahui bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjuluki mereka dengan “Sejahat-jahat makhluk” dan “Anjing-anjing penduduk neraka”! Semakin parah lagi di saat mereka tambah berkomentar: “Bahkan inilah bagian terpenting dalam aktivitas amar ma’ruf nahi munkar.” (Mengenal HT, hal. 3)

Tidakkah mereka merenungkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Akan ada sepeninggalku para penguasa yang mereka itu tidak berpegang dengan petunjukku dan tidak mengikuti cara/jalanku. Dan akan ada di antara para penguasa tersebut orang-orang yang berhati setan dalam bentuk manusia.” Hudzaifah berkata: “Apa yang kuperbuat bila aku mendapatinya?” Rasulullah bersabda (artinya): “Hendaknya engkau mendengar dan menaati penguasa tersebut! Walaupun dicambuk punggungmu dan dirampas hartamu maka (tetap) dengarkanlah (perintahnya) dan taatilah (dia).” (HR. Muslim dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yamanradhiyallahu ‘anhu, 3/1476, no. 1847)?!

Demikian pula, tidakkah mereka renungkan sabda RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa ingin menasehati penguasa tentang suatu perkara, maka janganlah secara terang-terangan. Sampaikanlah kepadanya secara pribadi, jika ia menerima nasehat tersebut maka itulah yang diharapkan. Namun jika tidak menerimanya maka berarti ia telah menunaikan kewajibannya (nasehatnya).” (HR. Ahmad dan Ibnu Abi ‘Ashim, dari shahabat ‘Iyadh bin Ghunmin radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah, hadits no. 1096)?!

Namun sangat disayangkan, HT tetap menunjukkan sikap kepala batunya, sebagaimana yang mereka nyatakan: “Sikap HT dalam menentang para penguasa adalah menyampaikan pendapatnya secara terang-terangan, menyerang dan menentang. Tidak dengan cara nifaq (berpura-pura), menjilat, bermanis muka dengan mereka, simpang siur ataupun berbelok-belok, dan tidak pula dengan cara mengutamakan jalan yang lebih selamat. Hizb juga berjuang secara politik tanpa melihat lagi hasil yang akan dicapai dan tidak terpengaruh oleh kondisi yang ada.” (Mengenal HT, hal. 26-27)

Mereka gembar-gemborkan slogan “Jihad yang paling utama adalah mengucapkan kata-kata haq di hadapan penguasa yang zalim.” Namun sayang sekali mereka tidak bisa memahaminya dengan baik. Buktinya, mereka mencerca para penguasa di mimbar-mimbar dan tulisan-tulisan. Padahal kandungan kata-kata tersebut adalah menyampaikan nasehat “di hadapan” sang penguasa, bukan di mimbar-mimbar dan lain sebagainya. Tidakkah mereka mengamalkan wasiat RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan shahabat ‘Iyadh bin Ghunmin di atas?! Dan jangan terkecoh dengan ucapan mereka, “Meskipun demikian, Hizb telah membatasi aktivitasnya dalam aspek politik tanpa menempuh cara-cara kekerasan (perjuangan bersenjata) dalam menentang para penguasa maupun orang-orang yang menghalangi dakwahnya.” (Mengenal HT, hal. 28).

Karena mereka pun akan menempuh cara tersebut pada tahapannya (tahapan akhir).

3. Pengambilalihan Kekuasaan (Istilaamul Hukmi)

Tahapan ini merupakan puncak dan tujuan akhir dari segala aktivitas HT. Dengan tegasnya Taqiyuddin An-Nabhani menyatakan: “Hanya saja setiap orang maupun syabab (pemuda) Hizb harus mengetahui, bahwasanya Hizb bertujuan untuk mengambil alih kekuasaan secara praktis dari tangan seluruh kelompok yang berkuasa, bukan dari tangan para penguasa yang ada sekarang saja. Hizb bertujuan untuk mengambil kekuasaan yang ada dalam negara dengan menyerang seluruh bentuk interaksi penguasa dengan umat, kemudian dijadikannya kekuasaan tadi sebagai Daulah Islamiyyah.” (Terjun ke Masyarakat, hal. 22-23)

Dalam tahapan ini, ada dua cara yang harus ditempuh:

1) Apabila negara itu termasuk kategori Darul Islam, di mana sistem hukum Islam ditegakkan, tetapi penguasanya menerapkan hukum-hukum kufur, maka caranya adalah melawan penguasa tersebut dengan mengangkat senjata.

2) Apabila negara itu termasuk kategori Darul Kufur, di mana sistem hukum Islam tidak diterapkan, maka caranya adalah dengan Thalabun Nushrah (meminta bantuan) kepada mereka yang memiliki kemampuan (kekuatan). (Lihat Strategi Dakwah HT, hal. 38, 39, 72)

Subhanallah! Lagi-lagi prinsip Khawarij si “Sejahat-jahat makhluk” dan “Anjing-anjing penduduk neraka” yang mereka tempuh. Wahai HT, ambillah pelajaran dari perkataan Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahberikut ini: “Bahwasanya NabiShallallahu ‘alaihi wa sallammensyariatkan kepada umatnya kewajiban mengingkari kemungkaran agar terwujud melalui pengingkaran tersebut suatu kebaikan (ma’ruf) yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’aladan Rasul-Nya. Jika ingkarul mungkar mengakibatkan terjadinya kemungkaran yang lebih besar darinya dan lebih dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, maka tidak boleh dilakukan walaupun AllahSubhanahu wa Ta’ala membenci kemungkaran tersebut dan pelakunya. Hal ini seperti pengingkaran terhadap para raja dan penguasa dengan cara memberontak, sungguh yang demikian itu adalah sumber segala kejahatan dan fitnah hingga akhir masa… Dan barangsiapa merenungkan apa yang terjadi pada (umat) Islam dalam berbagai fitnah yang besar maupun yang kecil, niscaya akan melihat bahwa penyebabnya adalah mengabaikan prinsip ini dan tidak sabar atas kemungkaran, sehingga berusaha untuk menghilangkannya namun akhirnya justru muncul kemungkaran yang lebih besar darinya.” (I’lamul Muwaqqi’in, 3/6)

Mungkin HT berdalih bahwa semua penguasa itu kafir, karena menerapkan hukum selain hukum Allah. Kita katakan bahwa tidaklah semua yang berhukum dengan selain hukum Allah itu kafir. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Bazrahimahullah: “Barangsiapa berhukum dengan selain hukum Allah, maka tidak keluar dari empat keadaan:

1. Seseorang yang mengatakan: “Aku berhukum dengan hukum ini, karena ia lebih utama dari syariat Islam”, maka dia kafir dengan kekafiran yang besar.

2. Seseorang yang mengatakan: “Aku berhukum dengan hukum ini, karena ia sama/sederajat dengan syariat Islam, sehingga boleh berhukum dengannya dan boleh juga berhukum dengan syariat Islam,” maka dia kafir dengan kekafiran yang besar.

3. Seseorang yang mengatakan: “Aku berhukum dengan hukum ini dan berhukum dengan syariat Islam lebih utama, akan tetapi boleh-boleh saja untuk berhukum dengan selain hukum Allah,” maka ia kafir dengan kekafiran yang besar.

4. Seseorang yang mengatakan: “ Aku berhukum dengan hukum ini,” namun dia dalam keadaan yakin bahwa berhukum dengan selain hukum Allah tidak diperbolehkan. Dia juga mengatakan bahwasanya berhukum dengan syariat Islam lebih utama dan tidak boleh berhukum dengan selainnya, tetapi dia seorang yang bermudah-mudahan (dalam masalah ini), atau dia kerjakan karena perintah dari atasannya, maka dia kafir dengan kekafiran yang kecil, yang tidak mengeluarkannya dari keislaman, dan teranggap sebagai dosa besar. (At-Tahdzir Minattasarru’ Fittakfir, Muhammad Al-’Uraini hal. 21-22)

Demikian pula, kalaulah sang penguasa itu terbukti melakukan kekufuran, maka yang harus ditempuh terlebih dahulu adalah penegakan hujjah dan nasehat kepadanya, bukan pemberontakan.

Adapun dalih mereka dengan hadits Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu:
Lalu dikatakan kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah! Bolehkah kami memerangi mereka dengan pedang (membe-rontak)?” Beliau bersabda: “Jangan, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian!” (HR. Muslim, 3/1481, no. 1855)

bahwa “mendirikan shalat di tengah-tengah kalian” adalah kinayah dari menegakkan hukum-hukum Islam secara keseluruhan, sehingga –menurut HT– walaupun seorang penguasa mendirikan shalat namun dinilai belum menegakkan hukum-hukum Islam secara keseluruhan, maka dianggap kafir dan boleh untuk digulingkan! Ini adalah pemahaman sesat dan menyesatkan.

Para pembaca, tahukah anda dari mana ta‘wil semacam itu? Masih ingatkah dengan landasan berpikir mereka? Ya, ta`wil itu tidak lain dari akal mereka semata… Bukan dari bimbingan para ulama.Wallahul musta’an.

Akhir kata, demikianlah gambaran ringkas tentang HT dan selubung sesatnya tentang khilafah. Semoga menjadi titian jalan untuk meraih petunjuk Ilahi. Amin.

1 Menolak sifat-sifat AllahSubhanahu wa Ta’ala dengan ta`wil, kecuali beberapa sifat saja. (ed)
2 Lanjutan riwayat tersebut: “Dan sungguh aku telah melihat NabiShallallahu ‘alaihi wa sallammengusap pungggung khufnya.” (ed)

http://www.manhajul-anbiya.net/kelompok-hizbut-tahrir-dan-khilafah-sorotan-ilmiah-tentang-selubung-sesat-suatu-gerakan/

