Rabu, 01 Januari 2014

Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini



               TANGGAPAN ATAS SEBUAH ANALISIS BERKEDOK ILMIAH

BAHWA LUQMAN BA’ABDUH POLITIKUS DAKWAH

oleh : Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini
الحمد لله حمدا كثيرا طيبا مباركا فيه كما يحب ربنا ويرضاه وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن والاه.
Saya merasa terpanggil untuk menanggapi analisis saudara al-Ustadz ‘Abdul Barr yang menyimpulkan bahwa al-Ustadz Luqman Ba’abduh adalah politikus dakwah yang berbahaya dan perusak dakwah salafiyah. Analisis tersebut memang dipoles dengan dalil-dalil yang diterapkan kepada al-Ustadz Luqman Ba’abduh secara membabi buta. Karenanya, tidak salah –insya Allah – jika saya katakan berkedok ilmiah. Akan saya buktikan secara ilmiah – insya  Allah – bahwa hasil analisis itu meleset jauh dari hakikat yang sebenarnya.
Saya khawatir tulisan tersebut berefek membuat bingung sebagian salafiyyun yang tidak mengenal baik siapa al-Ustadz Luqman Ba’abduh, lantas berburuk sangka padanya. Sebaliknya berbaik sangka kepada ‘Abdul Barr dan  Dzul Qarnain. Yang jelas, yang paling senang dan bersyukur kepada saudara ‘Abdul Barr dengan tulisan tersebut adalah hizbiyyun. Saudara ‘Abdul Barr telah menguntungkan mereka dengan menyakiti salafiyyun.
Sekiranya saudara Abdul Barr mau membuka mata, memasang telinga, dan  membuka hati untuk mendengar keterangan para asatidzah lantas menyikapinya dengan inshaf (adil) tentulah dia akan mengetahui kebenaran tahdzir Imam jarh wat ta’dil terhadap Dzul Qarnain.Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَإِنَّهَا لا تَعْمَى الأبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ (٤٦(
“Maka sesungguhnya bukan mata-mata mereka yang buta, tetapi hati-hati yang berc okol di dada itulah yang buta.” (Al-Hajj: 46)Sungguh sangat disayangkan kelancangan saudara Abdul Barr menorehkan penanya merangkai kalimat-kalimatnya untuk menjatuhkan kehormatan orang lain di hadapan umum kendati harus disertai dengan tuduhan dusta dan talbis bahkan menyisipkan adu domba antara asatidzah. Dia menghiasi fitnahnya dengan untaian dalil-dalil dan nukilan ucapan-ucapan ulama untuk menghantam al-ustadz Luqman Ba’abduh. Hal ini membuktikan kepada kita bahwa tidak setiap orang yang punya kemampuan menghafal dalil-dalil diberi taufiq untuk menerapkan dalil-dalil itu pada tempat yang semestinya.
Tak ayal lagi, tulisan tersebut mengandung tahdzir (peringatan) agar salafiyyun menjauhi Luqman Ba’abduh sebagaimana ia telah menjauhinya. Ironisnya, di saat yang sama dia dekat dengan sebagian hizbiyyun bersama Dzul Qarnain dan Ja’far Shalih.
Pada tanggapan singkat ini, akan kami tunjukkan kesalahan-kesalahan yang terdapat pada analisis saudara ‘Abdul Barr.
1. Ucapan guru kami yang mulia asy-Syaikh ‘Abdurrahman al-‘Adeni –hafizhahullah- yang dinukil oleh saudara ‘Abdul Barr. Kata ‘Abdul Bar, “Sebelum saya kembali ke tanah air tercinta, Alhamdulillah, Allah berikan taufiq kepada saya untuk menyambangi guru kami asy-Syaikh Abdur Rahman Al Adeny –hafidhohulloh. Pada kesempatan itu, beliau bertanya tentang perihal dakwah di Indonesia. Kemudian beliau bertanya kepada saya, ‘Siapa sekarang orang yang menggantikan posisi Ja’far Umar Thalib dalam dakwah? Maka saya katakan,’Luqman Ba’abduh ya Syaikh’. Kemudian beliau berkata,
أنا أخشى علیه وھو لیس بذاك وإندونیسیا بلدة كبیرة فیها أمة كبیرة تحتاج إلى واحد قوي يحتفون حوله.
‘Aku mengkhawatirkan dirinya, karena dia tidak sepantas itu, sedangkan Indonesia adalah negeri yang besar, padanya terdapat umat yang besar, membutuhkan seorang yang kuat (dalam ilmu), (untuk) kaum muslimin merujuk kepadanya’.
Tanggapan:
Jika hal itu memang benar diucapkan oleh beliau -tetapi sulit dipercaya kebenarannya-, hal itu karena perhatian beliau terhadap dakwah salafiyah di negeri ini yang sangat berat untuk diemban. Mengenai beratnya tanggung jawab dakwah di negeri ini, hal itu pun disadari oleh al-Ustadz Luqman Ba’abduh sebagaimana pernah beliau ungkapkan. Kita semua menyadari hal itu, tetapi kita harus berbuat sesuatu untuk Islam dengan mengemban dakwah salafiyah ini dengan seluruh kemampuan yang kita miliki. Kuncinya adalah ta’awun di atas kebaikan dan ketaqwaan dengan penuh keikhlasan dan amanah, tidak diboncengi oleh misi dan kepentingan tertentu.
Yang jadi masalah adalah ketika saudara ‘Abdul Barr menjadikan hal itu sebagai pegangan untuk lancang menvonis dengan mengatakan, “Dan ternyata setelah saya pulang ke Indonesia apa yang dikhawatirkan oleh asy-Syaikh AbdurRahman benar adanya. Ketika orang yang tidak berilmu berbicara tentang agama, maka dia akan sesat lagi menyesatkan”.
Bukankah ini berarti dia telah mengklaim bahwa dirinya dan Dzul Qarnain yang berada di atas shirathul mustaqim sehingga pantas bagi salafiyyun untuk mengikuti dan mengitari mereka?
Ya subhanallah, kesesatan apa gerangan yang didakwahkan oleh saudara kami al-ustadz Luqman Ba’abduh?
Saudara ‘Abdul Barr lantas menyebutkan satu persatu hal-hal yang dianggapnya sebagai kesesatan-kesesatan al-ustadz Luqman, yang akan kita kaji bersama dengan penuh inshaf (adil) dan bijak, tanpa fanatik dan tendensius.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالأقْرَبِينَ … (١٣٥)
 “Wahai sekalian orang-orang yang beriman jadilah kalian orang-orang yang selalu menegakkan keadilan sebagai saksi-saksi karena Allah, meskipun atas diri kalian sendiri atau kedua orang tua dan karib kerabat” (An-Nisa’: 135)
Sebelumnya, kami ingin menerangkan terkait hal yang dinukil dari guru kami yang mulia, asy-Syaikh ‘Abdurrahman al-‘Adeni -jika nukilan tersebut dari beliau memang benar, tetapi sulit dipercaya kebenarannya.
