Sabtu, 19 Maret 2016

PENTINGNYA AQIDAH DAN TAUHID BAGI SEORANG MUSLIM


Rekaman – Audio Kajian Kajian Islam Ilmiyyah Denpasar
Sabtu, 09 Jumadil Tsaniyah 1437H / 19 Maret 2016M
Masjid Raya Ukhuwwah Jl.Kalimantan No.19 Denpasar – Bali

Pemateri : Al Ustadz Abu ‘Aliyah Ali Nurdin حفظه الله تعالى

Tema: PENTINGNYA AQIDAH DAN TAUHID BAGI SEORANG MUSLIM

‘ALIYAH ALI NURDIN حفظه الله تعالى

Sumber: @ ARS || Radio An-Najiyah Bali 
AudioKajian.Com

Mereka Lebih Berbahaya daripada Ahlu Bid’ah Itu Sendiri !




Oleh : Asy Syaikh Al ‘Allamah Muhammad bin Hadi Al Madkhali Hafizhahullah

Keadaan Orang yang Duduk-duduk dengan Ahlu Bid’ah dan Mengaku Sebagai Seorang Ahlus Sunnah

Dalam Shahih Muslim dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَثَلُ الْمُنَافِقِ كَمَثَلِ الشَّاةِ الْعَائِرَةِ بَيْنَ الْغَنَمَيْنِ تَعِيرُ إِلَى هَذِهِ مَرَّةً وَإِلَى هَذِهِ مَرَّةً لا تَدْرِي أَيُّهُمَا تَتْبَعُ.

“Permisalan seorang munafik adalah seperti domba yang kebingungan diantara dua kambing. Terkadang dia bergabung dengan gerombolan yang ini dan terkadang dengan yang itu, dia tidak tahu rombongan mana yang akan dia ikuti.”

Inilah keadaan mereka yang duduk-duduk dengan ahlu bid’ah dan mengaku bahwa dirinya sebagai seorang sunni, namun dia juga duduk-duduk dengan Ahlus Sunnah, maka keadaannya seperti yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Seperti domba yang kebingungan di antara dua rombongan kambing.”

Ia bingung dan mondar-mandir antara dua rombongan ini. Dia terkucilkan dan tidak tahu akan pergi bersama kelompok ini atau itu hingga dia binasa. Kita memohon kepada Allah keselamatan dan kesejahteraan. Hadits ini terdapat dalam Shahih Muslim.

Penulis (Ibnu Baththah) rahimahullah dalam Al-Ibanah Al-Kubra mengometari hadits ini: “Jenis orang seperti ini pada masa kita telah banyak jumlahnya. Semoga Allah tidak memperbanyak jumlah mereka.”

Masa beliau adalah abad keempat Hijriyah. Sekarang kita berada pada abad ke-15 H. Jarak antara kita dengan beliau adalah sekitar 1066 tahun. Beliau mengucapkannya pada masa itu: “Jenis orang seperti ini pada masa kita telah banyak jumlahnya. Semoga Allah tidak memperbanyak jumlah mereka.”

Benar, lalu apa yang akan kita katakan pada masa sekarang?! Innalillah wa inna ilaihi raji’un. Inilah gerombolan yang terhina pada masa sekarang. Kita memohon keselamatan kepada Allah. Mereka itulah orang-orang mendatangkan kebinasaan kepada Ahlus Sunnah dan orang-orang yang berakidah lurus. Mereka–demi Allah– lebih berbahaya bagi Ahlus Sunnah daripada ahlu bid’ah yang menampakkan dengan terang-terangan dan asli.

Beliau rahimahullah mengatakan: “Jenis orang seperti ini pada masa kita telah banyak jumlahnya. Semoga Allah tidak memperbanyak jumlah mereka. Semoga Allah menyelamatkan kita dan Anda semua dari kejahatan kaum munafikin, dan dari tipu daya orang-orang yang menyimpang. Dan semoga Allah tidak menjadikan kita dan kalian sebagai orang-orang yang mempermainkan agama. Tidak pula menjadikan kita sebagai orang-orang yang dirasuki dan dikuasai oleh setan sehingga menjadi orang-orang murtad, berbalik ke belakang, dan terhenti kebingungan.”

Ini pernyataan beliau dalam Al-Ibanah Al-Kubra rahimahullah.

Wahai saudaraku dan anak-anakku, ini semua penjelasan keadaan tentang orang-orang yang duduk-duduk dengan ahli bid’ah dan ahlul ahwa. Yaitu hanya semata duduk-duduk saja. Lalu bagaimana dengan mereka yang menjadikan ahli bid’ah sebagai sahabat dan teman dekat?! Bagaimana pula dengan mereka yang membela ahli bid’ah?! Tidak diragukan lagi bahwa orang seperti ini termasuk dari kalangan ahli bid’ah itu karena dia telah menjelaskan dengan terang-terangan melalui lisannya untuk membela mereka. Padahal Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman:

وَلَا تُجَادِلْ عَنِ الَّذِينَ يَخْتَانُونَ أَنْفُسَهُمْ

“Dan janganlah engkau berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya.” (QS. An-Nisa’: 107)

http://ar.miraath.net/fawaid/4964

Mengapa Orang yang Duduk-duduk dengan Ahlul Bid’ah Lebih Berbahaya Bagi Kita dari Ahlul Bid’ah Itu Sendiri?