BENARKAH DAKWAH SALAFIYAH ITU KERAS DAN EKSTRIM


OLEH ASY SYAIKH RABI' BIN HADI AL-MADKHALI HAFIZHAHULLAHU

Pertanyaan diajukan kepada  As Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhaly Hafidzahullahu Wa Ro’ah.

~~~~~~~~~~
Pertanyaan :

“ Telah muncul suatu kaedah baru yang bertujuan menjauhkan kaum muslimin dari Ahlul Ilmi (Ulama’), yaitu metode yang mengklasifikasikan Ulama menjadi dua jenis.
Ada Ulama yang Mutasahil (bermudah-mudahan) dan ada juga Ulama yang Mutasyadid(ekstrim). Terkadang mereka katakan bahwa Ulama di daerah ‘ini’ Mutasyaddid dan Ulama di daerah ‘itu’ Mutasahil.

Bagaimanakah Arahan Anda tentang hal ini ?

***********

Jawaban.:

As Syaikh Rabi’  Hafidzahullahu Ta’ala Menjawab. :

“Ini merupakan kaedah-kaedah palsu yang muncul dari musuh-musuh dakwah Salafiyyah.

 Salafus Shalih dahulu, sebagian diantara mereka ada yang bersikap ‘keras’ dan adapula sebagian lainnya yang bersikap tenang.

Tidaklah hal itu menjadi sebab mereka saling menjatuhkan satu sama lainnya. Bahkan mereka (yang bersikap keras) ini dihargai, dihormati karena sebab telah bersikap keras terhadap Ahlul Bathil.

 Sebagai contoh bagimu adalah sikap dari Hammad bin Salamah yang menuai pujian dari Al Imam Ahmad dengan pujian yang harum. Bahkan Imam Ahmad menaruh curiga atas siapa saja yang mengkritisi Hammad bin Salamah, (Beliau katakan): “Barangsiapa yang mengkritisi Hammad bin Salamah dengan kritikan yang buruk, maka hendaknya kalian curiga atas keadaan agama orang tersebut”. Hal ini dikarenakan  Hammad bin Salamah adalah seorang yang ‘keras’ terhadap Ahlul Bid’ah.

^^^^^

Dahulu, sikap keras terhadap Ahlul Bid’ah merupakan suatu kedudukan yang mulia menurut penilaian salaf. Akan tetapi sekarang justru keadaannya terbalik, setelah kedatangannya Ahlul Bid’ah dan Ahlud Dzholal, mereka ini mengesankan pola pikir kepada mayoritas generasi muda bahwa ‘sikap keras terhadap Ahlul Bathil’ itu tercela dan rendah. Sebaliknya, sikap berlapang dada dan toleransi menjadi hal yang istimewa  dan mulia. Namun ini sangat disayangkan sekali.

^^^^^
Berpegang teguhlah kalian dengan Manhaj Salafiyyah, dan bersikaplah terhadap Ahlul Bid’ah dengan sikap Salafy.

Namun, tidak mengapa engkau berdakwah kepada mereka dengan Hikmah dan Mauidzhah Hasanah. Apabila mereka manyambut dakwahmu, Alhamdulillah.

Jikalau tidak, maka tidak mengapa engkau bersikap keras terhadap mereka dan menyebutkan keburukannya.

Bahkan Salafus Shalih bersikap sangat keras terhadap mereka, sampai tingkatan eksekusi mati (oleh pemerintah) atas sebagian mereka. Mereka juga menulis berbagai karya tulis yang sangat banyak tentangnya.

Terus, sekarang apa yang mau kita komentari atas tindakan mereka (Salafus Shalih)?

^^^^^

Bacalah oleh kalian Kitab As Syari’ah karya Al Ajurry, baca Kitab As Sunnah karya Abdullah bin Ahmad, baca Kitab As Sunnah karya Al Khallal, tentu mereka ini tidak membaca kitab-kitab karya tulis yang disebutkan. Mereka tidaklah membaca kitab-kitab tersebut, sehingga menyebabkan mereka memandang Mauqifnya (sikap / cara pandang)Salaf tidaklah berbeda dengan Mauqifnya Ahlul Bid’ah dan Ahlud Dzholal.

Bagaimana mungkin mauqif kita bisa sama dengan Jahmiyyah ? dan bagaimana mungkin mauqif kita sama dengan Syi’ah Rafidhah ?
Bagaimana mungkin pula mauqif kita berada di belakangnya mereka ?

^^^^^

Banyak dari kalangan orang-orang yang sedang tumbuh semangat dalam mempelajari Manhaj Salafy, kemudian mereka terpengaruh dengan berbagai gelombang fitnah, sehingga mengakibatkan mereka berjatuhan. Bahkan mereka justru memusuhi  Da’i – Da’i Al Haq dan As Sunnah, dengan tuduhan sebagai orang-orang yang ‘keras’.

Termasuk Saya (As Syaikh Rabi’) adalah salah satu orang yang tertuduh paling keras. Padahal saya dahulu sudah menyusun karya tulis sejak zamannya Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Al Albani, Syaikh Al Utsaimin.

Pada waktu itu Saya sudah memberikan perlawanan terhadap Ikhwanul Muslimin, Jama’ah Tabligh, dan seluruh kelompok-kelompok bid’ah.

Para Ulama  memberikan sambutan baik terhadap kitab-kitab karya tulis ini. Para Ulama memberikan dukungan kepada Rabi’. Tidak ada seorang pun diantara mereka yang memberikan bantahan, dan tidak ada seorang pun yang mengkritisi  isi karya tulis tersebut.

Bahkan Syaikh Al Albani Beliau mengatakan suatu ungkapan yang memuji  Rabi’ dengan kebaikan : “Beliau (As Syaikh Rabi’) adalah pengusung bendera Al Jarh dan At Ta’dil di zaman ini”. Bagaimana pendapat kalian ?. Kemudian setelah itu Beliau (Al Albani) mengatakan :” Pada dirinya (Syaikh Rabi’)terdapat sedikit ‘Syiddah’ (sifat keras)”. Dengan adanya perkataan ini maka bergembiralah orang-orang lembek tak berprinsip  dan berbangga dengannya.

Saya menghubungi Beliau (As Syaikh Al Albani), saya katakan: “Wahai Syaikh mengapa engkau menyebut saya bersifat ‘keras’ ? Beliau menjawab :”Demikianlah pandangan saya”. Saya katakan kepada Beliau :”Wahai Syaikh, yang demikian ini akan membahayakan Dakwah Salafiyyah dan bermudharat padaku”.

Maka beberapa hari setelahnya Beliau “Meminta Maaf”  atas ucapannya waktu itu, dan saya mengirimkan kepada Beliau Kitab “العواصم مما في كتب سيد قطب من القواصم”, dan Kitab itu merupakan karya tulisku yang paling keras. Beliau kemudian membacanya dan mendukungnya dikarenakan didalamnya adalah Al Haq, bahkan beliau mengatakan :”Hendaknya engkau tambah lagi Wahai Syaikh Rabi’, atau kalimat yang semisal dengan itu Rahimahullahu Ta’ala.

Adapun Syaikh Ibnu Baz Rahimahullah, beliau dahulu mengatakan :” Sampaikanlah bantahan-bantahanmu terhadap Ahlul Bid’ah dengan Al Hikmah dan Al Mauidzah Al Hasanah. Belum pernah beliau (Syaikh Ibnu Baz) sama sekali menyampaikan bantahan terhadapku. Demi Allah, bahkan beliau pernah menulis satu risalah yang dikirimkan kepadaku, beliau mengatakan : ”Telah datang kepadaku suatu berita bahwa engkau (Syaikh Rabi’) telah menyampaikan bantahan-bantahan terhadap Al Maududi Rahimahullah, saya sangat mengharapakan agar engkau mengirimkan kepadaku satu naskah tentang bantahan tersebut, dan janganlah ditolak permohonan ini”.

 Dahulu As Syaikh At Tuwaijiry Memberikan berbagai bentuk bantahan – bantahan dengan tegas terhadap Ahlul Bid’ah, dan Syaikh Ibnu Baz memberikan dukungan serta pujian atas kitab-kitab beliau. Tidak pernah beliau mengkritik sama sekali terhadap kitab-kitab tersebut.

Bahkan beliau pernah mengkritik Syaikh Al Albani –Barakallahu fiikum-, dan Syaikh Ibnu Baz tidak menegurnya untuk diam, Syaikh Ibnu Baz tidak mengatakan kepadanya (At Tuwaijiry) : “Diamlah kamu”. Beliau tidak mengatakan : “Kamu orang yang terlalu keras” -Barakallahu fiikum-.

 Syaikh Al Fauzan beliau membantah Ahlul Bid’ah di masa hidupnya Syaikh Ibnu Baz. Beliau (Syaikh Ibnu Baz) tidak mengatakan kepada Syaikh Al Fauzan :”Diamlah kamu”-Barakallahu fiikum-, bahkan justru mendukungnya.

 Sudah berapa banyak kitab kami yang disanjung oleh Syaikh, Syaikh At Tuwaijiry juga memujinya. Beliau juga memuji manhajku. Demikian pula seluruh Masyayikh, mereka menyanjung Manhaj ini. Perkara yang sesungguhnya kami lemah padanya. Tidaklah kita berada sejajar dengan mereka, bahkan kami amat lemah.

Namun demikian, justru kita tertuduh Mutasyaddidun (Orang-orang keras) –Barakallahu fiikum-, lalu mereka berdalih bahwa Ibnu Baz yang telah mengatakannya.

Demi Allah, Syaikh Ibnu Baz dahulu memerangi Ahlul Bid’ah, dan mendukung siapa saja yang memerangi Ahlul Bid’ah, serta memuji orang-orang yang memerangi Ahlul Bid’ah.-Barakallahu Fiikum-.

Tunjukkanlah padaku satu bukti yang memperlihatkan bahwa Sajian penjelasan oleh beliau hafizhahulloh tentang rusaknya manhaj para tokoh ihya at turots rodja, spt Abdurrahman abdul Khaliq, Adnan Ar'ur,  Abdul hasan Al Ma'riby, Ali Hasan Abdul Hamid Al Halabi.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

↔ Kelanjutan jawaban Syaikh :

“Dahulu Abdurrahman Abdul Khaliq adalah kawan dekatku, Abdurrahman Abdul Khaliq adalah kawan dekatku sampai kelulusan dari Universitas Islam (Madinah) pada tahun 1384 Hijriyah. Dikarenakan adanya beberapa sebab, dia pindah ke Kuwait. Ia dahulu berdakwah di jalan Allah, dan kami memotivasinya, sehingga kami sangat berbahagia dengan adanya semangat dakwah yang tumbuh dalam Manhaj Salafy.

Setelah itu mulailah terjadi perubahan, perubahan, perubahan, lalu aku menuliskan kepadanya risalah-risalah nasehat yang lembut.

Suatu waktu ia datang ke madinah dan ia singgah di Qiblatain (suara samar)…Saya menyambutnya untuk naik bersama dalam mobilku, kemudian kami mengunjungi Universitas Islam (Madinah) dan berkunjung pula ke rumahku.

Aku selalu menasehatinya, dan masih terus berlanjut nasehatku tersebut kepadanya sampai berselang masa lebih kurang 12 (dua belas) tahun, Barakallahu Fiikum. Hingga kemudian sampailah tingkatan yang lebih dari cukup, dia mulai mencela Para Ulama dan melecehkannya, dan melakukan ini serta itu, saya lalu membantahnya.

^^^^^^^^^^

 Setelah itu muncul Adnan Ar’ur, dia mengaku sebagai seorang Salafy, akan tetapi dia mencela Manhaj Salafiyyah. Dia mengatakan bahwa Manhaj Salafy tidak memiliki landasan kuat, dan Syaikh Ibnu Baz tidak mengajarkan prinsip landasan pokok. Sedangkan Sayyid Quthub dia mengajarkan Prinsip landasan pokok, dan dari berbagai kepalsuan serta kepalsuan (dia serukan).

Mulailah saya membantah Sayyid Quthub, dan dahulu saya masih punya harapan terhadapnya sehingga aku hanya mencukupkan diri dengan beberapa bantahan dari kesalahan-kesalahannya, akan tetapi kesalahan-kesalahan itu telah sangat melampaui batas.

Demi Allah, sebagian dari kesalahan-kesalahan itu ada yang aku membantahnya setelah melalui masa selama 20 (dua puluh) tahun, padahal aku jelas meyakini bahwa itu adalah kebathilan. Hanya saja saya menghendaki bukti-bukti yang mencukupi tentang itu.

Setelah saya merasa cukup, maka saya segera membantahnya. Saya tuliskan bantahan-bantahan terhadapnya atas celaan-celaan dia terhadap Para Sahabatnya Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam, kemudian Kitab ini dicetak dan tersebar.

Setelah itu berangkatlah Adnan Ar’ur mendatangi As Syaikh Al Albany, dan menanyakan kepadanya perkara-perkara yang disebutkan tanpa rincian dalam kitab itu, …(suara samar).

Adapaun Sayyid quthub dia telah mencela Rasulullah Musa Alaihis Shalatu Was Sallam, mencela Para Sahabat, terutama sekali adalah Utsman, Mu’awiyah, dan ‘Amr bin Al Ash. Bahkan dia mencela seluruh ummat ini serta mengkafirkannya. Mengingkari sebagian sifat Allah, mengucapkan tentang Ruh bersifat Azaliyah, ucapan semisal ucapan komunis, dan kesesatan-kesesatan yang tidak tahu mana awalnya dan mana pula akhirnya.

Semua itu saya terangkan didalam kitab ini, Kitab Adhwa’ Islamiyyah ‘Ala Aqidati Sayyid Quthub.

Dia kemudian berangkat membawa kitab ini lalu mendatangi Syaikh Al Albany, dia mempertanyakan kepada Syaikh Al Albany agar mendapatkan jawaban sesuai yang di inginkan oleh hawa nafsunya. As Syaikh Al Albany padahal belum meneliti kitab itu, aku sebutkan didalamnya celaan Sayyid Quthub terhadap Nabiyyullah Musa ‘Alaihis Salam, dan Ar’ur tidak menyebutkan perkara ini kepada Syaikh. Setelah itu aku sebutkan lagi celaan dia kepada para sahabat, terutama adalah Utsman Radhiyallahu ‘anhum.