Agar diketahui oleh semuanya, al-ustadz Luqman Ba’abduh tidaklah memosisikan dirinya sebagai rujukan dan ahli fatwa dalam dakwah ini, melainkan mengajak saudara-saudaranya dari kalangan asatidzah yang mulia untuk berkumpul dan memusyawarahkan dakwah dengan selalu merujuk kepada nasehat dan bimbingan ulama kibar. Beliau sangat menghargai pendapat dan usulan para asatidzah yang hadir, tidak otoriter memaksakan setiap idenya. Beliau sangat menyadari bahwa asatidzah yang bersamanya adalah thullabul ‘ilmi (para penuntut ilmu) murid-murid masyayikh kibar, seperti Muqbil al-Wadi’i,  Rabi’ al-Madkhali, ‘Ubaid al-Jabiri, Muhammad bin Hadi, ‘Abdullah al-Bukhari, dan lainnya.
Ternyata dengan perjalanan dakwah yang cukup panjang lebih sepuluh tahun lamanya, banyak hal yang telah diperbuat, dakwah salafiyah pun semakin meluas dan berkembang pesat dengan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Di antara jasa al-ustadz Luqman Ba’abduh dan ustadz-ustadz yang bersamanya yang menunjukkan keseriusan dan perjuangan mereka untuk menjaga dan mengembangkan dakwah salafiyah di negeri ini adalah diadakannya daurah nasional setiap tahun bersama ulama. Hal ini tidak lepas dari andil besar dan kegetolan al-ustadz Luqman mengordinir para asatidzah untuk ta’awun menyukseskan daurah nasional tersebut. Bukankah itu bukti nyata bahwa salafiyyun hendak didekatkan dan diikat dengan ulama, bukan dengan dirinya?
Kita sepakat bahwa rujukan kita adalah al-Qur’an dan as-Sunnah menurut pemahaman salaful ummah, dengan bimbingan para ulama. Terkhusus tentang masalah dakwah dan fitnah, kami berprinsip bahwa harus dikembalikan kepada ulama kibar yang telah diakui ketokohannya di bidang ini, seperti asy-Syaikh Rabi’. Tidak setiap orang yang menyandang gelar sebagai syaikh mampu menangani urusan dakwah dengan berbagai fitnah besar yang menggoncangnya. Lihatlah betapa banyak ulama ahli hadits di masa terjadinya fitnah kaum Jahmiyah dengan “mihnah khalqi al-Qur’an (fitnah ujian untuk mengatakan bahwa Qur’an itu makhluk)”, tetapi dari sekian banyak ulama ahli hadits, al-Imam Ahmad yang terpilih sebagai pahlawan dan tokoh rujukannya. Demikian pula di masa ini, sejak zaman hidupnya tokoh-tokoh mujaddid yang digelari oleh asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab al-Wushabi sebagai imam empat (Ibnu Baz, al-Albani, al-‘Utsaimin, dan Muqbil al-Wadi’i), di kala itu al-walid asy-Syaikh Rabi’ telah tampil berperan membawa panji jarh wat ta’dil membantah ahlul bida’ wal ahwa’. Sekian banyak fitnah besar yang melanda dakwah ini, fitnah ‘Abdurrahman ‘Abdul Khaliq, fitnah Quthbiyyah, fitnah Sururiyah, fitnah Hasaniyah, fitnah Halabiyah, fitnah Hajuriyah, dan lainnya. Kita mendapati tokoh dan pahlawan terdepannya adalah asy-Syaikh Rabi’ bersama ulama kibar lainnya di Madinah, seperti asy-Syaikh ‘Ubaid al-Jabiri dan lainnya.
Lihatlah, bagaimana ulama besar sekaliber asy-Syaikh Rabi’ mempercayakan dakwah salafiyah di negeri ini untuk dijalankan oleh al-Ustadz  Luqman dan asatidzah yang bersamanya. Asy-Syaikh Hani pada salah satu kesempatannya di awal kedatangan beliau pada daurah yang lalu sempat mengatakan di hadapan kami, “Kalian adalah para mujaddid dakwah salafiyah di negeri ini dan kalian adalah tsiqat (orang-orang terpecaya) di sisi asy-Syaikh Rabi’. Oleh karena itu, asy-Syaikh Rabi’ mengamanahi saya agar datang kepada kalian untuk daurah di negeri ini.” Beliau juga menasehati kami agar terus berjuang dan tsabat (kokoh) di atas apa yang kami jalani, meskipun banyak musuh-musuh dakwah dan rintangan yang harus dihadapi. Jazahullahu khairal jaza’.
Tidaklah kepercayaan itu datang begitu saja dari asy-Syaikh Rabi’, tetapi setelah beliau benar-benar mengetahui perjuangan al-Ustadz Luqman Ba’abduh dan asatidzah yang bersamanya dalam mengemban amanah dakwah salafiyah di negeri ini. Asy-Syaikh Rabi’ dan sy-Syaikh ‘Uba’id sangat menghargai perjuangan mereka dalam mengemban amanah dakwah ini. Buktinya, keluar fatwa dari kedua syaikh tersebut tentang Ahmad as-Surkati dan Ja’far ‘Umar Thalib (misalnya) berdasarkan laporan tertulis dari Luqman Ba’abduh dan asatidzah yang bersamanya tentang kedua tokoh mubtadi’ yang sesat itu.
Saya bertanya:
-         Di mana saudara ‘Abdul Barr dan Dzul Qarna’in ketika dahsyat-dahsyatnya fitnah Ja’far ‘Umar Thalib sang pendusta yang ingin kembali masuk ke dalam barisan salafiyyun? Di kala itu justru terlihat bahwa mereka terombang-ambingkan oleh tala’ub dan talawwun plus kedustaan-kedustaan Ja’far Umar Thalib.
-         Di mana ‘Abdul Barr dan Dzul Qarnain di saat fitnah Hajuriyah  menggoncang dakwah salafiyah di negeri ini yang menelan banyak korban dan menimbulkan kebingungan bersikap di kalangan salafiyyun? Di kala itu tampil Luqman Ba’abduh dan asatidzah yang bersamanya menghadapi fitnah tersebut dengan sekuat apa yang mereka miliki sampai hari ini, yang dengan sebab itu Allah Subhanahu wa Ta’ala selamatkan dakwah salafiyah di negeri ini dari fitnah Hajuriyah yang membabi buta.
-         Sekarang, fenomena fitnah tamayyu’ (sikap lembek/condong) terhadap hizbiyah Turatsiyah, Hasaniyah, dan Halabiyah dengan corong radio Rodja. Di mana posisi kalian dalam fitnah ini? Atau justru tokoh-tokoh tamayyu’ itu adalah kalian, terkhusus ‘pahlawan kesiangan’  yang la’aab mutalawwin plus dusta-dustanya’ yang sangat mengancam kemurnian dakwah salafiyah di negeri ini?
-         Di mana saudara ‘Abdul Barr saat Firanda menikam asy-Syaikh Rabi’ dengan tuduhan kejinya, di saat Luqman Ba’abduh yang dicelanya tampil membantahnya dan mematahkan taringnya dengan ilmiah?
Setelah menulis tanggapan ini, sampai kepada kami informasi terpecaya bahwa ternyata guru kami asy-Syaikh ‘Abdurrahman al-‘Adeni telah mendustakan penukilan tersebut, bahkan memuji al-Ustadz Luqman dan mendoakannya, walhamdulillah.
Dalam situs http://forumsalafy.net/?p=441 dinukil tanggapan asy-Syaikh ‘Abdurrahman al-‘Adeni secara makna:
واللهِ أنا لا أذكر, لا قليلا ولا كثييرا صدر مني هذا الكلام. بل أستطيع أن أقول: أنا ما قلت هذا!! هذا الكلام غريب جدا!! فلماذا لم يخرجه إلا الآن؟! وقل له: اتق الله!! ولا نرتضي نشر هذا الكلام!!