Jawaban: Dikarenakan ahlu bid’ah telah Nampak jelas perkaranya. Keadaan mereka juga sudah terlihat jelas sehingga kaum muslimin akan hati-hati dari mereka.Namun orang yang menampakkan dirinya sebagai seorang Sunni dan di atas jalan Ahlus Sunnah sedangkan dia duduk-duduk dengan mereka, maka orang yang seperti ini lebih berbahaya bagi kita daripada ahlu bid’ah itu sendiri.Mengapa? Karena kemungkinan untuk tertipu dan terkecoh olehnya jauh lebih banyak, dia akan dengan mudah mengecoh kaum muslimin secara umum dan menipu orang-orang awam.

Jadi kaum muslimin bisa tertipu olehnya dari dua arah:

Pertama: Mereka duduk-duduk dengan ahlu bid’ah. Sehingga kaum muslimin akan mengatakan ketika melihat kepada ahlu bid’ah yang seorang Sunni tersebut duduk-duduk dengannya: “Kalau memang pada dirinya ada penyimpangan, tentulah si Fulan itu tidak akan duduk-duduk dengannya karena dia seorang Sunni yang kita telah mengenalnya.” Sehingga kaum muslimin akan tergelincir karenanya.

Kedua: Dia akan menjauhkan kaum muslimin dari Ahlus Sunnah dan dari jalan Ahlus Sunnah dalam sikap menjauhi ahlul bid’ah, sehingga dia akan membawa mereka keperkumpulan ahli bid’ah. Karena ketika dia membela dan mendukung ahli bid’ah setelah duduk dan berteman dengannya, dia menjadi orang yang sejenis dengan ahli bid’ah itu dalam jalan mereka. Sehingga orang yang pada masa dahulu mengenalnya sebagai orang yang berjalan di atas sunnah akan tertipu olehnya dan tergelincir karenanya.

http://ar.miraath.net/fawaid/4962

WA PENCARI AL-HAQ

Kamis, 17 Maret 2016

APAKAH HAJR HANYA HAK ULAMA ?




Oleh Al-Ustadz Luqman Ba'abduh hafizhahullah

[ Pertanyaan ]

Apakah MENGHAJR (memboikot) itu hanya hak para ulama?

[ Jawab ]

LAA (TIDAK)!! HAJR ITU HAKNYA KAUM MUKMUMIN, ULAMA SALAH SATUNYA. Baarakallahu fiikum.

Jadi, HARJ salah satu ibadah dalam Islam.

Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan:

« … وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ »

“Jika engkau mendapati orang-orang yang berbicara tentang ayat-ayat kami tanpa ilmu (mungkin ditakwil, ditahrif, ayat-ayat diletakkan bukan pada tempatnya, dijadikan dalil bukan pada perkara yang sebenarnya) maka berpalinglah engkau dari majelis mereka itu ...” [Qs. al-An’ām : 68]

Ini termasuk HAJR..!! Iya -baarakallahu fiikum- rasul saja diperintahkan oleh Allah, kaum mukminin juga demikian.

Ketika Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam menyatakan:

« إذا رأيت الذين يتبعون ما تشابه منه فأولئك الذين سماهم الله فاحذروهم »

“Jika Engkau melihat orang-orang yang selalu mengikuti perkara-perkara yang syubhat (yang samar), maka mereka itulah orang-orang yang Allah sebut tentang mereka (memiliki penyimpangan di dalam hatinya), maka berhati-hatilah kalian dari mereka.” [muttafaq 'alaihi]

… perintah dari nabi
▪️untuk meninggalkan mereka,
▪️menjauhi mereka,
▪️mewaspadai mereka
 ini bagian daripada HAJR.

️SIAPA YANG DIPERINTAH OLEH NABI UNTUK MENGHAJR ?
Kita, ummat (kaum mukminin)
dengan bimbingan ulama.

Al-Imam Ahmad rahimahullah, tadi yang sudah disebutkan … beliau ditanya tentang seorang ahli bid’ah (Al-Karabisi), Al-Imam Ahmad menyatakan, “Jangan engkau berbicara dengannya” … siapa yang diperintah oleh Imam Ahmad untuk menghajar? Al-Imam Ahmad yang berfatwa ... ya -baarakallahu fiikum-.

Begitu juga hadits yang diriwayatkan dari shahabat Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma-, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah ... tentang kaum Qadariyah, sebagaimana dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:

« الْقَدَرِيَّةُ مَجُوْسُ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِنْ مَِرضُوْا فَلاَ تَعُوْدُوْهُمْ وَإِنْ مَاتُوْا فَلاَ تَشْهَدُوْهُمْ »

“Al-Qadariyyah itu Majusinya umat ini. Jika mereka sakit, maka jangan dijenguk. Dan jika meninggal dunia, jangan disaksikan (dihadiri) jenazahnya.” [HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah, hadits no. 338 dan dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Zhilalul Jannah]

Subhanallah, -baarakallahu fiikum-. DEMIKIAN INI ADALAH HAJR,
▪️dilakukan oleh ulama,
▪️dilakukan oleh ummat
dan ummat dihimbau (untuk mengHAJR) namun semuanya berdasarkan ilmu, bimbingan dan fatwa para ulama atau orang yang mengikuti jejak dan nasehat para ulama.