Hancurlah prinsip-prinsip dasar islam di masanya, hancur pula Ruh Islam olehnya. Gerakan yang memusuhinya dari kelompok Sabaiyah ia kedepankan daripada Manhajnya  Radhiyallahu ‘anhu.-Barakallahu Fiikum-.

 Semua perkara-perkara ini tidaklah disebutkan dihadapan As Syaikh, dan hanya disebutkan secara global saja, sehingga Syaikh Al Albany menjawab dengan jawaban sesuai dengan yang diinginkan oleh hawa nafsu ar’ur.

 Justru kemudian dia menyebar luaskan kaset rekaman Al Albany dan melakukan suatu pergerakan yang lebih besar dibanding pergerakan yang sebelumnya.

Saya masih bisa berusaha bersabar atas ulahnya, kemudian di tahun yang sama datanglah sebagian orang dalam satu rombongan yang mengunjungiku.

Maka saya katakan, engkau haruslah meminta maaf, tapi dia justru mencari-cari celah untuk menghindar. Saya katakan lagi kepadanya, engkau harus meminta maaf, dan orang-orang yang hadir mengatakan kepadanya engkau harus meminta maaf. Maka diapun berjanji akan meminta maaf, Barakallahu fiikum, dia berjanji untuk meminta maaf…kemudian yang terjadi malah mengagetkan saya. Dia datang dengan membawa tiga kitab tandingan, kitab ini dan kitab itu yang semuanya berprinsip persis seperti kitabnya Sayyid Quthub, didalamnya terdapat pujian serta sanjungan terhadap Sayyid Quthub, inilah bentuk ‘permintaan maafnya’.

 Lihatlah, kenapa dia justru semakin bertambah parah –barakallahu fiik-, semakin bertambah parah lagi ketika dia menjadi pembicara dalam sebuah acara, ia berbicara tentang Jarh Wat Ta’dil bersama orang yang lainnya lagi. Saya tidak ingin menyebutkan nama-nama mereka, lalu mereka menyerangku seperti halnya sebuah kampanye.

Maka aku pun memulai membantah mereka.

Hal ini terjadi setelah berapa waktu ? ini terjadi setelah bertahun-tahun dengan kesabaran yang sangat panjang dan masa menunggu yang lama, Demi Allah saya tidak yakin bila ada yang bisa bersabar (atas mereka) dengan kesabaranku tersebut.

^^^^^^^^^^

 Setelah itu berlalu, muncul Abul Hasan sejak pertama kali, dalam majlis aku telah menemuinya…, dia membela Ahlul Bid’ah beserta tokoh utamanya yaitu Sayyid Quthub, dia juga membela Jama’ah tabligh, serta Ikhwanul Muslimin…(suara terputus)…, semua kerusakan-kerusakan ini aku hadapi dengan lemah lembut.

 Aku mengirim kepadanya jawaban, Demi Allah aku melakukannya diam-diam dengan kerahasiaan antara diriku dengan dirinya melalui Faks dariku terkirim dalam faks nya, dan aku tidaklah memberitahukannya kepada seorangpun, Barakallahu Fiikum.

 Ternyata setelah itu ia masih terus menerus berkecimpung dalam berbagai kekacauan, fitnah, dan kasus sampai meninggalnya Para Masyayikh. Syaikh Ibnu Baz meninggal, Syaikh Ibnu Utsaimin meninggal, Syaikh Al Albany meninggal. Lalu dia memulai berbagai serangan, dan terang-terangan menampakkan kelompok yang tersendiri, mencela Salafiyyin dengan celaan yang menghinakan dan merendahkan, seperti ini dan itu.

Justru ia memuji Ahlul Bathil-Barakallahu fiikum-, aku menulis dua nasehat sebagai peringatan bagi Abul hasan…, aku menuliskan nasehatku yang kedua dan itu terjadi antara diriku dan dirinya, malah kemudian dia menyepelekan nasehatku, ia bangkit berdiri dan mengumumkan permusuhannya denganku terang-terangan.

Lihatlah oleh kalian, apakah kalian memahaminya ? Kalian paham ini ? Hemmhhh, tidaklah ada seseorang yang mampu bersabar dengan kesabaran seperti ini, tidak ada pula seseorang yang mampu memutuskan dengan bijak seperti kebijakan ini.

Demi Allah semua ini aku lakukan dalam rangka membela Manhaj Salafiyyah, dan dalam rangka mempersatukan kalimat. Akan tetapi mereka terjangkiti perpecahan dan kehancuran.

Sudah, adapun sekarang Abul hasan sudah memiliki kelompok tersendiri di Madinah ini, memiliki kelompok sendiri di Yaman, memiliki kelompok sendiri di Libya, di Maroko, dan di berbagai tempat yang lainnya (Barakallahu Fiikum).

Diatas manhajnya  yang rusak tersebut, aku telah membantah lebih kurang 20 akar penyimpangan dengan argumentasi ilmiyyah dan bukti yang jelas.
Dua puluh manhaj diantaranya adalah manhaj yang luas tak terbatas dan busuk. Dia menginginkan manhaj yang tak terbatas, sehingga Ahlus Sunnah dan seluruh umat ini berjalan diatasnya tanpa terbatasi.

 (misalnya) Kita membenarkan tapi jangan menjatuhkan, kita membenarkan tapi jangan Menyalahkan (Al Jarh)-Barakallahu Fiikum-. Berbagai kaedah yang dibuat-buat dalam rangka membantah Al Haq dan menghantam Manhaj Salafiyyah –Barakallahu Fiikum-. Maka aku membantah kaedah-kaedah rusak ini –Barakallahu fiikum-.

Namun demikian, amatlah menyedihkan apa yang terjadi, banyak manusia yang tertipu di berbagai pelosok. Padahal dahulu awal kalinya, di masa hidupnya Para Masyaikh (Ulama), Si Adnan bangkit di masa hidupnya Syaikh Ibnu Utsaimin, para ulama sudah  menggolongkannya termasuk Ahlul Bathil.

Bangkit kemudian dua belas dari jajaran para ulama membantahnya, menjelaskan kesesatan dan penyimpangan-penyimpangannya, tapi justru dia jatuhkan semua para ulama tersebut, benar-benar ia telah menjatuhkannya.

Kemudian setelah itu dia bergabung bersama-sama dengan Abul Hasan (Al Ma’riby) dan Ali Hasan Abdul Hamid (Al Halaby) di Syam. Mereka ini justru membela mati-matian, dan memastikan kesalafiyahannya sampai hari ini.

^^^^^^^^^^

 Datanglah kemudian Abul Hasan (Al Ma’riby) dengan berbagai kaedah bathil dan kerusakan-kerusakan pemikiran serta kesesatan. dan didapatkan di Madinah, di Syam, dan berbagai tempat adanya orang-orang yang membela dan membantunya sampai hari ini.

 Setelah itu datang lagi Ali Hasan dengan wabah yang sangat parah, yang selalu datang membantu di setiap fitnah yang terjadi, ia datang dengan penyakit yang mewabah. Terkadang sampai kepada kalian perkara yang sampai kepadanya dan pasti akan sampai pada dirinya.(Barakallahu fiikum).

 Sampai sekarang ini mereka menganggap bahwa mereka adalah Salafiyyin sedangkan kita adalah Mutasyaddidun (orang-orang ekstrim).

Mereka mengerjakan semua perbuatan ini yang tidak mungkin dilakukan kecuali hanya Ahlul Bidah saja yang mengerjakan berbagai kaedah palsu ini.

Demi Allah tidaklah ini dilakukan oleh Ahlul Bid’ah yang merasa dirinya juga sebagai Salafiyyun, tapi justru kita tertuduh Mutasyaddidun.

Lihatlah hukum-hukum dan kesimpulan-kesimpulan yang sangat berbahaya ini.

Barakallahu fiikum, berhati-hatilah kalian, dan berjalanlah di jalannya Manhaj Salaf. Barangsiapa yang mengatakan perkataan yang bathil maka jelaskanlah kebathilannya, dan barangsiapa yang mengatakan Al Haq maka wajib kalian membantunya. “Hendaknya kalian saling tolong-menolong dalam kebaikan dan janganlah kalian saling tolong menolong diatas dosa dan permusuhan”.

 Salafus shalih dahulu selalu saling tolong menolong sampai tiba masanya Ibnu Baz, ibnu Utsaimin dan para ulama selain mereka, para ulama itu selalu membela Al Haq. Akan tetapi setelah kepergian mereka, para Ulama ditimpa cobaan –Barakallahu fiikum-.

Setiap kali mereka bangkit mengangkat kepalanya dalam rangka membela Al Haq, datanglah Ahlul Bathil menghancurkannya. Setiap kali mereka bangkit mengangkat kepala dalam rangka membela Al Haq, datanglah Ahlul Bathil melecehkannya.

 Justru mereka mendukung orang-orang yang tergelincir dan menyimpang, bahkan mereka menyebutnya sebagai Salafiyyin, adapun kita ini mereka pandang sebagai orang-orang yang ekstrim.

 Abul Hasan Al Ma’ribi menuduh kita sebagai orang-orang yang Ghuluw (ekstrim), apa sebabnya ? hal itu dikarenakan sebab kita telah mengkritisi Sayyid Quthub, mengkritisi kelompok Ikhwanul Muslimin, mengkritisi Jamaah Tabligh, dan kita mengkritisi semua Ahlul Bid’ah.

 Kemudian mereka menyebut kita sebagai Orang-orang Ekstrimis. Demi Allah dia menganggap orang-orang komunis, sosialis, liberalis sebagai muslimin, disisi yang lain dia menganggap Jama’ah Tabligh, Ikhwanul Muslimin sampai saat ini sebagai Ahlus Sunnah.

 Padahal dia telah mengetahui bahwa Ulama As Sunnah, diantara  Tokoh Ulama As Sunnah tersebut adalah Ibnu Baz dan Al Albany, mereka telah memperlakukan dan menganggap bahwa dua firqah sesat ini yaitu Ikhwanul Muslimin dan Jama’ah Tabligh bukanlah termasuk Ahlus Sunnah. Bahkan mereka termasuk Ahlul Bid’ah, dan mereka termasuk diantara Firqah yang pasti binasa.

 Akan tetapi dia sampai sekarang masih menentang bimbingan Para Ulama sampai hari ini. Meskipun para Ulama tersebut ada di tengah-tengahnya Tokoh besar seperti Ibnu Baz dan Al Albany,-Barakallahu Fiikum- tetap saja dia menghukumi sebagai Ahlus Sunnah.

 Dia juga telah menghukumi bahwa seluruh suku bangsa Islam yang ada, dia katakan bahwa mereka semuanya adalah Salafiyyun. Sehingga Jamaah Tabligh dan Ikhwanul Muslimin adalah Ahlus Sunnah menurut sangkaannya.

 Adapun Ahlus Sunnahnya Si Rabi’, Demi Allah mereka adalah golongan ekstrimis, sangat ekstrim, dan hobi melakukan ini dan itu (Perkataan Abul Hasan).

 Sayangnya, ketika yang mengunjunginya adalah Syiah Rafidhah –Masya Allah- dia tampakkan adab budi pekerti yang baik. Demikian pula ketika bersama Ahlul Bid’ah yang lainnya, seperti Ikhwanul Muslimin seperti itulah kenyataannya. Dan sampai sekarang dia menganggap dialah seorang Salafy, sedangkan kita adalah golongan ekstrimis.

^^^^^^^^^^

Hendaknya kalian pahami tipu daya ini, persekongkolan, dan semua tipu muslihat.

 Apakah kalian tahu, berapa lama aku bersabar (dalam menasehatinya)? Saya sangat bersabar untuk bisa menasehatinya sampai kurun waktu tujuh (7) tahun atau bahkan lebih dari itu. Kemudian, apakah kalian tahu apa yang terjadi ? diskusi yang terjadi antara saya dan dirinya, hingga kemudian dia menimpakan gangguan dan menyatakan permusuhan terhadap Ulama Yaman dan berlepas diri dari mereka beserta Salafiyyin. Sebagian Salafiyyin mengingatkan kepadanya “Seharusnya kamu rujuk”, justru ia menjawab “tidak sama sekali”.

Demi Allah wahai Ikhwan sekalian, barangsiapa yang ada pada dirinya kejujuran dalam bertindak pasti akan dihormati. Dan seorang Salafy yang jujur tindakannya, pasti akan dimuliakan.

 Sudahlah wahai Ikhwan sekalian, kalau kalian mengaku sebagai Salafiyyin, maka hendaknya kalian mempelajari Manhaj Salaf dari sumber aslinya. Kemudian gigitlah manhaj itu dengan gigi geraham kalian, janganlah sekali-kali kalian gentar dalam menghadapi celaan orang-orang yang mencela itu semua karena Allah semata.

Seandainya Ayahmu, saudaramu, ataukah orang yang paling dekat hubungan denganmu ternyata menyimpang, jelaskanlah kepadanya kenyataan yang ia yakini kebenarannya, ini sebagai nasehat hanya karena Allah semata.

 Sesungguhnya agama ini merupakan nasehat. Nasehat bagi Allah, bagi Kitab-Nya, bagi Rasul-Nya dan bagi seluruh pemimpin kaum muslimin beserta keumuman mereka. “Wahai sekalian manusia hendaknya kalian menjadi orang-orang yang menegakkan hukum dengan keadilan, sebagai saksi di hadapan Allah. Meskipun kalian bersaksi untuk kepentingan diri kalian sendiri, orang tua, kerabat…”.