“Demi Allah, aku tidak ingat sedikit atau pun banyak, bahwa terucap dariku pernyataan tersebut. Bahkan bisa aku katakan bahwa aku tidak mengucapkan pernyataan ini. Pernyataan tersebut sangat aneh, kenapa dia (‘Abdul Barr) tidak mengeluarkannya kecuali sekarang?! Katakan padanya (‘Abdul Barr), ‘Bertaqwalah kamu kepada Allah!’ dan aku tidak ridha penyebaran pernyataan ini (yaitu yang dinisbahkan oleh ‘Abdul Barr kepada asy-Syaikh ‘Abdurrahman)’.”
Pada kesempatan yang sama, ditanyakan kepada beliau tentang perihal al-Ustadz Luqman Ba’abduh, maka beliau menjawab,
هو قائم بدعوة وخير, عسى الله أن يتقبل.
“Dia menegakkan dakwah dan kebaikan, semoga Allah menerimanya.”[1]
2. Tuduhan saudara ‘Abdul Barr bahwa “Keahlian politisasi sudah dimiliki ustadz Luqman sejak di Yaman, yaitu masa Syaikh Muqbil rahimahullah masih hidup, seharusnya seorang penuntut ilmu di Dammaj menyibukkan diri dengan menuntut ilmu, tapi tidak demikian dengan Ustadz Luqman. Beliau lebih fokus untuk mengumpulkan sebagian Ikhwan Indonesia secara berkala untuk membahas berbagai fitnah yang ada di Indonesia. Padahal orang yang sedikit berakal akan berkata, ‘Bukankah di sini ada Syaikh Muqbil? Mengapa masalahnya tidak serahkan kepada beliau?’ Dan tentunya keputusan Syaikh Muqbil akan lebih diterima semua pihak daripada keputusan Ustadz Luqman.”
Tanggapan:
Justru apa yang dilakukan oleh Luqman Ba’abduh itu patut disyukuri bahwa di tengah-tengah kesibukan beliau belajar, beliau selaku senior thullab Indonesia kala itu berupaya meluangkan waktu untuk menyelesaikan berbagai fitnah dakwah di Indonesia mengingat keberadaan al-Walid syaikh Muqbil di hadapannya. Yakni, dengan mudahnya bisa minta fatwa kepada asy-Syaikh Muqbil untuk menyelesaikan fitnah yang ada. Tidak seperti yang digambarkan oleh saudara ‘Abdul Barr bahwa Luqman Ba’abduh memutuskan sendiri dan melangkahi asy-Syaikh Muqbil. Orang yang sedikit berakal tidak akan pernah berprasangka buruk seperti itu kepada al-Ustadz Luqman apalagi yang berakal banyak. Hal itu ditempuh oleh al-Ustadz Luqman mengingat munculnya fenomena bagaimana cara penanganan fitnah Turatsiyah Sururiyah yang dikhawatirkan menyusup ke Dammaj oleh sebagian  kawan-kawan Abu Nida, Yazid Jawas, dan Yusuf Baisa yang datang belajar ke Yaman. Beliau dengan dibantu al-Ustadz ‘Abdushshamad menyisihkan waktu untuk mempelajari secara teliti fitnah yang ada dengan membaca tulisan-tulisan dan mendengar rekaman-rekaman yang terkait fitnah itu. Hasilnya, al-ustadz Luqman berhasil mendapat fatwa tentang Syarif Hazza, Yusuf Baisa, dan Abu Nida’ tentang kehizbian mereka yang menjadikan pegangan bagi salafiyyun Indonesia yang sedang studi di Yaman maupun yang berada di Indonesia. Agar diketahui bahwa saya termasuk yang ikut mendampingi al-Ustadz Luqman masuk ke syaikh Muqbil untuk meminta fatwa itu. Ini bukti dan contoh bahwa beliau mengembalikan penyelesaiannya kepada keputusan al-walid asy-Syaikh Muqbil, bukan keputusannya sendiri.
Pertanyaannya, di mana saudara ‘Abdul Barr di kala penyelesaian fitnah itu sampai bisa menyimpulkan negatif terhadap al-Ustadz Luqman?! Yang jelas, di awal-awal berkembangnya fitnah itu di Dammaj, ‘Abdul Barr belum datang.
Jika hal ini sudah jelas, saya kembalikan kepada masing-masing pembaca untuk menilai sendiri dinamakan apa ucapan saudara Abdul Barr di atas: “Padahal orang yang sedikit berakal akan berkata, ‘Bukankah di sini ada Syaikh Muqbil? Mengapa masalahnya tidak diserahkan kepada beliau?’ Dan tentunya keputusan Syaikh Muqbil akan lebih diterima semua pihak daripada keputusan Ustadz Luqman.”
Wallahul musta’an.
 3. Tuduhan saudara ‘Abdul Barr kepada al-Ustadz Luqman melakukan manuver politik  dalam dakwah terkait laporan kesalahan LJ agar tampil jadi pahlawan.
Tanggapan:
Perlu diketahui bahwa ‘Abdul Barr bukan orang yang terlibat laskar jihad dan bukan pelaku sejarah.
Hanya Allah Yang Maha Tahu betapa kuatnya otoriter komando ‘sang panglima’, Ja’far ‘Umar Thalib terhadap Laskar Jihad yang membawa Laskar Jihad ke berbagai penyimpangan. Betapa al-Ustadz Luqman dan al-Ustadz ‘Abdushshamad secara khusus telah berjuang semampu mereka dengan berbagai upaya dan cara untuk menasehati Ja’far Thalib sampai terealisasi adanya tim utusan dari asatidzah untuk menghadap asy-Syaikh Rabi’ melaporkan kondisi LJ hingga akhirnya didapatkan fatwa syaikh Rabi’ untuk membubarkan LJ.
Tidak banyak yang tahu bagaimana Ja’far Thalib berupaya membendung pembubaran LJ dengan otoriter komandonya lantas hal itu berhasil dipatahkan oleh al-Ustadz Luqman yang berhasil meyakinkan Dewan Pembina untuk sepakat memutuskan pembubaran LJ. Lantas Dewan Pembina sepakat mewakilkan proses penyampaian keputusan itu kepada tim khusus yang akan menghadap Ja’far Thalib. Saya termasuk salah satu anggota tim khusus itu dan tahu persis sejarah pembubaran itu.
Jadi, tidak bisa dipungkiri bahwa al-Ustadz Luqman memang punya jasa besar dalam pembubaran LJ, bukan rekayasa dan manuver politik.
4. Masalah materi yang diusulkan oleh al-Ustadz Luqman pada rapat asy-Syari’ah suatu masalah yang bisa dibahas di majalah Asy-Syari’ah, yaitu pengalaman masa lalu kisah nyata tentang orang-orang yang bermaksiat untuk diambil pelajaran. Kata ‘Abdul Barr, “Lihatlah akibat berbicara tanpa ilmu, bahkan ketika dinasihati dia masih bertahan dengan permasalahan yang sangat jelas kesalahannya, yaitu membongkar aib yang telah Allah ta’ala tutupi …. Setelah saya kritik beliau, maka beliau mengelak dan berkata nanti kita tanyakan ulama …. Demikianlah ketika orang yang tidak berilmu berbicara dalam masalah dakwah maka yang keluar darinya bukanlah sejuknya ilmu, tapi justru yang kita lihat dan kita tuai darinya adalah maneuver-manuver dan intrik-intrik dalam dakwah, atau yang lebih tepat diistilahkan dengan politisasi dakwah”.