Baarakallahu fiikum.

Link audio:
http://bit.ly/21v7fNh (Durasi: 3:46)

Kajian Ilmiyah Bondowoso, Tema: “PENTINGNYA NASEHAT (KAEDAH & ADAB-ADABNYA)” •• Ahad, 13 Rabi’ul Awwal 1436H ~ 04.01.2015M


Edisi: مجموعة الأخوة  السلفية [-MUS-]

APA KESAMAAN ANTARA AHLUL BID'AH DAN AHLUL AHWA ? BOLEHKAH VONIS HIZBI ATAU MUBTADI' DILAKUKAN OLEH THALIBUL ILMI (TIDAK HARUS ULAMA) ? APA BEDA HIZBI DAN MUBTADI' ?




Oleh Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf hafizhahullah

[ Pertanyaan ]

Apakah ada kesamaan antara ahlul bid'ah dan ahlul ahwa?

[ Jawab ]

NA'AM.
Ahlul bida'ah dan ahlul ahwa 11-12!!

AHLUL BID'AH DIKATAKAN AHLUL AHWA.. KENAPA?

Karena mereka mengikuti hawa nafsu..!! Na'am.


__________________



[ Pertanyaan ]

Apakah vonis hizbi atau mubtadi' boleh dilakukan oleh thalibul ilmi, tidak mesti ulama spt vonis hizbi kpd jafar salih dst...?

[ Jawab ]

IYA..

 INI KAITANNYA DGN MASALAH JARH YG DILAKUKAN OLEH SEORANG PENUNTUT ILMU, BUKAN SEORANG 'ALIM.

Ditanyakan kpd masyayikh, Syaikh Rabi', masyayikh yg lainnya... jawabannya, BOLEH..!!
kalau memang mutamakkin
dan memang mengetahui penyimpangan-penyimpangan seseorang.

JADI, TIDAK MESTI MENUNGGU ULAMA.

Kalau kita sudah melihat ada seseorang menyimpang
️yg jelas penyimpangannya
dan orang itu juga bukan orang yang dikenal oleh para ulama,

YA PERINGATKAN..!! KITA PERINGATKAN..!!

Jangan sampai ada alasan, “Kan belum ditahdzir oleh ulama?” Apakah semua masalah harus menunggu tahdzir ulama..? TIDAK.!!

Kalau seorang thalabul ilmi itu
️mempunyai hujjah,
kuat,

tidak mengapa baginya untuk memberikan peringatan kepada ummat dari bahaya seseorang. na'am.


_________________



[ Pertanyaan ]

Apakah hizbi lebih ringan dari mubtadi' lalu apa beda hizbi dgn tabdi'?

[ Jawab ]

TERGANTUNG..!! TERGANTUNG TINGKAT KEHIZBIYAHANNYA.. IYA..

Mubtadi' juga hizbi..!! Iya..
Setiap mubtadi' adalah pasti hizbi namun tidak setiap hizbi mendapatkan cap Mubtadi'.

Seperti beda antara shahibu bid'ah dgn ahlul bid'ah.
Kalau shahib bid'ah adalah orang yang melakukan kebid'ahan, secara umum tidak tegak kepadanya hujjah.

️Adapun ahlul bid'ah, mubtadi' adalah orang yang melakukan kebid'ahan kemudian sudah tegak kepadanya hujjah. Baru dikatakan mubtadi'. Na'am

Wallahu a'lam bishshawab..

Link audio:
http://bit.ly/1R0KmQh

Sesi Tanya Jawab Kajian Masjid Ibnu Taimiyah, Ma'had Daarus Salaf, Sukoharjo •• Ahad, 06 Rabu'ul Awwal 1436H ~ 28.12.2014M


Edisi: مجموعة الأخوة  السلفية [-MUS-





Rabu, 16 Maret 2016

DIDIKLAH DIRI KALIAN UNTUK BERSIKAP TAWADHU’, JUJUR, DAN MENERIMA KEBENARAN



Asy-Syaikh Rabi’ bin Hady hafizhahullah

Janganlah sekali-kali kalian memiliki sifat keras kepala, hati-hatilah dari sifat ini, baarakallahu fiikum. Demi Allah, Rasul alaihis shalatu was salam dahulu beliau suka menerima musyawarah dengan para shahabat beliau.

Beliau alaihis shalatu was salam menerima pendapat-pendapat Umar yang bersumber dari Al-Qur’an dengan sangat mudah. Demikian Umar juga suka bermusyawarah dan suka mengumpulkan para shahabat yang ikut Perang Badr untuk diajak musyawarah.