Kemanakah ayat-ayat dan hadits-hadits ini dari mereka ? kemanakah orang-orang yang suka membela mereka ? dikemanakan dalil-dalil yang jelas ini ? dikemanakan manhaj Salaf ini ? Dikemanakan Manhajnya Para Ulama Besar ? Dikemanakan Manhajnya Ibnu Baz dan Manhajnya Para Ulama yang lain ? Dikemanakan mereka ini ?

–Barakallahu Fiikum-

 Aku mengetahui bahwa ini merupakan bentuk penjerumusan mereka untuk terjadinya fitnah, bid’ah, penyesatan dan bahan tertawaan sebagaimana di istilahkan.

Janganlah ada salah seorangpun diantara kalian yang mentertawakan saudaranya yang salah, siapapun dia. Seandainya ada seseorang yang salah, entah itu yang salah adalah Ibnu Taimiyyah yang jelas kesalahannya, ataupun Ibnu Baz yang salah maka kita mengkritiknya, demikian itulah Manhaj kita.

Demi Allah Dzat tidak ada Ilah yang Haq selain-Nya, suatu waktu aku menemui As Syaikh Ibnu Baz. As Syaikh Ibnu Baz beliau mengatakan bahwa beliau ingin menasehatinya (Menasehati Syaikh Rabi’). Maka aku pergi menemui beliau, dan aku berkata kepada beliau : “Ada berita sampai kepadaku bahwa engkau hendak menasehati diriku ?”. Beliau berkata : “Benar”. Aku berkata : “ Apakah nasehat darimu?”. Beliau mengatakan : “Seandainya Ibnu Ibrahim keliru, ataukah Ibnu Baz yang keliru maka kritiklah mereka Demi Allah Dzat tidak ada Ilah yang Haq selain-Nya”.

 Ibnu Baz dahulu di setiap acara ceramah, pertemuan, kemudian didapatkan disana ada seseorang yang keliru dalam ucapannya langsung beliau meluruskannya. Kejadian seperti ini sudah umum diketahui oleh setiap orang, setiap mahasiswa Perguruan Tinggi yang terdahulu mengetahui bahwa Syaikh Ibnu Baz tidaklah pernah membiarkan ada kesalahan yang terjadi kecuali pasti meluruskannya. Entah kesalahan tersebut ada di surat kabar, berita, ataupun website, atau apapun itu, tidaklah pernah beliau diamkan, pasti beliau akan mengkritik dan meluruskannya.-Barakallahu Fiikum-

 Beliau selalu mendorong Salafiyyin untuk mengkritisi kesalahan, medukung dan memotivasi mereka. Inilah Manhaj Salaf.

 Dan Aku Memohon kepada Allah agar mengokohkan kita semua diatas Manhaj Salaf, dan semoga Allah memberikan rizki kepada kita berupa Bashirah didalam agama ini. Sesungguhnya Rabb kita adalah Dzat Yang Maha Mendengar Doa. Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammad Wa ‘Ala Alihi Wa Sahbihi.

 sumber :http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=114755

==============

 penerjemah.: Al Ustadz Hamzah La Firlaz Hafizhahullah

 Sumber diambil dari.: http://postinganwsi.wordpress.com/2013/11/08/benarkah-dakwah-salafyyah-keras-dan-ekstrim/

WA PECINTA AL-HAQ

Jumat, 08 Januari 2016

MUSUH MUSUH DAKWAH TAUHID



(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Luqman Baabduh)

Sebagaimana dialami RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam, dakwah yang mengajak kepada tauhid niscaya akan menghadapi musuh-musuh yang tiada henti-hentinya untuk memadamkan cahaya tauhid di muka bumi ini. Daulah Utsmani, yang merupakan representasi kelompok Shufi, yang juga diagungkan banyak kelompok pergerakan Islam, adalah salah satunya. Bagaimana kisah selengkapnya, simak kajian berikut!


Telah menjadi sunnatullah, Allah telah menetapkan adanya musuh-musuh yang senantiasa menghalangi dakwah menuju tauhid dan upaya-upaya untuk menegakkan syariat Islam. Mereka bisa datang dari kaum kafir ataupun dari kalangan kaum munafiqin yang memakai baju Islam yang merasa terusik kepentingannya dan khawatir terbongkar kedok dan syubhat-syubhatnya. Hal ini sebagaimana Allah tegaskan di dalam firman-Nya:
“Dan demikianlah, kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lainnya perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (Al-An’am: 112)

“Dan demikianlah, kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh dari kalangan orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Rabb mu menjadi Pemberi Petunjuk dan Penolong.” (Al-Furqan: 31)

Begitu pula dakwah yang dilakukan para ulama pewaris nabi, yang selalu berdakwah untuk memurnikan tauhid serta menegakkan Sunnah RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara mereka adalah Asy-Syaikh Muham-mad bin Abdul Wahhabrahimahullah yang telah berupaya memurnikan tauhid umat serta mengajak mereka untuk menegakkan syariat Islam. Namun musuh-musuh dakwah beliau tidak rela terhadap apa yang beliau lakukan.

Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Bazrahimahullah menyimpulkan musuh yang menghalangi dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam tiga jenis:

1. Para ulama suu` yang memandang Al-Haq sebagai suatu kebatilan dan memandang kebatilan sebagai Al-Haq, dan berkeyakinan bahwa pembangunan (kubah-kubah) di atas kubur serta mendirikan masjid di atas kubur-kubur tersebut, kemudian berdoa, ber-istighatsah kepadanya serta amalan yang serupa dengan itu, adalah bagian dari agama dan petunjuk (yang benar, pent). Dan mereka berkeyakinan bahwa barangsiapa mengingkari hal itu berarti dia telah membenci orang-orang shalih, serta membenci para wali. Jenis yang pertama ini adalah musuh yang harus diperangi.

2. Jenis yang kedua adalah orang-orang yang dikenal sebagai ulama, namun mereka tidak mengerti tentang hakekat Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhabrahimahullah yang sebenarnya. Mereka tidak mengetahui pula tentang kebenaran dakwah beliau bahkan cenderung bertaqlid kepada yang lain, serta membenarkan setiap isu negatif yang dihembuskan ahli khurafat dan para penyesat. Sehingga mereka menyangka berada di atas kebenaran atas isu-isu negatif yang dituduhkan kepada Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhabrahimahullah, bahwasanya beliau membenci para wali dan para nabi, serta memusuhi mereka dan mengingkari kekeramatannya. Sehingga mereka memusuhi Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan mencela dakwahnya serta membuat orang antipati terhadap beliau.

3. Orang-orang yang takut kehilangan kedudukan dan jabatannya. Mereka memusuhi beliau agar kekuatan para pengikut dakwah Islamiyyah tersebut tidak sampai menyentuh mereka, yang akan menurunkan mereka dari posisinya serta menguasai negeri-negeri mereka.-sekian dari Asy-Syaikh Ibnu Baz 1.
Faktanya, musuh-musuh dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah banyak diperankan oleh:


1. Kaum kafir Eropa
Inggris, Prancis, dan lainnya, yang tengah berkuasa dan menjajah negeri-negeri Islam pada waktu itu. Mereka menganggap bahwa dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahyang bertujuan memurnikan tauhid dan menegakkan syariat, merupakan suatu kekuatan besar yang dapat mengancam eksistensi mereka di negeri-negeri jajahan-nya. Karena dakwah beliau ini telah berhasil menyatukan umat dalam naungan aqidah tauhid di sejumlah negeri. Selain di daerah Najd, ternyata dakwah beliau telah berhasil menyentuh muslimin di negeri lainnya seperti di Afrika Utara yang mayoritasnya adalah negeri-negeri jajahan Inggris dan Prancis, India sebagai jajahan Inggris, dan tak luput pula Indonesia sebagai jajahan Belanda. Hal ini membuat para penjajah kafir itu geram dan mengkhawatirkan bangkitnya muslimin di negeri jajahannya. Sehingga mereka pun berupaya untuk menjauhkan kaum muslimin dan membuat mereka antipati terhadap dakwah tauhid yang dilancarkan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab 2. Hal ini mereka lakukan dengan cara:

a. Menebarkan isu-isu negatif dan dusta tentang dakwah tauhid di tengah-tengah muslimin melalui para misionaris mereka, baik secara lisan maupun tulisan.

b. Memprovokasi dan mempengaruhi pemerintahan Dinasti ‘Utsmani untuk membenci dan memerangi dakwah tauhid, dan dikesankan kepada mereka bahwa dakwah mulia tersebut sebagai ancaman besar bagi eksistensi Daulah ‘Utsmaniyyah 3.

c. Pemberian bantuan pasukan dari pemerintahan penjajah Inggris maupun Prancis kepada Dinasti ‘Utsmani dalam upayanya menyerang dakwah tauhid 4.

Di antara bukti yang menunjukkan provokasi mereka terhadap Dinasti ‘Utsmani untuk memusuhi dan menyerang dakwah tauhid adalah adanya penyerangan tentara Dinasti ‘Utsmani terhadap kota Ad-Dir’iyyah sebagai pusat dakwah tauhid di bawah pimpinan Ibrahim Basya pada tahun 1816 M atas perintah ayahnya Muhammad Ali Basya, Gubernur Mesir ketika itu, yang bersekongkol dengan penjajah Prancis.
Karena keberhasilannya atas penye-rangan ke negeri Ad-Dir’iyyah itu, Pemerintah Inggris mengirimkan utusannya, yaitu Kapten George Forster Sadleer, untuk menyampaikan ucapan selamat secara khusus dari Pemerintahan Inggris atas keberhasilan Dinasti ‘Utsmani menghancur-kan Ad-Dir’iyyah 5.

2. Daulah ‘Utsmaniyyah
Yang tak kalah gencar pula adalah permusuhan pemerintahan Dinasti ‘Utsmani yang telah terprovokasi kaum kafir penjajah. Keadaan ini diperburuk oleh para mufti pemerintahan Dinasti ‘Utsmani yang notabene beraqidah tashawwuf. Siang dan malam mereka memprovokasi pemerintah untuk memerangi dakwah tauhid di Najd, baik di masa Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhabrahimahullah masih hidup, ataupun permusuhan mereka terhadap dakwah tauhid sepeninggal beliau. Tercatat dalam sejarah, beberapa kali ada upaya penyerangan yang dilakukan Dinasti ‘Utsmani terhadap Negeri Najd dan kota-kota yang ada di dalamnya yang terkenal sebagai pusat dakwah tauhid. Di antaranya apa yang terjadi di masa Sultan Mahmud II, ketika memerintahkan Muhammad ‘Ali Basya untuk menyerang kekuatan dakwah tauhid di Najd. Tentara Muhammad ‘Ali Basya dipimpin oleh anaknya Ibrahim Basya dalam sebuah pasukan besar dengan bantuan militer dari negara-negara kafir Eropa. Pada akhir tahun 1232 H, mereka menyerang kota ‘Unaizah dan Al-Khubra` serta berhasil menguasai Kota Buraidah. Sebelumnya, pada bulan Muharram 1232 H, tepatnya tanggal 23 Oktober 1818 M, mereka berhasil menduduki daerah Syaqra’ dalam sebuah pertempuran sengit dengan strategi tempur penuh kelicikan yang diatur oleh seorang ahli perang Prancis bernama Vaissiere. Bahkan dalam pasukan Dinasti ‘Utsmani yang menyerang Najd pada waktu itu didapati 4 orang dokter ahli berkebangsaan Itali. Nama-nama mereka adalah Socio, Todeschini, Gentill, Scots. Nama terakhir ini adalah dokter pribadi Ibrahim Basya. Demikian juga didapati perwira-perwira tinggi Eropa yang bergabung dalam pasukan Dinasti ‘Utsmani dalam penyerangan tersebut 6. Hal ini menunjukkan bahwa Dinasti ‘Utsmani telah bersekongkodengan negara-negara kafir Eropa di dalam memerangi dakwah tauhid, yang tentunya hal ini mengundang amarah AllahSubhanahu wa Ta’ala dan menjadi sebab terbesar hancurnya Daulah ‘Utsma-niyyah. Belum lagi kondisi tentara dan pasukan tempur Dinasti ‘Utsmani yang benar-benar telah jauh dari bimbingan Islam. Hal ini sebagaimana disebutkan sejarawan berke-bangsaan Mesir yang sangat terkenal, yaitu Abdurrahman Al-Jabrati. Ketika menyam-paikan kisah tentang kondisi pasukan Dinasti ‘Utsmani dan membandingkannya dengan pasukan tauhid di Najd, yang beliau nukil dari penjelasan salah seorang perwira tinggi militer Mesir yang menceritakan tentang kondisi pertempuran yang terjadi pada tahun 1227 H yang dipimpin Ahmad Thusun, putra Muhammad ‘Ali Basya, beliau menyatakan:
“…dan beberapa perwira tinggi mereka (tentara Mesir, pent.) yang menyeru kepada kebaikan dan sikap wara’ telah menyampaikan kepadaku bahwa mana mungkin kita akan memperoleh kemenangan, sementara mayoritas tentara kita tidak berpegang dengan agama ini. Bahkan di antara mereka ada yang sama sekali tidak beragama dengan agama apapun dan tidak bermadzhab dengan sebuah madzhab pun. Dan berkrat-krat minuman keras telah menemani kita. Di tengah-tengah kita tidak pernah terdengar suara adzan, tidak pula ditegakkan shalat wajib. Bahkan syi’ar-syi’ar agama Islam tidak terbetik di benak mereka. Sementara mereka (tentara Najd, pent), jika telah masuk waktu shalat, para muadzin mengumandangkan adzan dan pasukan pun segera menata barisan shaf di belakang imam yang satu dengan penuh kekhusyu’an dan kerendahan diri. Jika telah masuk waktu shalat, sementara peperangan sedang berkecamuk, para muadzin pun segera mengumandangkan adzan. Lalu seluruh pasukan melakukan shalat khauf, dengan cara sekelompok pasukan maju terus bertempur sementara sekelompok yang lainnya bergerak mundur untuk melakukan shalat. Sedangkan tentara kita terheran-heran melihat pemandangan tersebut. Karena memang mereka sama sekali belum pernah mendengar hal yang seperti itu, apalagi melihatnya.” –sekian

Kalau kisah tersebut disampaikan salah seorang perwira tinggi militer Mesir, maka Abdurrahman Al-Jabrati sendiri juga menceritakan tentang pertempuran yang terjadi pada tahun 1233 H yang dipimpin Ibrahim Basya dalam menghancurkan Ad-Dir’iyyah, yang tidak jauh berbeda dari kisah yang disampaikan sang perwira tinggi tersebut di atas. Lihat penjelasan tersebut dalam kitab Al-Jabrati, IV/140.8

Dinasti ‘Utsmani melengkapi kekejaman dan permusuhannya terhadap dakwah tauhid dengan menawan Al-Amir Abdullah bin Su’ud, sebagai salah satu penerus dan pembela dakwah tauhid yang telah menginfakkan jiwa dan hartanya dalam menegakkan kalimat tauhid serta syariat Islam. Beliau dikirim ke Mesir dan selanjutnya dikirim ke Istambul lalu dihukum pancung di sana setelah sebelumnya diarak di jalan-jalan Istanbul, dijadikan sebagai lelucon dan olok-olok selama tiga hari. Peristiwa ini terjadi pada 18 Shafar 1234 H/ 17 Desember 1818 M.9


3. Permusuhan kaum shufiyyah
Musuh berikutnya yang dengan gencar memusuhi dakwah tauhid yang dilakukan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah orang-orang dari aliran tashawwuf/Shufi yang merasa kehilangan pamor di hadapan para pengikutnya. Dengan dakwah tauhid, banyak syubhat dan kerancuan kaum Shufi yang terbongkar dan terbantah dengan hujjah-hujjah yang terang dan jelas, yang disampaikan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhabrahimahullah, murid-murid, serta para pendukungnya.

Berbagai macam bid’ah dan amalan-amalan yang menyelisihi sunnah Rasul serta amalan-amalan yang tercampur dengan berbagai praktek kesyirikan yang selama ini mereka tebarkan di daerah Najd ataupun Hijaz (Makkah dan Madinah), mulai tersingkir dan dijauhi umat. Demikian juga praktek amalan ibadah haji yang selama ini telah mereka penuhi dengan bid’ah dan amalan yang menyelisihi Sunnah RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam, serta berbagai upaya untuk memakan harta umat dengan cara batil, juga terhalangi dengan adanya dakwah tauhid tersebut.

Ini semua membuat mereka geram dan marah terhadap dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dan murid-muridnya. Itu semua mendorong mereka untuk berupaya menjauhkan umat dari dakwah beliau. Mereka sebarkan berbagai macam kedustaan tentang beliau dan dakwah tauhid yang disampaikannya.

Kaum Shufi bersama orang-orang kesultanan Turki dan Mesir serta kaum kafir Eropa menciptakan sebuah julukan terhadap dakwah beliau dengan Gerakan Dakwah Al-Wahhabiyyah serta melukis-kannya sebagai madzhab baru di luar Islam. Nama Al-Wahhabiyyah adalah sebuah nama yang dinisbahkan kepada ayah Asy-Syaikh Muhammad yang bernama Abdul Wahhab. Padahal jika mereka mau jujur, semestinya mereka menjulukinya dengan Muhammadiyyun, yaitu nisbah kepada Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahsecara langsung. Namun hal itu sengaja mereka lakukan dalam rangka memberikan kesan lebih negatif terhadap dakwah beliau. Karena jika memakai julukan Muhammadiyyun akan terkesan di banyak kalangan bahwa ini adalah sebuah madzhab yang baik. Bahkan mereka tak segan-segan mengucapkan kata-kata kotor untuk memuluskan tujuannya, yang sebenarnya kita sendiri malu untuk mendengar dan menukilkan kalimat tersebut. Namun dengan sangat terpaksa kami nukilkan salah satu contoh kata-kata kotor dan menjijikkan yang diucapkan tokoh-tokoh Shufi.

Di antaranya adalah yang diucapkan salah satu tokoh mereka yang dikenal dengan nama Muhammad bin Fairuz Al-Hanbali (meninggal 1216 H) dalam rekomendasinya terhadap kitab Ash-Shawa’iq war Ru’ud, sebuah kitab yang penuh dengan tuduhan dan kedustaan terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, karya seorang tokoh Shufi yang bernama Abdullah bin Dawud Az-Zubairi (meninggal 1225 H). Dalam rekomendasinya itu, Ibnu Fairuz berkata:

“…Bahkan mungkin saja Asy-Syaikh (yakni ayah Asy-Syaikh Muhammad yang bernama Abdul Wahhab, pent.) pernah lalai untuk menggauli ibunya (yakni ibu Muhammad bin Abdul Wahhab, pent.) sehingga dia didahului oleh setan untuk menggauli isterinya. Jadi pada hakekatnya setanlah ayah dari anak yang durhaka ini.”10. Sebuah ucapan kotor yang penuh kekejian dan kedustaan terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahbahkan terhadap ayah dan ibunya. Mereka juga menuduh Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dengan berbagai tuduhan dusta, di antaranya: Tuduhan bahwasanya beliau mengklaim An-Nubuwwah (yakni mengaku sebagai nabi), sebagaimana disebutkan dalam kitab Mishbahul Anam karya Ahmad Abdullah Al-Haddad Ba’alawi (hal. 5-6). Dan dinyatakan pula oleh Ahmad Zaini Dahlan (meninggal 1304 H) dalam sebuah makalah kecilnya yang berjudul Ad-Durar As-Saniyyah fir Raddi ‘alal Wahhabiyyah (hal. 46): “…yang nampak dari kondisi Muhammad bin Abdul Wahhab, bahwasanya dia adalah seorang yang mengklaim An-Nubuwwah. Hanya saja dia tidak mampu untuk menampakkan klaimnya tersebut secara terang-terangan.”

Pernyataan semacam ini dia tegaskan juga dalam kitabnya yang lain yang berjudul Khulashatul Kalam, hal. 228-261.
Buku-buku Ahmad Zaini Dahlan ini, adalah buku-buku yang sarat dengan kedustaan dan tuduhan-tuduhan batil terhadap dakwah dan pribadi Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhabrahimahullah. Buku-buku itu, dalam kurun 60 tahun terakhir ini, sering menjadi referensi kaum Shufi di berbagai belahan bumi, termasuk di Indonesia, dalam menebarkan kedustaan terhadap dakwah tauhid yang mulia itu. Bahkan sebagian buku-buku tersebut telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Lebih parah lagi, buku-buku karya kaum Shufi ini dimanfaatkan kaum kafir dan para orientalis sebagai referensi bagi mereka dalam menebarkan kedustaan terhadap dakwah mulia tersebut dan menjauhkan umat Islam darinya. Di antara mereka adalah seorang orientalis berkebangsaan Denmark bernama Caresten Nie Bury dalam bukunya (Travel Through Arabia and Other Countries In The East) namun dia tidak berhasil memasuki Najd. Sehingga ketika menulis tentang sejarah Najd, dia banyak menukil dan menyandarkan karyanya pada berita-berita yang beredar di Jazirah Arabia yang telah dipenuhi banyak kedustaan oleh para tokoh Shufi di sana 11.

Begitu juga salah seorang tokoh kafir yang lainnya menulis sebuah buku yang berjudul (Memorandum, by T.E. Ravenshaw)12. Buku ini pun dipenuhi berbagai macam kedustaan dan tuduhan-tuduhan batil terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhabrahimahullah.

Kemudian diikuti pula oleh seorang orientalis lainnya yang bernama William W. Hunter dalam bukunya Al-Muslimun fil Hind (The Indian Musalmans, dicetak pada tahun 1871 M, kemudian dicetak kedua kalinya pada tahun 1945 M) yang telah banyak menukil dari seniornya, yaitu T.E. Ravenshaw 13. Beliau juga dituduh sebagai penganut inkarul hadits (aliran yang mengingkari hadits); sebagaimana dituduhkan Ahmad Abdullah Al-Haddad Ba‘alawi di dalam kitabnya Mishbahul Anam. Tentunya tuduhan tersebut sangatlah aneh. Karena Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhabrahimahullah selalu berhujjah dengan hadits-hadits RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallamsebagaimana dalam banyak karya beliau, yang telah banyak diketahui oleh umat Islam. Namun begitulah kaum Shufi, tidak malu dan segan untuk berdusta untuk menjauhkan umat dari dakwah tauhid. Tuduhan kepada Al-Amir Su’ud bin Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Su’ud -salah satu pembela dan pembawa bendera dakwah tauhid yang menghabiskan waktu,  tenaga, pikiran, dan segala yang dimilikinya dalam membela dakwah yang mulia tersebut – bahwasanya beliau telah menghancurkan kubah yang dibangun di atas kuburan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal itu sama sekali tidak pernah terjadi.

Memang benar beliau dan para pendukungnya telah menghancurkan beberapa kubah yang berada di Najd dan sekitarnya, namun sedikitpun mereka belum pernah menyentuh bangunan kubah di atas kubur Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Walaupun mereka semua yakin bahwa bangunan kubah tersebut tidak diridhai RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertentangan dengan syariat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana dalam hadits Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya beliau berkata:
“Bahwasanya RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallammelarang dilaburnya sebuah makam, dan diduduki, serta dibangun di atasnya.” (HR. Muslim 970)

Hal ini dipertegas pula dalam hadits ‘Ali bin Abi Thalibradhiyallahu ‘anhu, ketika beliau mengutus Abul Hayyaj, “Maukah engkau aku utus dengan sebuah misi yang dengan misi tersebut pula aku diutus oleh RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam?” Yaitu:
“Jangan kau biarkan satu gambarpun kecuali kau musnahkan, dan jangan kau biarkan ada satu kuburan pun yang menonjol kecuali kau ratakan.” (HR. Muslim no. 969)

Namun demikianlah musuh-musuh dakwah tauhid memutarbalikkan fakta, sehingga beberapa sejarawan orientalis senang dengan disebutkannya beberapa kisah dusta tersebut. Hal ini sebagaimana didapati dalam beberapa buku sejarah karya mereka, di antaranya tulisan yang berjudul Hadhir Al-‘Alam Al-Islami (The New World of Islam) karya L. Stoddard (1/64), Dictionary of Islam “Wahhabiyah” karya Thomas P. Hughes (hal. 660), Mustaqbal Al-Islam (Future of Islam) karya Lady Anne Blunt (hal. 45). Dan masih banyak sejarawan orientalis lainnya yang memanfaatkan kedustaan serta tuduh-an batil kaum Shufi terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab untuk semakin mencemarkan dakwah tauhid yang beliau dakwahkan 14. Dan masih banyak tuduhan-tuduhan dusta yang lainnya.