Tanggapan:
Saya tidak begitu tertarik mengulas panjang lebar masalah ini, karena toh kenyataannya hal itu tidak ditampilkan di majalah asy-Syari’ah. Apalagi al-Ustadz Luqman sendiri telah mengatakan bahwa masalah itu kita tanyakan kepada ulama. Yang  jelas, saya kira al-Ustadz Luqman tidak seperti yang digambarkan oleh saudara ‘Abdul Barr dalam masalah tersebut.
Yang ingin saya sampaikan dalam hal ini, saya termasuk orang yang banyak duduk dengan al-Ustadz Luqman dengan mengenal keilmuan beliau. Saya tahu persis beliau adalah orang yang teliti, jeli, tenang, dan berhati-hati dalam setiap permasalahan. Saya tidak mengatakan bahwa beliau tidak punya salah atau kelemahan. Akan tetapi, saya tahu persis bahwa beliau gampang rujuk dari suatu kesalahan jika mendapat nasehat dan ditunjukkan letak kesalahannya dengan hujah.
Akan tetapi, keahlian dan wawasan dakwah beliau yang luas serta kesabarannya dalam mengemban amanah sebagai penasehat majalah asy-Syari’ah adalah keutamaan dari Allah l.
لا يعرف الفضل إلا ذووه.
“Tidaklah mengetahui keutamaan itu kecuali orang-orang yang punya keutamaan.”
Beliau telah memberikan yang beliau miliki untuk pengembangan majalah asy-Syari’ah dan dakwah salafiyah secara umum di negeri ini yang belum tentu mampu dilakukan oleh selainnya, apalagi orang semisal Dzul Qarnain, Ja’far Shalih,  Abdul Barr, dan kawan-kawannya.
Semua itu berkat karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala, alhamdulillah.
5. Tuduhan saudara ‘Abdul Barr dengan mengatakan, “Maka dengan sebab itu semakin membuat saya menjauh dan menjaga jarak dengan Ustadz Lukman. Terlebih lagi jika melihat apa yang telah beliau lakukan terhadap dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu memporak-porandakan tatanan persaudaraan antara sesama Ahlus Sunnah dengan dalih amar ma’ruf nahi munkar tanpa melihat dan menimbang dengan dhowabith dan qowaa’id maslahat dan mudarat, atau kaidah al-badaah bil aham fal aham, atau kaidah adh-dhoror yuzaal, maka yang terjadi adalah kemungkaran yang lebih besar.”
Tanggapan:
Kaidah-kaidah yang disebutkan saudara ‘Abdul Barr adalah benar. Yang salah adalah penerapannya kepada al-Ustadz Luqman. Tatanan persaudaraan versi apa yang telah diporak-porandakan itu? Apakah persaudaraan dengan Maududi ‘Abdullah? Atau persaudaraan dengan Badrussalam? Atau persaudaraan dengan ‘Abdullah Zain? Atau persaudaraan dengan Yazid Jawas sang ‘salafi goncang’ dan kawan-kawannya di Tokyo dan Korea?
Nama-nama tersebut dan sesamanya adalah hizbiyyun yang memang harus dipisah sejauh-jauhnya dari dakwah salafiyah dan salafiyyun.
Jadi, mereka bukan ahlussunnah untuk kemudian dikatakan al-Ustadz Luqman Ba’abduh memecah belah antara barisan ahlussunnah.
6. Tuduhan kepada al-Ustadz Luqman telah memutarbalik fakta kedatangan mereka ke asy-Syaikh al-Imam bertanya tentang radio Radja setelah dari syaikh Rabi’ bahwa mereka bermaksud untuk mencari senjata atau membenturkan fatwa. ‘Abdul Barr mengatakan, “Maka ketahuilah yang sesungguhnya adalah, kami telah mencukupkan diri dengan fatwa Syaikh Robi’, sehingga kami bertanya kepada Syaikh Al-Imam adalah untuk menambah wawasan keilmuan kami”.
Tanggapan:
Hal itu bukan tuduhan, tetapi penilaian yang dibangun di atas indikasi (qarinah):
1. Buktinya, kalian tidak mengabari asy-Syaikh al-Imam tentang fatwa asy-Syaikh Rabi’, padahal beliau sendiri telah menganjurkan kalian mengembalikan masalah kepada asy-Syaikh Rabi’.
2. Bukti lainnya, sepulang dari asy-Syaikh Rabi’ dan asy-Syaikh al-Imam ternyata kalian tidak bersegera menyampaikan tahdziran asy-Syaikh Rabi’ tentang radio Rodja’, padahal kasetnya ada di tangan kalian.
3. Tersebar berita terpecaya dari pihak kalian bahwa kalian belum puas dengan pertemuan di hadapan syaikh Rabi’ dan menganggap waktunya terlalu singkat.
Jadi, jika saudara Abdul Barr mengatakan, “Dan sangat wajar kalau Syaikh Robi’ memvonis Ustadz Dzulqarnain sebagai la’aab, kalau memang faktanya sudah diputarbalikkan seperti itu.”
Kami luruskan bahwa vonis asy-Syaikh Rabi’ kepada Dzul Qarnain sebagai la’ab, mutalawwin, yamsyi ‘ala thariqati al-Halabi fil makri (suka mempermainkan dakwah, berwarna-warni, dan berjalan di atas cara-cara al-Halabi dalam melakukan makar terhadap dakwah) sangat tepat, karena asy-Syaikh Rabi’ sendiri telah menasehati langsung Dzul Qarnain dan menilainya plus berita-berita terpecaya yang sampai kepada beliau.Wallahul muwaffiq.
7. Tuduhan politisasi al-Ustadz Luqman membesar-besarkan masalah fatwa Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah yang tidak terekam atau tertulis terkait masalah pendidikan formal, padahal kalau Ustadz Luqman jujur, mengapa beliau tidak membahas fatwa tertulis Syaikh ‘Ubaid al-Jabiri hafizhahullah yang membolehkan pendidikan formal?!
Tanggapan:
Itu bukan politisasi, melainkan peringatan dan nasehat agar apa yang dilakukan Dzul Qarnain itu tidak terulang dan ditiru oleh yang lainnya, menanyakan masalah dakwah yang besar sambil menyetir mobil tanpa keterangan lengkap dan rekaman fatwa. Ini tidak amanah.
Begitu pula, fatwa tertulis asy-Syaikh ‘Ubaid adalah jawaban pertanyaan yang tidak dilengkapi dengan laporan lengkap yang mewakili hakikat masalah yang sesungguhnya.
Kita semua wajib bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ini masalah dakwah yang besar, masalah tarbiyah yang terkait dengan maslahat dakwah salafiyah di masa sekarang dan masa yang akan datang. Fatwa ulama harus didapatkan dengan cara yang benar, memberikan laporan lengkap dengan data akurat yang terpecaya yang mewakili hakikat masalah sebenarnya, kemudian minta fatwa dalam bentuk suara terekam atau secara tertulis sebagai pedoman bersama.
Alhamdulillah, al-ustadz Luqman8dan ustadz-ustadz yang bersamanya telah berupaya semaksimal mungkin melakukan hal itu dan kita tunggu bersama fatwa  ulama. Wallahul muwaffiq.
8. Saudara ‘Abdul Barr mengklaim bahwa jalsah Makkah dengan syaikh Rabi’ itu adalah pukulan telak untuk ustadz Luqman yang diperintah untuk menjaga lisan, tetapi hal itu tidak dinukil.
Tanggapan:
Alhamdulillah, terkait penukilan hasil jalsah telah diajukan melalui asy-Syaikh Khalid kepada asy-Syaikh Rabi’ dan asy-Syaikh Rabi’ menyetujuinya untuk disebarkan. Apalagi yang dipermasalahkan setelah itu?!
Adapun nasehat tersebut untuk ust Luqman, insya Allah beliau bersyukur kepada syaikh Rabi’ atas nasehat itu. Kita semua butuh nasehat dari ulama, termasuk saudara ‘Abdul Barr. Namun, sangat disayangkan nasehat semacam itu tidak diamalkan oleh saudara ‘Abdul Barr sehingga lisannya (baca: penanya) tidak dijaga dari mencela kehormatan saudaranya melalui tulisan semacam ini.
لاَ تَنْهَ عَن خُلُقٍ وَتَأْتِيَ مِثْلَهُ               عَارٌ عَلَيْكَ إِذَا فَعَلْتَ عَظِيْمُ
“Jangan engkau melarang dari satu perangai sementara engkau sendiri melakukannya,
aib besar bagimu jika hal itu engkau lakukan
8. Klaim Abdul Barr bahwa sifat politisasi telah diakui ada oleh Ustadz Muhammad As-Sewed ada pada diri Ustadz Luqman dengan menuturkan cerita yang dibawakannya.
Tanggapan:
Demi meyakinkan pembaca akan kebenaran analisisnya bahwa al-Ustadz Luqman adalah politikus dakwah, saudara Abdul Barr tidak segan-segan membenturkan al-Ustadz Muhammad as-Sewed dengan al-Ustadz Luqman.
Disadari atau tidak oleh saudara ‘Abdul Barr, sengaja atau tidak sengaja, hal ini dapat mengadu domba antara kedua ustadz bersangkutan. Kami berharap semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga keduanya dari hasutan yang keji tersebut.
Alhamdulillah, Allah telah memberi taufiq kepada al-Ustadz Muhammad as-Sewed untuk membantah tulisan saudara ‘Abdul Barr dan itu cukup untuk mementahkan analisis berkedok ilmiah tersebut.
Alhasil, terbukti dengan analisis ilmiah yang kami sajikan bahwa saudara ‘Abdul Barr telah salah dan zalim terhadap al-Ustadz Luqman.
Terakhir, kami nasehatkan agar saudara ‘Abdul Barr mau bertobat dan rujuk kepada al-haq untuk kemudian bergandeng tangan bersama para asatidzah ahlussunnah dalam mengemban amanah dakwah salafiyah yang shafiyah (murni) nan mulia ini.
Akhiru da’wana anil hamdulillah Rabbil ‘alamin.
Ditulis oleh: Abu ‘Abdillah Muhammad As-Sarbini
Rabu, 29 Shafar 1435 H/1 Januari 2014
Ma’had Munhajus Sunnah Muntilan