Dan jika dia terjatuh pada sebuah kesalahan, maka dia segera rujuk dengan sangat mudah. Ini merupakan jalan orang-orang yang beriman yang jujur. Jadi seorang mu’min memiliki sifat yang mudah dan lembut sikapnya.

Yaitu pada dirinya tidak terdapat sikap sombong, tidak takabbur, dan tidak merasa tinggi. Dia menerima kebenaran dari orang yang jauh maupun yang dekat, dari orang yang tua maupun yang muda.

Jadi ini adalah jalan Islam yang benar. Jika seseorang terjatuh pada kesesatan, namun dia tidak mau rujuk, justru dia berusaha merubah-rubah dan mengganti-ganti kesalahannya (agar nampak benar –pent) dan dia mempermainkan akal manusia, maka sikap semacam ini merupakan hawa nafsu yang kronis (sangat parah –pent).

Maka berhati-hatilah ya ikhwan (wahai saudara-saudaraku –pent). Didiklah diri kalian untuk bersikap tawadhu’ dan jujur serta menerima kebenaran.

Semua anak keturunan Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang-orang yang banyak melakukan kesalahan adalah yang banyak bertaubat.

Siapa diantara kita yang terjatuh pada kesalahan, lalu dia diingatkan oleh saudaranya ataupun oleh musuhnya, maka hendaklah dia segera kembali kepada kebenaran.

Saya memohon kepada Allah agar memberikan taufik kepada kami dan kalian.

Alih bahasa: Abu Almass
Jum’at, 6 Ramadhan 1435 H

Sumber: http://forumsalafy.net/?p=4356

WA : Gema Daarussunnah

Selasa, 15 Maret 2016

SALAFIYUN ADALAH HIZBUR RAHMAN



️Al-Imam Rabi' bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah mengatakan :

“BERKELOMPOK
atas dasar kebenaran,
menyebarkannya,
mengorbankan jiwa dan harta untuknya,
ini adalah suatu kemuliaan.

Saat ini, ketika mereka melihat salafiyin bersatu padu dan saling membantu dalam perkara kebaikan dan ketakwaan sebagaimana apa yang Allah perintahkan,

mereka mengatakan, “Lihatlah ... mereka BERKELOMPOK-KELOMPOK ... !”

Ini adalah
PENGGEMBOSAN
dan OMONG KOSONG (ucapan yang tidak berfaedah).

AT-TAHAZZUB (berkelompok),
ada yang dibangun di atas KEBATILAN, itulah HIZBUSY SYAITHAN (balatentara setan)

dan ada yang dibangun di atas KEBENARAN, itulah HIZBUR RAHMAN (wali-wali Allah).”

[Al-Majmu 14/474]

⭐️قال الإمام ربيع بن هادي المدخلي -حفظه الله-:

”التحزب
للحق
ونشره
وتقديم النفس والمال من أجله؛
هذا شرف،

والآن لما يرون السلفيين متجمعين ويتعاونون على البر والتقوى كما أمر الله

يقولون: انظروا هؤلاء متحزبون!

هذا
تمييع
وكلام فارغ.

التحزب
إما لباطل فهو حزب الشيطان،
وإما لحق فهو حزب الرحمن.“

[المجموع، 474/14]

Sumber: http://bit.ly/ImamRabee

️http://salafymagelang.com
️http://bit.ly/salafymagelang
️IMS - Salafy Magelang

Edisi: مجموعة الأخوة  السلفية [-MUS-]

 #Nasehat #salafiyun #hizbur_rahman

BETULKAH MANHAJ AHLUSSUNNAH TIDAK SESUAI DENGAN KONDISI ZAMAN INI?




️Fatwa asy-Syaikh Shalih al-Fauzan –hafizhahullahu Ta’ala–

[ Pertanyaan ]

Sebagian manusia menyangka bahwa manhaj ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak layak pada saat ini. Mereka beralasan bahwa dhawabith syar’iyah (ketentuan-ketentuan syariat) yang dipandang oleh ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak mungkin untuk diterapkan saat ini?

[ Jawaban ]

Orang yang memandang bahwa manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak layak di zaman ini, DIA ADALAH ORANG YANG SESAT LAGI MENYESATKAN, karena manhaj salafush shalih adalah manhaj yang Allah Ta’ala perintahkan bagi kita untuk mengikutinya hingga hari kiamat.

Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam– bersabda,

« فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافا كثيرا فعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ بَعْدِي عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ »

“Sesungguhnya siapa saja yang hidup di antara kalian, akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang mendapatkan petunjuk setelahku. Pegangilah dia dan gigitlah erat-erat dengan gigi geraham.”[1] Ucapan ini ditujukan kepada umat ini hingga hari kiamat. Hal ini menunjukkan kewajiban berjalan di atas manhaj salaf dan manhaj salaf layak diterapkan di setiap waktu dan tempat.

Allah Ta’ala berfirman,

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka Jannah-jannah yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” [Q.S. At-Taubah: 100]

Kata “ORANG-ORANG YANG MENGIKUTI MEREKA DENGAN BAIK” mencakup umat ini hingga hari kiamat. Wajib bagi umat ini untuk mengikuti manhaj as-Sabiqun al-Awalun dari kalangan Muhajirin dan Anshar.