Namun kami simpulkan kedustaan-kedustaan tersebut dengan menukilkan sebuah surat yang ditulis oleh putra beliau yang bernama Asy-Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab, yang ditujukan kepada penduduk Makkah pada tahun 1218 H / 1803 M. Beliau berkata:
“…Adapun sekian perkara dusta atas nama kami dalam rangka untuk menutupi al-haq, di antaranya tuduhan bahwa kami menafsirkan Al-Qur`an dengan logika kami serta mengambil hadits-hadits yang sesuai dengan pemahaman kami… Dan bahwasanya kami merendahkan kedudukan Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pernyataan kami bahwa-sanya Nabi telah menjadi debu di kuburnya dan tongkat salah seorang kami lebih bermanfaat dari beliau, dan bahwasanya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallamtidak memiliki syafaat, serta berziarah kepadanya tidak disunnahkan…, dan bahwasanya kami adalah beraliran mujassimah 15, serta mengkafirkan manusia secara mutlak (tanpa batas, pent)… Maka ketahuilah bahwa seluruh kisah khurafat tersebut di atas dan yang semisalnya… Jawaban kami terhadap setiap permasa-lahan tersebut di atas adalah dengan ucapan:
“Maha Suci Engkau (Wahai Rabb kami) sesungguhnya ini adalah kedustaan yang sangat besar.” (An-Nur: 16)

—sekian dari kitab Al-Hadiyyatus Sunniyyah, hal. 46 16

4. Syi’ah Rafidhah
Tak kalah dahsyat dari permusuhan kaum Shufi terhadap dakwah tauhid, adalah permusuhan kaum Syi’ah Rafidhah, yang juga merasa terusik dengan adanya dakwah tauhid. Aqidah mereka yang sesat dan penuh dengan kekufuran, yang mereka tebarkan di tengah-tengah umat dengan penuh pembodohan dan penipuan, terbongkar dengan tersebarnya dakwah tauhid tersebut. Umat menjadi mengerti bahwa aqidah Syi’ah Rafidhah yang meyakini bahwa:
> ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu adalah seorang imam yang ma’shum, dan seluruh shahabat yang menyelisihinya adalah kafir.
> Para imam Syi’ah Rafidhah yang 12 mengetahui perkara-perkara ghaib, bahkan punya andil di dalam mengatur alam semesta.
> Keyakinan mereka dengan aqidah Ar-Raj’ah, yaitu keyakinan bahwasanya ‘Ali bin Abi Thalib dan imam-imam mereka yang 12 akan kembali hidup di akhir zaman
> dan lain-lain, adalah aqidah sesat yang bisa mengantarkan seseorang kepada kekufuran.

Ini semua membuat mereka marah dan memusuhi dakwah tauhid hingga hari ini. Belum lagi kemarahan mereka karena pasukan tauhid telah menghancurkan bangunan kubah di atas kuburan Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib di Karbala. Itu semua mendorong mereka untuk memusuhi dakwah tauhid tersebut dan menebarkan kedustaan-kedustaan tentangnya. Tak cukup sampai di situ. Mereka bahkan melampiaskan kebencian dan permusuhannya itu dalam bentuk tindakan fisik. Di antaranya adalah pembunuhan atas Al-Amir Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Su’ud pada tanggal 18 Rajab 1218 H/4 November 1803 M, yang dilakukan seorang Syi’ah Rafidhah berkebangsaan Iran. Beliau dibunuh oleh penjahat ini ketika beliau sedang menunaikan shalat Ashar. Tepatnya ketika beliau bersujud, tiba-tiba datanglah orang Syi’ah tersebut dengan membawa sebilah belati kemudian menghunjamkannya ke tubuh Al-Amir Abdul Aziz rahimahullah.

Permusuhan ini terus berlanjut hingga masa kini. Baik dalam bentuk permusuhan fikri ataupun fisik. Sebagai contoh adalah sejumlah upaya penyerangan yang dilakukan kaum Syi’ah Rafidhah pengikut Khumaini (Khomeini, red.) di Kota Makkah, pada musim haji tepatnya pada hari Jum’at 6 Dzulhijjah 1407 H. Didahului penyebaran selebaran-selebaran yang berisi kedustaan dan provokasi, sebuah penyerangan sporadis dan penuh kezhaliman itu menelan 402 korban jiwa dari jamaah haji dan pihak keamanan Negeri Tauhid.

Tak cukup sampai di sana, pada tahun 1409 H, kembali para pengikut Khumaini dari kalangan Syi’ah Rafidhah yang kejam dan tidak berperikemanusiaan itu melakukan peledakan bom di Masjidil Haram, yang juga menelan korban jiwa serta korban luka dari para jamaah haji, tamu-tamu Allah 17.

5. Hizbiyyun dan pergerakan-pergerakan Islam
Zaman berganti zaman, generasi pun telah berganti. Namun permusuhan terhadap dakwah tauhid tak kunjung usai, dan memang akan terus berlanjut. Dalam beberapa dekade terakhir ini, kaum hizbiyyun menampilkan diri sebagai musuh dakwah tauhid dan sunnah yang ditegakkan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dan para penerusnya. Di antara kaum hizbiyyun itu pada masa ini adalah:

> Al-Ikhwanul Muslimun (IM)
Gerakan yang didirikan di atas upaya merangkul berbagai macam kelompok dan pemikiran bid’ah —sebagaimana telah dijelaskan dalam majalah Asy Syari’ah edisi 20, Sejarah Hitam IM— telah memprak-tekkan berbagai macam bentuk permusuhan terhadap dakwah tauhid dan sunnah serta negara tauhid Saudi Arabia. Baik melalui statemen dan karya-karya tulis para tokohnya, maupun dalam bentuk tindakan fisik nyata di lapangan. Di antara penulis dan tokoh besar IM adalah Muhammad Al-Ghazali, yang melarikan diri dari ancaman Anwar Sadat — Presiden Mesir kala itu – dan tinggal di negeri Saudi Arabia. Dengan segala fasilitas yang dia terima dari negeri tauhid ini, dia justru menikam dari belakang dan membalas kebaikan itu dengan caci maki terhadap para ulama tauhid dan sunnah, penerus dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Hal ini sebagaimana didapati dalam beberapa karyanya yang penuh dengan kesesatan. Di antaranya adalah apa yang dia tulis dalam kitabnya Kaifa Nata’amalu ma’al Qur`an dan kitab As-Sunnah baina Ahlil Fiqhi wa Ahlil Hadits. NamunAlhamdulillah, para ulama tauhid telah membantah dan menghancurkan syubhat-syubhatnya. Di antaranya adalah bantahan yang ditulis Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali dan Asy-Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alu Asy-Syaikhhafizhahumallah. Kemudian permusuhan Muhammad Al-Ghazali terhadap dakwah tauhid dan sunnah ini diikuti pula oleh tokoh dan pemikir besar IM lainnya, yaitu Yusuf Al-Qaradhawi. Dia adalah murid dari Muhammad Al-Ghazali sekaligus temannya. Namun cara Al-Qaradhawi di dalam menunjukkan permusuhannya lebih halus dan terselubung dibandingkan gurunya. Hal ini nampak sekali dalam karya-karyanya, seperti kitab Kaifa Yata’amalu Ma’as Sunnah dan Awwaliyatul Harakatil Islamiyyah, serta beberapa kitabnya yang lain 18.Kemudian pada generasi berikutnya IM melahirkan tokoh-tokoh semacam Muhammad Surur bin Naif Zainal ‘Abidin, yang nampak lebih arogan dalam memusuhi negeri tauhid dan dakwah tauhid itu sendiri. Begitu besar kebencian dan permusuhan-nya, sehingga dia merasa sesak nafasnya dan sempit dadanya untuk tinggal bersama kaum muslimin di negeri tauhid. Dia justru memilih tinggal bersama kaum kafir di Inggris dengan merendahkan dirinya di bawah perlindungan hukum-hukum kufur di negeri kafir yang sangat memusuhi Islam itu. Sementara itu, dia mengkafirkan pemerintah-pemerintah muslimin dengan alasan mereka tidak berhukum dengan hukum-hukum Allah. Dengan penuh kebencian dan tanpa malu, dia keluarkan sejumlah pernyataan pedas dan dusta tentang ulama-ulama tauhid dan sunnah di negeri tauhid Saudi Arabia khususnya. Lihat sebagian pernya-taan-pernyataannya yang pernah dimuat dalam majalah Asy Syari’ah Vol. I/No. 12/1425 H/2005. Lihat pula kitab Al-Ajwibah Al-Mufidah karya Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hal. 51-57; Al-Irhab karya Asy-Syaikh Zaid Al-Madkhali, hal. 67-77. Kelompok ini pun tak segan-segan melakukan tindakan fisik untuk mewujudkan permusuhannya terhadap dakwah Tauhid dan para da’inya, sebagaimana telah terjadi di beberapa tempat. Di antaranya adalah yang terjadi di negeri Yaman berupa penembakan brutal dan sporadis terhadap sejumlah Ahlus Sunnah di sebuah masjid, yang menyebabkan sebagian mereka terbunuh. Bahkan salah satu tokoh IM di negeri Yaman mengancam Ahlus Sunnah dengan pernyataannya: “Jika seandainya kami memiliki kekuatan, niscaya kami akan memerangi Wahhabiyyin sebelum kami memerangi kaum komunis.” Hal ini sebagaimana dikisahkan Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’irahimahullah dalam beberapa kali ceramah beliau. Lebih dari itu semua, apa yang telah terjadi di Afghanistan dengan terbunuhnya seorang mujahid Ahlus Sunnah, yaitu Asy-Syaikh Jamilurrahmanrahimahullah. Pembunuhnya adalah salah seorang dari kelompok IM yang dikenal dengan Abu ‘Abdillah Ar-Rumi. Dia datang ke Afghanistan membawa kebencian yang sangat besar terhadap Ahlus Sunnah dan menjulukinya dengan Wahhabiyyah. Pembunuhan sadis ini di pada hari Jum’at 20 Shafar 1412 H/ 30 Agustus 1991 M sebelum Asy-Syaikh Jamilurrahman berangkat menuju shalat Jum’at. Pembunuh kejam itu mendatangi beliau sebagai tamu yang hendak memeluknya. Tanpa disangka ternyata orang ini melepaskan tembakan ke arah Asy-Syaikh dan tepat mengenai wajah dan kepala beliau! Inilah sekelumit contoh permusuhan dan kebencian tokoh-tokoh besar IM terhadap para ulama tauhid dan sunnah serta negeri tauhid Saudi Arabia.

> Hizbut Tahrir
Kelompok Hizbut Tahrir (HT) adalah sebuah kelompok sempalan yang didirikan Taqiyyuddin An-Nabhani di negeri Yordania pada tahun 1372 H/1953 M. Selengkapnya bisa pembaca dapati pada majalah Asy Syari’ah Vol. II/No. 16/1426 H/2005. Namun yang hendak kita tampilkan di sini adalah bentuk kebencian dan permusuhan HT terhadap Daulah Tauhid dan para ulamanya. Permusuhan itu diwujudkan dalam statemen-statemen mereka dan karya-karya tulisnya. Di antaranya adalah apa yang disebutkan dalam buku berbahasa Inggris How The Khilafah Destroyed (Kaifa Hudimat Al-Khilafah) karya Abdul Qadim Zallum yang diterbitkan Khilafah Publication London England. Buku ini adalah salah satu buku refensi utama dalam perjalanan HT. Dalam buku ini, penulisnya telah menuduh Daulah Tauhid sebagai suatu bentuk konspirasi Barat dalam meruntuhkan Khilafah ‘Utsmaniyyah, dengan mengkambinghitamkan Al-Amir Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Su’ud rahimahullah dan menyatakan beliau sebagai agen Inggris. Padahal justru beliau adalah seorang yang telah menyerahkan waktu, tenaga, pikiran, dan hidupnya untuk membela dan menegakkan tauhid sebagaimana telah kami sebutkan di atas. Tuduhan HT ini sama sekali tidak disertai dengan bukti dan fakta ilmiah. Tapi yang ada hanya sebatas analisa dan klaim semata. Sebaliknya telah kami paparkan di atas dengan bukti-bukti ilmiah bahwa ternyata Dinasti ‘Utsmani-lah yang sebenarnya bersekongkol dan diperdaya oleh negara-negara kafir Eropa dalam memerangi dakwah tauhid dan sunnah. Kemudian mereka juga menuduh gerakan Dakwah Tauhid sebagai gerakan pemberontakan terhadap Dinasti ‘Utsmani. Tuduhan ini pun adalah tuduhan yang batil dan dusta, sebagaimana telah kami bahas di atas. Masih dalam buku tersebut di atas, penulis HT ini menuduh bahwa Al-Amir Su’ud bin Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Su’ud telah menghancurkan bangunan kubah di atas makam RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam serta mempereteli batu perhiasan dan ornamen-ornamennya yang sangat berharga. Namun itu semua adalah dusta. Bahkan dengan itu, penulis HT ini telah mengikuti jejak para orientalis Eropa belaka, sebagaimana telah dijelaskan di atas. Tak kalah serunya adalah salah satu tokoh HT yang bernama Muhammad Al-Mis’ari ikut meramaikan permusuhan kelompok ini terhadap dakwah dan negara tauhid dalam beberapa statemennya. Di antaranya adalah pernyataan dia yang dimuat oleh surat kabar Asy-Syarqul Ausath edisi 6270, terbit pada hari Jum’at 8 Ramadhan 1416 H:
“Sesungguhnya kondisi saat ini di negeri Saudi Arabia yang tidak mengizinkan bagi kaum Masehi (Nashara, pent.) dan Yahudi untuk mempraktekkan syi’ar-syi’ar ibadah secara terang-terangan akan berubah dengan tampilnya Komisi ini19 di medan hukum. Bahwasanya pemberian hak kepada kaum minoritas adalah wajib, dalam bentuk hak untuk melaksanakan syi’ar-syi’ar agama mereka di gereja-gereja mereka, serta hak untuk mendapatkan pengakuan resmi atas pelaksanaan akad pernikahan sesuai dengan aturan agama mereka secara khusus serta hak-hak lainnya, sebagai bentuk penyempurnaan terhadap kebebasan kehidupan keagamaan dan kehidupan pribadi mereka secara sempurna. Baik mereka itu dari kaum Yahudi, Masehi, ataupun kaum Hindu!!”

Kemudian dia berkata: “Sesungguhnya pembangunan gereja-gereja adalah perkara yang mubah dalam syariat Islam.”20

Dia pun dengan lancang mencaci maki Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab —sang Mujaddid yang berdakwah untuk memurnikan tauhid umat ini dan menjauhkan mereka dari kesyirikan dan bid’ah— dengan statemennya yang dia ucapkan dalam sebuah selebaran resmi yang dikeluarkan CDLR dari London pada hari Kamis 22 Syawwal 11415 H / 23 Maret 1995 M:
“Kedua: Saya tidak akan membahas tentang aqidah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Namun saya hanyalah menyebutkan tentang sebuah realita, yaitu bahwasanya dia (Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, pent) adalah seorang yang berpemikiran nyleneh dan bukanlah seorang yang alim. Dia adalah seorang yang diliputi dengan berbagai masalah dan cara bersikap nyleneh yang memang sesuai dengan kenylenehan kaum di Najd pada masa itu…”

Nampak sekali kebencian tokoh besar HT yang satu ini terhadap dakwah tauhid sekaligus menunjukkan kebodohannya tentang tauhid itu sendiri. Namun yang sangat aneh dari orang ini, ketika dia mencaci maki Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, pada saat yang sama dia memuji tokoh besar Syi’ah Rafidhah, Al-Khumaini, dengan pernyataannya:
“Sesungguhnya dia (Al-Khumaini, pent) adalah seorang pemimpin bersejarah yang agung dan jenius…”
Dalam selebaran yang sama pula, dengan penuh arogansi dia mencaci maki salah satu imam dakwah ini, yaitu Al-Imam Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Bazrahimahullah dengan pernyataannya:
“Pertama: Saya tidak menuduh Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz dengan kekufuran. Namun saya menyatakan dengan satu kata bahwa mayoritas ulama dan masyayikh berpandangan bahwasanya dia (Ibnu Baz) setelah (mengeluarkan) fatwanya tentang bolehnya upaya perjanjian damai dengan Israil telah sampai ke sebuah tahapan yang mendekati kepada kekufuran. Saya hanya menukilkan pendapat para ulama dan masyayikh tersebut. Adapun pendapat saya pribadi adalah beliau (Asy-Syaikh Ibnu Baz, pent) telah sampai pada derajat pikun, bodoh, dan kelemahan yang sangat rendah.”21. Bantahan tuntas atas ucapan keji ini para pembaca bisa mendapatinya dalam buku kami Mereka Adalah Teroris (Bantahan Aku Melawan Teroris) hal. 325-326 footnote no. 215. Begitu pula tentang jawaban hukum perdamaian dengan kaum kafir, lihat hal. 203-219 (cet. II/Edisi Revisi). Subhanallah… Betapa kejinya ucapan tersebut! Seseorang yang berdakwah untuk memurnikan tauhid umat serta menjauhkan dari kesyirikan dibenci, dicaci maki, dan dituduh dengan tuduhan-tuduhan dusta. Sementara seorang Syi’ah Rafidhah, semacam Khumaini, yang menyeru kepada kesesatan dan kekufuran disanjung dan dipuji. Inikah sebuah Hizb dan tokohnya yang konon menginginkan tegaknya khilafah??! Sayang sekali Al-Mis’ari yang telah mengumumkan kebenciannya terhadap daulah tauhid serta ulamanya dan merasa gerah hidup di tengah-tengah muslimin, justru rela dan merasa tentram tinggal di negeri kufur dengan perlindungan hukum dari mereka.

> Al-Qa’idah (Al-Qaeda, red.)
Jaringan Al-Qa’idah, yang merupakan jaringan khawarij terbesar masa kini, juga tak kalah besar kebencian dan permusuhannya terhadap daulah tauhid dan sunnah serta para ulamanya. Kebencian tersebut tidak hanya dituangkan dalam bentuk statemen-statemen para tokohnya, bahkan juga dalam bentuk serangan fisik dan teror.
Usamah bin Laden mencaci maki salah seorang imam besar Ahlus Sunnah pada masa ini, yaitu Al-Imam Abdul ‘Aziz bin Bazrahimahullah, di antaranya dalam suratnya yang ditujukan kepada Al-Imam Ibnu Baz tanggal 27/7/1415 H yang dikeluarkan Hai`ah An-Nashihah (Lembaga Nasehat) di negeri London, Usamah berkata:
“Dan kami mengingatkan engkau —wahai syaikh yang mulia— atas beberapa fatwa dan sikap-sikap yang mungkin Anda tidak mempedulikannya, padahal fatwa-fatwa tersebut telah menjerumuskan umat ini ke dalam jurang kesesatan (yang dalamnya) sejauh (perjalanan) 70 (tujuh puluh) tahun.”

Dengan tegas dan lugas, Usamah bin Laden menghukumi daulah tauhid Saudi Arabia sebagai negara kafir. Hal ini sebagaimana dimuat dalam koran Ar-Ra`yul ‘Am Al-Kuwaity edisi 11-11-2001 M, dalam sebuah wawancara dengan Usamah bin Laden, ia menjawab:
“Hanya Afghanistan sajalah Daulah Islamiyyah itu. Adapun Pakistan dia memakai undang-undang Inggris. Dan saya tidak menganggap Saudi itu sebagai Negara Islam….”

Usamah juga memvonis kafir Putra Mahkota Abdullah bin Abdul ‘Aziz –waktu itu dan kini sebagai Raja Negara Saudi Arabia—, yaitu dalam ucapannya yang terakhir untuk rakyat Iraq pada bulan Dzulhijjah 1423 H:
“…… Maka para penguasa tersebut telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya dan sekaligus MEREKA TELAH KELUAR DARI AGAMA (ISLAM) INI dan berarti mereka juga telah mengkhianati umat.”

Dengan bangga Usamah menyanjung para teroris yang melakukan aksi peledakan di negeri tauhid tersebut:
“Aku (Usamah) memandang dengan penuh pemuliaan dan penghormatan kepada para pemuda yang mulia, yang telah menghilangkan kehinaan dari umat ini, baik mereka yang telah meledakkan (bom) di kota Riyadh, atau peledakan di kota Khubar, ataupun pele-dakan-peledakan di Afrika Timur dan yang semisalnya.”

Dalam dua peledakan ini, terkhusus di Kota Khubar, memakan 18 korban jiwa yang mayoritasnya adalah muslimin, serta 350 lebih luka-luka dan sebagiannya lagi menderita cacat seumur hidup. Tidak cukup itu, bahkan Usamah “membumbui” kebenciannya terhadap daulah tauhid dengan kedustaan. Di antara kedustaannya adalah pernyataan dia bahwa kaum Salibis telah menduduki Masjidil Haram.
Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:
1 Lihat kitab Al-Imam Muhammad bin ‘Abdil Wahhab wa Da’watuhu wa Siratuhu, karya Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz, hal. 23; lihat pula kitab Tash-hihu Khatha`in Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah, karya Dr. Muhammad bin Sa’d Asy-Syuwai’ir, cet. III hal. 91.
2 Lihat kitab Tash-hihu Khatha`in Tarikhi Haula Al Wahhabiyyah, karya Dr. Muhammad bin Sa’d Asy-Syuwai’ir, hal. 63-67 (cet III/1419 H).
3 Ibid, hal. 77-78.
4 Lihat kitab Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Mushlihun Mazhlumun wa Muftara ‘alaihi, karya Al-Ustadz Mas’ud An-Nadwi, hal. 139.
5 Lihat kitab Imam wa Amir wa Dakwah likulli Al-‘Ushur karya Ahmad bin Abdul ‘Aziz Al-Hushain, penerbit Daruth Tharafain cet. I th. 1993, hal. 191, dan penulis mengisyaratkan pada kitab Jaulah fi Biladil ‘Arab hal. 104-111
6 Lihat kitab Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Mushlihun Mazhlumun wa Muftara ‘alaihi, karya Al Ustadz Mas’ud An-Nadwi, hal. 139
7 Shalat Khauf yaitu shalat fardhu yang ditegakkan ketika sedang berkecamuk perang, dengan beberapa tata cara tertentu yang telah diajarkan RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat berbeda dengan tata cara pelaksanaan shalat fardhu di luar waktu pertempuran.
8 Dinukil dari kitab Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Mushlihun Mazhlumun wa Muftara ‘alaihi, karya Al-Ustadz Mas’ud An-Nadwi, hal. 152-153.
9 Lihat kitab Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Mushlihun Mazhlumun wa Muftara ‘alaihi, karya Al-Ustadz Mas’ud An-Nadwi, hal. 141.
10 Lihat kitab Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Mushlihun Mazhlumun wa Muftara ‘alaihi, karya Al-Ustadz Mas’ud An Nadwi, hal. 199.
11 Lihat kitab Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Mushlihun Mazhlumun wa Muftara ‘alaihi, karya Al-Ustadz Mas’ud An-Nadwi, hal. 226-227.
12 Ibid, hal. 236.
13 Ibid, hal. 237.
14 Ibid, hal. 214
15 Yaitu sebuah aliran yang menetapkan bahwa AllahSubhanahu wa Ta’ala memiliki jasmani seperti layaknya makhluk. Ini adalah aliran sesat yang keluar dari prinsip manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah.
16 Lihat kitab Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Mushlihun Mazhlumun wa Muftara ‘alaihi, karya Al-Ustadz Mas’ud An-Nadwi, hal. 213
17 Revolusi Iran Khumaini telah banyak mempengaruhi pemikiran para aktivis dan pergerakan Islam di mancanegara untuk melakukan tindakan-tindakan teror dan pembunuhan-pembunuhan serta menebarkan pemikiran bernuansa terorisme pada kaum muda Islam. Bahkan secara terbuka kelompok Al-Ikhwanul Muslimun menyatakan dukungannya terhadap Revolusi Iran ini.
18 Lihat kitab Da’watul Ikhwanil Muslimin fi Mizanil Islam, hal. 175-203. Untuk mengetahui lebih banyak tentang kesesatan aqidah dan pemikiran Yusuf Al-Qaradhawi, lihat buku Membongkar Kedok Yusuf Al-Qaradhawi cet. Pustaka Salafiyah, Depok
19 Komisi yang dimaksud adalah Lajnah Ad-Difa’ ‘anil Huquqisy Syar’iyyah (Komisi Pembelaan Hak-hak Syari’ah) [C.D.L.R] yang berpusat di London, di mana Muhammad Al-Mis’ari ini sebagai Juru Bicara Resminya. Komisi ini banyak mengeluarkan statemen dan tindakan-tindakan yang berisi provokasi untuk membenci dan melawan pemerintah Saudi Arabia. Selengkapnya tentang Komisi ini dan fatwa para ulama sunnah tentangnya bisa dibaca pada buku Mereka Adalah Teroris hal. 370-374 (edisi revisi).
20 Lihat kitab Al-Ajwibah Al-Mufidah, hal. 38-39 (cet. II) Percetakan Darus Salaf.
21 Lihat kitab Al-Quthbiyyah hiyal fitnah Fa’rifuha Abu Ibrahim bin Sulthan, hal. 115.

manhajul-anbiya.net/





Kamis, 07 Januari 2016

47 TERORIS DIEKSEKUSI DEMI MENEGAKKAN KEADILAN DAN RAHMAT DI MUKA BUMI




Berbuatlah wahai Pemerintah Saudi Arabia, tetap kokohlah di atas Tauhid dan Sunnah

Jangan pedulikan protes Syi'ah Iran si pendukung terorisme