[1] Ini kutipan aslinya:
bukti forum salafy

Sebuah Renungan, Perayaan Tahun Baru , Ditulis Oleh Al Ustadz Qomar ZA, Lc.


Anda ikut merayakan tahun baru, mengikuti siapa?

Perayaan tahun baru ternyata bukan sesuatu yang baru, bahkan ternyata itu adalah budaya yang sangat kuno, bebarapa umat melakukan. Perayaan itu, diantaranya adalah hari raya Nairuz, dalam kitab al Qomus. Nairuz adalah hari pertama dalam setahun, dan itu adalah awal tahun matahari.
Orang-orang Madinah dahulu pernah merayakannya sebelum kedatangan Rasulullah. Bila diteliti ternyata ternyata itu adalah hari raya terbesarnya orang Persia bangsa Majusi para penyembah api, dikatakan dalam sebagian referensi bahwa pencetus pertamanya adalah salah satu raja-raja mereka yaitu yang bernama Jamsyad.
Ketika Nabi datang ke Madinah beliau mendapati mereka bersenang–senang merayakannya dengan berbagai permainan, Nabi berkata: ‘Apa dua hari ini’, mereka menjawab, ‘Kami biasa bermain-main padanya di masa jahiliyah’, maka Rasulullah bersabda:
إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْر
“Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kalian dua hari itu dengan yang lebih baik dari keduanya yaitu hari raya Idul Adha dan Idul Fitri. [Shahih, HR Abu Dawud disahihkan oleh asy syaikh al Albani]
Para pensyarah hadits mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dua hari yang sebelumnya mereka rayakan adalah hari Nairuz dan hari Muhrojan [Mir’atul mafatih]
Di samping majusi, ternya orang-orang Yahudi juga punya kebiasaan merayakan awal tahun, sebagian sumber menyebutkan bahwa perayaan awal tahun termasuk hari raya Yahudi, mereka menyebutnya dengan Ra’su Haisya yang berarti hari raya di penghujung bulan, kedudukan hari raya ini dalam pandangan mereka semacam kedudukan hari raya Idul Adha bagi muslimin.
Lalu Nashrani mengikuti jejak Yahudi sehingga mereka juga merayakan tahun baru. Dan mereka juga memiliki kayakinan-keyakinan tertentu terkait dengan awal tahun ini. [Bida’ Hauliiyyah]
Tidak menutup kemungkinan masih ada umat-umat lain yang juga merayakan awal tahun atau tahun baru, sebagaimana disebutkan beberapa sumber. Yang jelas, siapa mereka?, tentu, bukan muslimin, bahkan Majusi penyembah api nasrani penyemabah Yesus dan Yahudi penyembah Uzair.
Jadi siapa yang anda ikuti dalam perayaan tahun baru ini?
Lebih dari itu, ternyata perayaan tahun baru ini telah dihapus oleh Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, bukankah anda ingat hadits di atas?, Nabi menghapus perayaan Nairuz dan Muhrojan dan mengganti dengan idul Fitri dan Adha.
Lalu, kenapa muslimin menghidup-hidupkan sesuatu yang telah dimatikan Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam. Kata Ibnu Taimiyyah, Allah Subhanahuwata’ala mengganti (Abdala) konsekwensi dari kata Abdala (menggati) adalah benar-benarnya terhapus hari raya yang dulu dan digantikan dengan penggatinya, karena tidak bisa
berkumpul antara yang menggati dan yang digantikan.
Tapi, kenyataannya justru tetap saja umat ini merayakan tahun baru, melanggar sabda Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, sungguh benar berita kenabian Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam
« لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ ، حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ » .قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ « فَمَنْ »
“Benar-benar kalian akan mengikuti jalan-jalan orang yang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga bila mereka masuk ke lubang binatang dhob (semacam biawak), maka kalian juga akan memasukinya. Kami berkata: Wahai Rasulullah Yahudi dan nashrani? Beliau berkata:Siapa lagi?.” [shahih, HR al Bukhori Muslim dan yang lain]
Kaum muslimin…
Belum lagi, apa yang mereka lakukan dalam perayaan tahu baru? Bukankan berbagai kemungkaran yang sangat bertolak belakan dengan ajaran agama. Kalau anda dari jenis orang yang pobhi dengan ajaran agama, saya katakan, bukankah dalam acara itu banyak terjadi hal-hal yang bertentangan dengan kesusilaan, abad, sopan santun, kehormatan jiwa dan berbagai kemuliaan-kemualiaan yang lain.
Hampir semua atau semua yang terjadi adalah kerendahan dan kehinaan martabat manusia apalagi martabat muslim. Tentu kita semua, saya dan anda dan mereka, sebenarnya menyadari akan hal itu, lalu kapan kita akan meninggalkannya, mengapa masih saja memeriahkan acara tersebut, tidakkah kita kembali saja kepada kehormatan kita dan kemulian kita serta tentunya ajaran agama kita.
Bersihkan dari bercak-bercak perayaan tahun baru, joget, pentas musik yang identik dengan kerendahan moral, minuman-minuman keras dan obat-obat terlarang, pembauran antara lawan jenis yang merusak moral, sampai pada pesta hura-hura dengan pakaian minim, pamer aurat, pacaran dan perzinaan, apakah kita menginkari terjadinya hal itu?
Berbagai sumber berita menyebutkan bahwa penjualan alat kontrasepsi baik kondom atau yang lain meningkat tajam dari tahun ke tahun menjelang perayaan malam tahun baru. Miris, kenyataan yang memperihatinkan, inikah moral bangsa kita, dimana susila dan dimana ajaran agama? Bila anda seorang muslim
atau muslimah tidakkan takut dengan ancaman Allah Subhanahuwata’ala , Nabi shallahu alaihi asallam bersabda
إذا ظهر الزنا و الربافي قرية فقد أحلوا بأنفسهم عذاب الله
”Tidaklah nampak pada sebuah daerah zina dan riba melainkan mereka telah menghalalkan adzab Allah untuk diri mereka” [Hasan, HR Abu Ya’la, al Hakim dan dihasankan oleh Asy Syaikh al Albani]
Juga, …
لم تظهر الفاحشة في قوم قط حتى يعلنوا بها إلا فشا فيهم الأوجاع التيلم تكن في أسلافهم
“Tidaklah tampak pada suatu kaumpun perbuatan keji (zina, homoseks) sehingga mereka menampakkannya melainkan akan menyebar ditengah-tengah mereka penyakit-penyakit yang tidak pernah ada pada umat sebelumnya” [Shahih, HR al Baihaqi, disahihkan oleh Asy Syaikh al Albani]
Saudaraku muslim…Saudariku muslimah…Masihkan anda akan menodai diri anda….
Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah Subhanahuwata’ala dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya (Yahudi dan Nashrani), kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.[QS :al Hadid:16]
Ingat, liang lahat menunggu kita semua…
Wassalamu alaikum…

Senin, 30 Desember 2013

Bimbingan Ulama Dalam Menyikapi Natal dan Tahun Baru


Penyusun: Al-Ustadz Muhammad Rifqi hafidzahullah
  
Para pembaca yang berbahagia,
Hari Natal dan Tahun Baru sering menjerumuskan kaum muslimin. Natal merupakan salah satu hari raya umat Kristen dalam rangka memperingati kelahiran Isa al-Masih ‘alaihissalam
yang menurut anggapan mereka jatuh pada tanggal 25 Desember. Sedangkan perayaan Tahun Baru adalah perayaan untuk menyambut berakhirnya masa satu tahun kalender Masehi (Gregorian) dan menandai dimulainya hitungan tahun selanjutnya pada tanggal 1 januari. Bagaimanakah pandangan Islam dalam hal ini? Islam –sebagai agama yang sempurna- melalui para ulama, telah memberikan bimbingan yang tepat kepada umatnya di dalam menyikapi 2 hari raya tersebut sebagaimana berikut ini:

  • Umar bin al-Khoththob radhiallahu’anhu berkata, “Jauhilah oleh kalian musuh-musuh Allah subhanawata’ala pada hari raya mereka.” (HR. al-Baihaqi no. 18641. Lihat: Fatawa Ulama al-Haram al-Makki hal. 113)
  • Al-Imam Jalaluddin as-Suyuthi asy-Syafi’i rahimahullah menyebutkan sebuah pasal dalam kitabnya: “Pasal. Bid’ah Hari-Hari Raya dan Perayaan-Perayaan, Serta Larangan untuk Ikut Serta Merayakan bersama Ahli Kitab (Yahudi dan Kristen) Pada Hari-Hari Raya dan Perayaan-Perayaan (Hari Besar) Mereka.” (al-Amru bil Ittiba’ wan Nahyu ‘anil Ibtida’, hal. 120)
Tentang perayaan Tahun Baru Masehi beliau rahimahullah juga menyebutkan: “Larangan dari Perayaan yang dinamakan Malam Tahun Baru Masehi. Dan ini termasuk dari perkara yang dilakukan oleh kebanyakan manusia pada musim dingin, yang menurut anggapan mereka bahwa pada saat itulah Nabi Isa ‘alaihissalam dilahirkan. Maka seluruh yang dilakukan pada malam-malam ini merupakan kemungkaran seperti menyalakan api, membuat makanan (menyambut Tahun Baru), membeli lilin dan selainnya (seperti terompet, pent). Karena sesungguhnya menjadikan hari-hari kelahiran sebagai hari raya adalah berasal dari ajaran Kristen. Yang demikian ini, tidak ada asalnya dalam ajaran Islam.” (al-Amru bil Ittiba’ wa Nahyu ‘anil Ibtida’, hal 122)
  • Komisi Fatawa Saudi Arabia (al-Lajnah ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta)
Pertanyaan: “Apa hukumnya turut serta bersama orang-orang Kristen dalam merayakan hari-hari raya mereka? Berilah kami fatwa semoga Allah subhanawata’ala memberi pahala kepada kalian.
Jawab: “Tidak boleh untuk turut serta bersama orang-orang Kristen dan selain mereka dari kalangan orang-orang kafir dalam merayakan hari-hari raya mereka. Karena perbuatan yang demikian merupakan bentuk tolong-menolong dalam dosa dan pelanggaran, menyetujui kemungkaran yang ada pada mereka, dan menunjukkan kecintaan kepada mereka. Allah subhanawata’ala telah menyebutkan dalam firman-Nya tentang sifat hamba-hamba Allah subhanawata’ala, diantaranya adalah: “Dan orang-orang yang tidak menghadiri az-Zur.” (al-Furqan: 72). Tafsir ayat tersebut adalah (diantara sifat hamba-hamba Allah subhanawata’ala) mereka tidak menghadiri acara-acara kemungkaran, seperti hari-hari raya orang-orang kafir dan selainnya.” (al-Lajnah ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta 1/ 441, No. 16426)
  • Komisi Fatawa Saudi Arabia (al-Lajnah ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta)
Pertanyaan: “Apakah boleh bagi seorang muslim untuk turut serta bersama orang-orang Kristen dalam hari-hari raya Kristen seperti hari Natal –yang jatuh pada akhir bulan Desember- ataukah tidak? Di lingkungan kami terdapat orang-orang yang dianggap alim ulama akan tetapi mereka menghadiri acara orang-orang Kristen yaitu pada hari raya Kristen dan mereka berpendapat bolehnya untuk menghadiri acara tersebut. Apakah pendapat yang demikian benar atau tidak? Apakah mereka memiliki landasan syar’i atas bolehnya atau tidak?
Jawab: “Tidak boleh turut serta bersama orang-orang Kristen dalam hari-hari raya mereka, walaupun yang turut serta di dalamnya adalah orang-orang yang dianggap alim ulama. Karena dalam perbuatan yang demikian akan memperbanyakjumlah mereka dan merupakan bentuk tolong-menolong dalam dosa. Allah subhanawata’ala berfirman: “Dan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (al-Maidah: 2) (al-Lajnah ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta 2/ 76, No. 8848)
  • Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang hukum memberi ucapan selamat kepada orang-orang kafir (Kristen) pada hari Natal? Bagaimana kita membalas ucapan mereka apabila mereka mengucapkannya kepada kita? Apakah boleh untuk menghadiri perayaan-perayaan mereka? Apakah seorang muslim berdosa apabila menghadirinya dengan tanpa maksud tertentu? Hanya saja alasan menghadirinya bisa karena sekedar formalitas, malu, terpaksa (instruksi dari instansi) atau alasan lainnya (demi toleransi beragama)? Apakah boleh menyerupai mereka dalam hal ini?
Beliau rahimahullah menjawab: “Memberi ucapan selamat kepada orang-orang kafir (Kristen) pada hari Natal atau selainnya dari hari-hari raya keagamaan mereka hukumnya adalah haram menurut kesepakatan para ulama. Sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam bukunya ‘Ahkan Ahli Dzimmah’: “Adapun memberi ucapan selamat terhadap syi’ar-syi’ar kekafiran yang menjadi cirri khasnya maka hukumnya adalah haram menurut kesepakatan para ulama. Seperti memberi ucapan selamat kepada mereka pada hari-hari raya dan puasa dengan mengucapkan, ‘Hari raya yang penuh keberkahan untukmu’ atau engkau memberi ucapan selamat dengan hari raya tersebutdan yang semacamnya. Maka yang demikian ini, apabila si pengucapnya selamat dari kekufuran, minimalnya perbuatan tersebut adalah haram. Ibaratnya dia mengucapkan slamat atas sujudnya yang demikian lebih besar dosanya di sisi Allah subhanawata’ala dan sangat dibenci daripada mengucapkan selamat kepada mereka karena mereka meminum minuman keras, membunuh orang lain, berzina dan semacamnya. Kebanyakan orang-orang yang tidak paham agama terjatuh ke dalam perbuatan ini dan tidak mengetahui keburukan perbuatannya.
Maka barangsiapa yang memberi ucapan selamat kepada orang yang melakukan kemaksiatan, kebid’ahan atau kekafiran berarti ia telah menyerahkan dirinya untuk menerima kebencian dan kemurkaan Allah.”