Al-Imam Malik bin Anas –rahimahullah– berkata:

لا يصلح آخر هذه الأمة إلا ما أصلح أولها

“Tidak ada perkara yang memperbaiki umat ini selain perkara yang memperbaiki awal umat ini.”

Siapa saja yang ingin memisahkan umat ini dari syariat mereka dan dari salafush shalih, dia menginginkan kejelekan bagi kaum muslimin, ingin mengubah agama islam, memunculkan bid’ah dan berbagai bentuk penyelisihan syariat. Hal semacam ini wajib untuk ditolak dan diputuskan hujjahnya, serta ditahdzir akan kejelekannya, karena berpegang dengan manhaj salaf dan mengikuti mereka adalah suatu keharusan. Harus berjalan di atas manhaj salaf. Semua ini ada di Kitabullah dan sunnah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam—sebagaimana apa yang kami sebutkan.

Siapa saja yang hendak memutuskan hubungan khalaf (akhir) umat ini dengan salaf (pendahulu)nya, dia adalah perusak di muka bumi ini. Ucapannya wajib ditolak dan dibantah, serta ditahdzir akan  bahayanya. Orang-orang yang makruf dengan ucapan yang jelek ini adalah Syi’ah dan orang-orang yang sejalan dengan mereka dari kalangan penyesat. Mereka tidak diperhitungkan.

.................
Keterangan:
[1] H.R. Ahmad di Musnadnya (4/126-127), Abu Dawud di Sunannya (4/200), at-Tirmidzi di Sunannya (7/319-320) seluruhnya dari shahabat al-‘Irbath bin Sariyah –radhiyallahu anhu–.

Sumber: [Irsyad Al-Khillan ilaa Fatawa al-Fauzan, soal: 466, 1/362]

WSI | http://forumsalafy.net/betulkah-manhaj-ahlussunnah-tidak-sesuai-dengan-kondisi-zaman-ini/

️WhatsApp Salafy Indonesia
Channel Telegram : http://bit.ly/ForumSalafy


Edisi: مجموعة الأخوة  السلفية [-MUS-]

Ⓜ️ #Manhaj #salaf #ahlussunnah_wal_jamaah

Senin, 14 Maret 2016

MENJAGA ILMU



Asy-Syaikh yang mulia Muhammad Bazmul -hafizhohullohu ta'ala- sebagaimana yang ada pada chanel telegramnya, beliau berkata :

" Terlintas dalam benak saya dan saya pun mendengar sebuah ungkapan sebagian masyayikh yang mulia tentang menjaga ilmu.

Saya sebutkan wasilah (perantara-perantara) penting untuk menjaga ilmu :

1. Wasilah pertama untuk menjaga ilmu yaitu mengamalkannya.

Dan (diriwayatkan) dalam atsar: "Ilmu memanggil amal. Jika dia (amal) menjawabnya (maka akan terjaga) dan jika tidak maka dia (ilmu) akan pergi."


2. Wasilah ke 2 untuk menjaga ilmu (adalah) mendakwahkannya.

Apa saja yang telah engkau pelajari, maka sebarkanlah dengan cara mendakwahkannya. Maka ini diantara perkara yang menjadikannya (ilmu tersebut) menetap di dalam dadamu.

3. Wasilah ke 3 untuk menjaga ilmu (adalah) menularkannya dan mengajarkannya.


4. Wasilah ke 4 (adalah) membuat karya tulis tentangnya.

Membuat karya tulis merupakan perkara yang membantu dalam menjaga (ilmu) dan (membantu) mengasilkan gambaran (yang baik tentang permasalahan ilmu tersebut).

Akan tetapi janganlah engkau tergesa-gesa menerbitkan karya tulismu sebelum disodorkan kepada seorang ahli ilmu (ulama).

Dan Alloh-lah yang memberikan taufiq.

Ibnul Jauziy telah menyebutkan perkara-perkara ini di dalam (kitab) Shoidul Khothir.


Dan Asy-Syaikh Al-'Allamah Zaid bin Muhammad bin Hadi Al-Madkholiy -rahimahulloh- mengatakan:

"Kemudian ketahuilah tanpa ragu dan bimbang, bahwa ilmu akan bertambah dan berkembang di sisi pemiliknya jika dia menyebarkannya kepada manusia."

Nashihah Gholiyah wa Kunuz Tsamin hal. 14


قال الشيخ الفاضل محمد بازمول -حفظه الله تعالى- كما في قناته على التليغرام:

✍ ""خطر في بالي وانا اسمع لبعض المشايخ الفضلاء كلاما عن حفظ العلم

ان اذكر وسائل هامة للحفظ ؛

- فأول وسيلة لحفظ العلم هي:  العمل به، وفي الاثر : "هتف العلم بالعمل فإن أجابه وإلا ارتحل".

- الوسيلة الثانية: لحفظ العلم الدعوة إليه، فما تعلمته انشره بالدعوة إليه فهذا مما يثبته في صدرك.