~~~~~~~~~~~~~~~~

 Di antara bentuk kejahatan adalah kejahatan MENCABUT BAI’AT (JANJI SETIA) TERHADAP PEMERINTAH dan MEMBERONTAK TERHADAPNYA, SERTA MEMECAH KESATUAN NEGARA. Barangsiapa melakukan itu, maka dia HALAL darahnya, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam :

« من أتاكم وأمركم جميع على رجل واحد، يريد أن يشق عصاكم، أو يفرق جماعتكم، فاقتلوه »

“Barangsiapa yang datang kepada kalian ketika kondisi kalian bersatu di bawah kepemimpinan satu orang, dia menginginkan untuk memecah barisan kalian, atau memecah persatuan kalian, maka BUNUHLAH dia.” (HR. Muslim)

 Syari’at memberikan ketentuan adanya hukuman-hukuman ta’zir (sanksi keras) yang dipandang oleh pemerintah tepat untuk diterapkan terhadap kejahatan-kejahatan yang terjadi, yang di sana tidak terdapat penentuan hukuman had. Maka boleh bagi pemerintah untuk menghukum pelaku kejahatan, walaupun harus berupa hukuman bunuh, jika kemashlahatan memang mengharuskan demikian. Ini adalah madzhab Malik dan pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, serta muridnya Ibnul Qayyim.

Di antara berita gembira besar adalah berita gembira DITEGAKKANYA HUKUM HAD (PIDANA) DAN TA’ZIR (SANKSI BERAT) terhadap sejumlah para terpidana  mati dalam kasus kejahatan :

Takfir (Pengkafiran),
Pembunuhan,
Perusakan di muka bumi,
Mencabut bai’at syar’iyyah (janji setia kepada pemerintah),  dan
Memberontak terhadap negara muslimin

Ya, ini merupakan berita gembira yang sangat menyenangkan. Kegembiraan karena penegakan had (hukum pidana) sya’ri merupakan KEGEMBIRAAN YANG SYAR’I.

Dengan menegakkannya berarti menegakkan hukum Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah ‘Azza wa Jalla cinta apabila syari’at-Nya ditegakkan dan hukum-hukum-Nya dilaksanakan.

Dengan menegakkan hukum had, akan menjadi penghalang bagi orang-orang jahat dan para perusak serta orang-orang yang menjerumuskan dirinya, agar TIDAK MENGIKUTI JEJAK MEREKA (orang-orang yang dijatuhi hukuman tersebut/terpidana).

Berapa banyak pada hari ini orang-orang yang mengurungkan diri, seperti seorang yang berniat untuk meniru mereka atau berbuat seperti perbuatan mereka, tatkala dia melihat pedang ditebaskan ke leher-leher mereka (para terpidana) maka dia pun menahan dirinya dan menahan tangannya.

Maka dengan adanya hukum had tersebut selamatlah jiwa-jiwa, kokohlah keamanan, persatuan makian kuat, dan NEGARA SEMAKIN BERWIBAWA. Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

{وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (179)} [البقرة: 179]

“Dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagi kalian, wahai orang-orang yang berakal, supaya kalian bertaqwa.”  (al-Baqarah : 179)

Ya, sungguh merupakan qishaash merupakan jaminan kehidupan bagi jiwa, individu maupun masyarakat, harta, dan kehormatan.

Dengan menegakkan hukum had membuka pintu-pintu barakah dan akan turun berbagai kebaikan lebih banyak daripada kebaikan yang turun karena hujan dari langit. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam :

«حَدٌّ يُعْمَلُ بِهِ فِي الْأَرْضِ، خَيْرٌ لِأَهْلِ الْأَرْضِ مِنْ أَنْ يُمْطَرُوا أَرْبَعِينَ صَبَاحًا»

“Satu hukum had diterapkan di muka bumi, maka itu LEBIH BAIK untuk penduduk bumi daripada diberi hujan selama empat puluh hari.” (HR. an-Nasa’i dan Ibnu Majah, dihasankan oleh al-Albani)

Sesungguh sekelompok penjahat sesat ini telah menempuh cara-cara kaum KHAWARIJ. Mereka mengkafirkan pemerintah dan ulama kita, serta aparat keamanan. Mereka menghalalkan darah yang terjamin keamanannya, baik dari kalangan muslimin maupun orang-orang kafir yang terikat perjanjian dengan kita. Melakukan upaya perusakan di muka bumi, berupa pembunuhan, peledakan, pembunuhan rahasia, menargetkan pusat-pusat perekonomian utama, dan menakut-nakuti orang-orang yang terjaga keamanannya, merampas hak-hak secara paksa.

Maka sudah selayaknya ditegakkan atas mereka hukum syar’i yang suci ini, dengan hukuman hirabah pada sebagiannya, dan lainnya hukuman pembunuhan, sebagai sanksi keras terhadap mereka, dan sebagai pelajaran bagi yang lainnya, sekaligus membersihkan masyarakat dari kejelekan-kejelekan mereka.

Maka wajib atas kita untuk berterima kasih terhadap negara kita, mendoakan kebaikan untuknya, dan mendukungnya, serta memujinya dengan pujian yang pantas atas pelaksanaan hukum Allah dan tidak mengenal adanya nepotisme terhadap siapapun. Sebagai realisasi firman Allah :

{وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّه} [النور: 2]

dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, (an-Nuur : 2)

Sebagaimana pula, di antara kewajiban terbesar kita adalah MEMAHAMKAN putra-putri kita akan bahaya paham takfir yang sesat itu, dan bahayanya bergabung dengan kelompok-kelompok yang memiliki dasar pemikiran takfir, serta bahaya mendengar dan memperhatikan siapapun yang mempropagandakan pemikiran tersebut, atau membelanya, atau mengkritik negara baik secara terang-terangan maupun sindiran dalam berbagai kebijakan-kebijakannya yang tegas terhadap kelompok-kelompok sesat tersebut dan para anggotanya. Supaya nasib akhir putra-putri kita tidak berujung seperti nasib akhir mereka, wal’iyyadzu billah.

Ya Allah jagalah negeri kami dengan penjagaan dari-Mu, lindunglah dengan pengawasan-Mu, serta lindunglah pemerintah kami. Berilah kepada mereka tambahan kemuliaan, taufiq, dan dukungan. Ya Allah wahai yang mengabulkan do’a.

Diambil dari khutbah berjudul "Iqamatul Hudud ‘Adl wa Rahmah", DR. Ali al-Haddadi (www.haddady.com)

••••••••••••••••••••

Majmu'ah Manhajul Anbiya
Channel Telegram https://bit.ly/ManhajulAnbiya

~~~~~~~~~~~~~~~~~~