(Asy-Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah berkata), Haramnya memberi ucapan selamat kepada orang-orang kafir pada hari-hari raya keagamaan mreka, dan sebagaimana pula yang diucapkan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah, karena yang demikian berarti menyetujui kekafiran mereka dan ridho dengannya. Walaupun ia tidak ridha, kekafiran tersebut mengenai dirinya namun diharamkan bagi setiap muslim untuk meridhai kekafiran atau memberi ucapan selamat dengannya pada diri orang lain.
Karena Allah subhanawata’ala tidak meridhai yang demikian sebagaimana firman Allah subhanawata’ala: “Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak membutuhkan (ilmu)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” (az-Zumar: 7).
Allah subhanawata’ala juga berfirman: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu sebagai agama bagimu.” (al-Maidah: 3)
Memberi ucapan selamat kepada mereka hukumnya haram, sama saja apakah terhadap mereka (orang kafir) yang punya hubungan bisnis dengan seorang muslim ataukah tidak. Apabila mereka memberi ucapan selamat kepada kita pada hari-hari raya mereka maka kita tidak boleh membalasnya karena itu bukan hari raya kita. Dan hari raya mereka tidak diridhai Allah subhanawata’ala. Karena hari-hari raya mereka bisa jadi sesuatu yang diada-adakan atau disyariatkan dalam agama mereka akan tetapi itu semua telah dihapus oleh Islam dengan diutusnya Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihiwasallam oleh karena Allah subhanawata’ala kepada seluruh makhluk.
Allah subhanawata’ala berfirman: “Barangsiapa mencari agama selain islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali-Imran: 85).
Haram hukumnya bagi setiap muslim untuk memenuhi undangan hari raya mereka. Karena perbuatan yang demikian lebih buruk dari pada memberi ucapan selamat kepada mereka dikarenakan dia telah turut serta di dalamnya. Demikian pula diharamkan bagi setiap muslim untuk menyerupai orang-orang kafir dengan mengadakan pesta, tukar-menukar hadiah, membagi-bagi permen, menyediakan makanan, libur kerja dan semisalnya pada saat hari raya mereka. Karena Rasulullah shalallahu ‘alaihiwasallam bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia bagian dar mereka.” (HR. Ahmad 2/ 50, 92)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan dalam kitabnya ‘Iqtidha Shirathal Mustaqim’: “Menyerupai orang-orang kafir pada sebagian hari-hari raya-nya akan menanamkan rasa senang dalam hati mereka terhadap kebatilan yang ada pada diri mereka. Yang demikian bisa jadi akan memberi semangat bagi mereka untuk mengambil kesempatan (menjalankan misi) dan merendahkan orang-orang yang lemah.”
(Asy-Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah berkata), “Dan barangsiapa yang melakukan demikian maka ia berdosa baik melakukannya karena sekedar formalitas, rasa suka, malu atau sebab lainnya. Karena yang demikian berarti telah melakukan penipuan terhadap agama dan menjadi sebab semakin menguatnya jiwa orang-orang kafir dan membuat mereka semakin bangga terhadap agama mereka.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail al-‘Utsaimin 3/ 44 – 4, fatwa no. 404).
  • Komisi Fatawa Saudi Arabia (al-Lajnah ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta’)
Pertanyaan: “Di sana ada sebagian kaum muslimin yang merayakan hari-hari raya orang-orang kafir dan hari-hari raya yang tidak disyariatkan oleh Allah subhanawata’ala seperti hari ibu, hari raya musim semi rakyat Mesir dan hari raya tahun baru. Apa hukumnya orang yang merayakan hari-hari raya tersebut?
Jawab: “Semua hari raya ini adalah bid’ah (tidak ada asalnya dalam Islam), tidak boleh untuk ikut nerayakannya dan tidak boleh pula untuk menjadikannya sebagai hari raya. Dan tidak ada di dalam ajaran Islam selain dari 2 hari raya yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.
Oleh karena itulah wajib bagi setiap orang yang Allah subhanawata’ala telah terangi pandangannya dengan mengetahui kebenaran agar memberikan nasehat dan bimbingan dengan penuh hukmah kepada siapapun yang merayakan hari-hari raya yang bid’ah tersebut. Apabila dia mau menjauh dari perbuatan tersebut maka dia tidak terkena dosa dan apabila tetap bersikeras di atas kebid’ahan tersebut maka ia berdosa.” (al-Lajnah ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta 1/ 437, soal ke 1 No. 16419)
  • Komisi Fatwa Saudi Arabia juga melarang kaum muslimin saling memberi ucapan Selamat Tahun Bru Masehi dikarenakan perayaan tersebut tidak disyariatkan dalam Islam. (al-Lajnah ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta 1/ 454, soal ke 1 No. 20795)
  • Asy-Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan rahimahullah mengatakan, “Termasuk perbuatan yang menunjukkan rasa cinta kepada orang-orang kafir adalah: … Turut serta bersama orang-orang kafir di dalam perayaan-perayaan mereka atau tolong-menolong dengan mereka dalam penyelenggaraan acara tersebut, mengucapkan selamat atas perayaan-perayaan tersebut atau ikut menghadiri dalam perayaan-perayaan tersebut.
Hal ini sebagai tafsir dari firman Allah subhanawata’ala: “Dan orang-orang yang tidak menghadiri az-Zur.” Tafsir dari ayat ini adalah (termasuk dari sifat hamba-hamba Allah subhanawata’ala) mereka tidak menghadiri acara-acara kemungkaran, seperti perayaan-perayaan orang kafir.” (al-Wala wal Bara, hal. 13).
  • Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia tertanggal 1 Jumadal Ula 1401 Hijriyyah/ 7 Maret 1981 Masehi yang itetapkan di Jakarta memfatwakan tentang larangan mengikuti upacara natal bersama bagi umat Islam dan mengikuti kegiatan-kegiatan natal. (Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia sejak 1975 Bidang Sosial dan Budaya, hal. 307 – 314)
Wallahu a’lan bish shawab.
Sumber : diketik ulang untuk darussalaf.or.id dari Buletin Jum’at Al-Ilmu Edisi 08/II/XII/1435H