- الوسيلة الثالثة: لحفظ العلم تعليمه وتدريسه.

- الوسيلة الرابعة: التصنيف فيه. والتأليف يعين على الحفظ والتصور.

لكن لا تتعجل إخراج مصنفك قبل عرضه على اهل العلم .

والله الموفق.

ذكر هذه الامور ابن الجوزي في صيد الخاطر"".


و‏الشيخ العلامة زيد بن محمد بن هادي المدخلي -رحمه الله تعالى-:

✍ "ثم اعلم بدون شك ولا تردد أن العلم يزداد وينمو لدى صاحبه إذا هو نشره في الناس".

 نصيحة غالية وكنز ثمين ١٤.

http://cutt.us/zXFx0

 Ibnu abi Humaidi hafizhahullah
 Majmu'ah Ashhaabus Sunnah
 ©hannel telegram : http://bit.ly/ashhabussunnah

JANGAN KATAKAN SESEORANG SEBAGAI SALAFY HINGGA ENGKAU MEMASTIKAN BAHWA DIA BENAR-BENAR DI ATAS MANHAJ SALAF



Asy-Syaikh Rabi’ bin Hady hafizhahullah


 Penanya :

Syaikh, bagaimana kita bermuamalah dengan orang ini?

Asy-Syaikh:

Sebagaimana kalian bermuamalah dengan siapa saja yang menyelisihi manhaj Salaf, yaitu dengan cara menjauhi mereka, tetap mendakwahkan manhaj Salaf, kokoh di atasnya, mengokohkan manusia di atas manhaj ini, dan memperingatkan mereka dari siapa saja yang menyelisihi manhaj ini.


Penanya:

Apakah kita boleh mengatakan bahwa dia adalah seorang salafy ?

Asy-Syaikh:

Cukup hal ini, jangan katakan tentang orang yang menyelisihi manhaj ini bahwa dia adalah seorang salafy.


Penanya:

Maa syaa’ Allah.

Asy-Syaikh:

Jangan katakan seseorang sebagai salafy kecuali setelah engkau memastikan bahwa dia benar-benar di atas manhaj ini, merasa mulia dengannya, mendakwahkannya, dan membangun loyalitas dan permusuhan karenanya.


Penanya:

Maa syaa’ Allah.

Asy-Syaikh:

Yang seperti inilah seorang salafy itu. Bagaimana mungkin seseorang itu menjadi salafy, sementara dia bersikap loyal kepada ahli bid’ah, membela mereka, dan justru mencela Ahlus Sunnah. Maka yang seperti ini bukan seorang salafy dan dia tidak ada kehormatan baginya siapa pun dia, apakah dia orang Arab atau selain Arab, apakah dia orang Timur atau orang Barat. Salafiyah memiliki hakekat, keistimewaan dan ciri-ciri khusus yang membedakan orang-orang yang mengikutinya dari selain mereka dalam loyalitas dan permusuhan, akidah, dakwah, dan dalam bersikap.


Penanya:

Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan, syaikh kami.

Sumber audio dan transkripnya: http://www.al-amen.com/vb/showthread.php?t=14627

 http://forumsalafy.net/jangan-katakan-seseorang-sebagai-salafy-hingga-engkau-memastikan-bahwa-dia-benar-benar-di-atas-manhaj-salaf/
 Majmu'ah Ashhaabus Sunnah
©hannel telegram : http://bit.ly/ashhabussunnah




Kumpulan Kajian Ahlussunnah Salafy


 Audio Rekaman Kajian Islam Ilmiyyah Depok
 Ahad, 05 Jumadil Tsaniyah 1437H / 13 Maret 2016M
 Masjid Annur Ma’had Dzunnurain, Gg. Horas, Jl. Limo Raya Depok
 Pemateri : Al Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifa’i حفظه الله تعالى
Tema: HIASILAH DIRIMU DENGAN SABAR DAN SYUKUR 
Sumber: @ ARS || Radio Salafy Depok

___________________

 Audio Rekaman Kajian Islam Ilmiyyah Cikarang
 Ahad, 05 Jumadil Tsaniyah 1437H / 13 Maret 2016M
 Masjid Baitul Ma’mur, Perumahan Telaga Sakinah, Cikarang Barat, Bekasi
 Pemateri : Al Ustadz Abul Faruq Ayip Syafruddin حفظه الله تعالى
Tema: MENELADANI BIMBINGAN RASULULLAHALAIHI WA SALLAM DALAM PERGAULAN BERSAMA KELUARGA, TETANGGA DAN MASYARAKAT
Sumber: @ ARS || Radio Al Muwahhidiin
___________________

 Audio Rekaman Kajian Islam Ilmiyyah Cikarang dan Tambun
 Ahad, 04 Jumadil Tsaniyah 1437H / 13 Maret 2016M
 Pemateri : Al Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifa’i حفظه الله تعالى
 TKQ AN NAJIYAHPerumahan Telaga Murni Blok E19 No.02 Rt.07 Rw.08 Cikarang Barat, Bekasi
Tema: KUNJUNGILAH SAUDARAMU WALAUPUN HANYA 1 MENIT ATAU BAHKAN KURANG DARI ITU
 MADROSAH AR ROYYANPerumahan Taman Kintamani Blok G03 No 03 Rt.8 Rw.8 Jejalen Jaya-Tambun
Tema: JANGAN SIA-SIAKAN KEBAIKAN SEKECIL APAPUN
Sumber: @ ARS || Radio Al Muwahhidiin
__________________

 Audio Rekaman Kajian Islam Ilmiyyah Jombang
 Ahad, 04 Jumadil Tsaniyah 1437H / 13 Maret 2016M
 Masjid Ma’had Ar Risalah, Dsn. JambuDs. Jabon, RT.03 RW.02, JombangJawa Timur
 Pemateri : Al Ustadz Muhammad Afifuddin as Sidawy حفظه الله تعالى
Tema: PARA PENYUSUP DAKWAH SALAFIYYAH
Sumber: @ ARS || Radio Ar Risalah Jombang
________________

 Audio Rekaman Kajian Islam Ilmiyyah Indonesia
 Jum’at, 02 Jumadil Tsaniyah 1437H / 11 Maret 2016M
 Di Rumah Al Ustadz Abul Harits Muhammad bin Muslih حفظه الله Madinah, Saudi Arabia
Pemateri : Al Ustadz Abu Mu’awiyah Askary حفظه الله تعالى
Tema: MENDULANG PERMATA NASEHAT
Sumber: @ Majmu’ah Ashhaabus Sunnah
___________________

 Audio Rekaman Kajian Islam Ilmiyyah Bengkulu
 Jum’at-Ahad, 24-26 Jumadal ‘Ula 1437H / 04-06 Maret 2016M
Pemateri :
Al Ustadz Muhammad bin Umar as Sewed حفظه الله تعالىAl Ustadz Alimuddin Palembang حفظه الله تعالىAl Ustadz Bukhari Palembang حفظه الله تعالى
Tema: SIKAP RAKYAT TERHADAP PEMERINTAH MENURUT ISLAM
 Masjid Pondok Qowwamussunnah, Desa Marga Sakti, Padang Jaya, Bengkulu Utara
Tema: MEMBONGKAR JARINGAN DAN PAHAM RADIKALISME, TERORIS KHAWARIJ
 Masjid At-Taqwa, Anggut, Kota Bengkulu
Sumber: @ Ma’had Qowwamus Sunnah Bengkulu
________________

 Audio Rekaman Kajian Islam Ilmiyyah Bantul
 Senin 27 Jumadal ‘Ula 1437H / 07 Maret 2016M
 Masjid Pondok Pesantren Daarussunnah Al Khoiriyyah, Tangkil, Muntuk, Dlingo, Bantul]
Pemateri : Al Ustadz Muhammad Afifuddin as Sidawy حفظه الله تعالى
Tema: IKHLAS DAN ISTIQAMAH DALAM MENUNTUT ILMU SERTA TA’AWUN MENYEBARKAN ILMU DAN DAKWAH
Sumber: @ ARS || Radio Islam Jogja
_____________________
 Audio Rekaman Kajian Islam Ilmiyyah Sleman
 Senin 27 Jumadal ‘Ula 1437H / 07 Maret 2016M
 Masjid Al-Anshar, Wonosalam, Ngaglik, Sleman – Yogyakarta
Pemateri : Al Ustadz Muhammad Afifuddin as Sidawy حفظه الله تعالى
Tema: MEWASPADAI BAHAYA GHURUUR (RENUNGAN INTROSPEKSI DIRI)
Sumber: @ Channel Tasjilat Al Hikmah – Solo
AudioKajian.Com

Kamis, 10 Maret 2016

KENAPA ENGKAU TIDAK MAU BERUBAH



Nasehat Berharga Asy Syaikh Muhammad Sa’id Ruslan حفظه الله

 Jika Engkau meminta kepada Allah, maka mintalah surga Firdaus yang tertinggi…

 Jangan Engkau menjadi orang yang lemah tekadnya, apalagi mati…

 Kenapa Engkau tidak mau berlomba-lomba dalam perkara-perkara ini??

 Jangan Engkau merasa cukup dengan sesuatu yang rendah dari sesuatu yang lebih tinggi di atas awan…bahkan di atas bintang-bintang…

 Kenapa Engkau lebih memilih dunia dibandingkan akhirat??

 Kenapa Engkau tidak mau berubah??

 Apa yang menghalangimu??

 Apa kamu ragu dengan ucapan Rabbmu??

 Apa kamu tidak punya iman??

 Tidakkah kamu membenarkan Nabimu shallallahu ‘alaihi wa sallam??

 Apa kamu ragu dengan kematian??

 Dan kalau ada yang melihatmu 3 hari (kelak setelah kematianmu), maka dia akan mendapati kedua biji matamu telah keluar di atas pipimu dan isi perutmu telah terburai mengeluarkan kotorannya, dan yang pertama kali mengeluarkan bau busuk dari manusia adalah perutnya.

 Tidakkah kamu yakin bahwasanya kamu akan menjadi seperti ini kelak??

 Kenapa kamu sibuk dengan permainan (dunia) seperti ini yang anak kecil lebih layak untuknya??

 Kenapa kamu tidak menjadi seorang Muslim yang jujur dan benar??

 Apa yang menghalangimu dan membuatmu lemah??

 Kenapa kamu tidak bertaubat kepada Allah??

 Kenapa tidak kembali kepada-Nya??

 Kenapa kamu tidak mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sebenar-benarnya??

 Apakah syahwatmu telah mengendalikanmu??

 Berlindunglah kepada Allah Rabb mu.

Sumber: http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=35321

http://forumsalafy.net/kenapa-engkau-tidak-mau-berubah/
 Majmu'ah Ashhaabus Sunnah

PENGGEMBOS DAKWAH LEBIH BERBAHAYA



️Asy-Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Hady Al-Madkhaly hafizhahullah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda:

لا تَزَالُ طَائِفَةُ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ -أَوْ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِيْنَ- لا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلا مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ عَلَى ذَلِكَ.

“Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang menegakkan agama Allah, tidak akan membahayakan mereka orang-orang yang menelantarkan mereka dan tidak pula orang-orang yang menyelisihi mereka, sampai datangnya urusan Allah dan mereka senantiasa demikian keadaannya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhary di dalam Shahihnya dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, demikian juga oleh Muslim di dalam Shahihnya dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, dan ini adalah hadits muttafaqun alaih, sebagaimana juga diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Tsauban, Jabir, dan Muawiyah radhiyallahu anhum jami’an.


JADI MEREKA ADALAH KELOMPOK YANG SELAMAT DAN AKAN MENDAPATKAN PERTOLONGAN karena mereka di atas kebenaran dan berpegang teguh dengan petunjuk yang dibawa oleh pemimpin makhluk (Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam pent), jika demikian keadaan mereka maka tidak akan membahayakan mereka orang-orang yang menelantarkan mereka dan tidak pula orang-orang yang menyelisihi mereka.

Lihatlah nash hadits ini:

“tidak akan merugikan mereka siapa saja yang menelantarkan mereka dan tidak pula orang-orang yang menyelisihi mereka.”

Jadi Rasulullah shallallahu alaihi was sallam membagi orang-orang yang memusuhi mereka menjadi dua tingkatan, dua macam dan dua jenis. Jadi katakan terserah anda di dalam membaginya: apakah menjadi dua tingkatan, dua macam atau dua jenis.

Intinya;
tidak merugikan orang yang tidak mau menolong
dan tidak pula orang yang menyelisihi.

Kalau orang yang menyelisihi, maka perkaranya jelas. Tetapi masalahnya bencana itu semuanya muncul dari orang yang menelantarkan dan tidak mau menolong (bahkan menggembosi dari dalam –pent).

Terkadang dia berada di dalam barisanmu, tetapi dia menelantarkanmu.

Dia tidak mau menolongmu tetapi juga tidak mau diam, maka semoga Allah menyelamatkan engkau dari kejahatannya.

JADI TIDAK AKAN MERUGIKAN MEREKA SIAPA SAJA YANG MENELANTARKAN MEREKA DAN TIDAK PULA ORANG-ORANG YANG MENYELISIHI MEREKA.

Di dalam hadits ini Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam menafikan bahaya atau kerugian dari mereka. Jadi bahaya atau kerugian tidak akan terjadi,

karena Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam telah menafikannya dengan sabdanya:

“Tidak akan merugikan mereka siapa saja yang menelantarkan mereka dan tidak pula orang-orang yang menyelisihi mereka.”

ADAPUN GANGGUAN MAKA AKAN MUNCUL, GANGGUAN PASTI ADA

Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Jalla wa ‘Ala kepada kaum Muslimin:

لَنْ يَضُرُّوْكُمْ إِلاَّ أَذًى وَإِنْ يُقَاتِلُوْكُمْ يُوَلُّوْكُمُ الأَدُبَارَ ثُمَّ لاَ يُنصَرُوْنَ ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوْاْ.

“Mereka tidak akan menimpakan kerugian kepada kalian kecuali sekedar gangguan, dan jika mereka memerangi kalian pasti mereka akan lari kocar-kacir kemudian mereka tidak akan mendapatkan pertolongan, kehinaan akan menimpa di mana saja mereka berada.” (QS. Ali Imran: 111)

Jadi gangguan pasti muncul, adapun bahaya atau kerugian tidak akan terjadi dengan izin Allah, karena kebenaran pasti mendapatkan pertolongan.

والْحَقُّ مُنْتَصِرٌ وَمُمْتَحَنٌ فَلَا
تعْجَبْ وَهَذِيْ سُنَّةُ الرَّحْمَنِ

Kebenaran pasti mendapatkan pertolongan setelah adanya ujian

Maka jangan heran karena ini adalah ketetapan Ar-Rahman

[ Transkrip dari kaset Ghurbatus Sunnah wa Ahliha ]

Sumber: http://bayenahsalaf.com/vb/showthread.php?t=14461

TukPencariAlHaq-Com

Edisi:  مجموعة الأخوة  السلفية [-MUS-]