Minggu, 29 Desember 2013

Manhaj Bunglon Dzulqarnain Terhadap Ihya’ Ut Turats


Dzulqarnain Pahlawan Kesiangan Para Turatsiyun Sururiyun:

Di Depan Umat Melecehkan Duat Ahlussunnah,

Di Depan Ulama Menikam Dengan Laporan-Laporan Dusta

Diantara bukti Manhaj Bunglon Dzulqarnain hadahullah lainnya adalah melecehkan, menjelek-jelekkan Salafiyun di depan umat dengan menggelari Ahlussunnah yang gigih mentahdzir Ihya’ut Turats sebagai Pahlawan Kesiangan dan tuduhan menyibukkan (memalingkan) dari ilmu dengan alasan masalah Ihya’ut Turats sudah lama selesai (karena telah ditahdzir oleh para ulama):
…Jadi sebenarnya permasalahan Ihyaut Turats ini hanya dimunculkan oleh sebagian orang, oleh Salafiyin sendiri sudah lama selesai dari Ihyaut Turats. Ya…sudah lama selesainya bahwa mereka ini yayasan hizbiyyah, ya..memecahbelah dan seterusnya itu sudah lama selesainya TAPI ADA SEBAGIAN ORANG YANG… APA NAMANYA…INGIN MENJADI PAHLAWAN KESIANGAN ..YA… BAHWA DIA MEMUNCULKAN MASALAH-MASALAH YANG SEPERTI INI, MENYIBUKKAN SALAFIYIN DARI ILMU.
DAN SEBAGIAN ORANG LAIN SEAKAN-AKAN SELURUH USHUL AHLUSSUNNAH ITU ADALAH MENTAHDZIR IHYAUT TURATS. DIMANA-MANA KERJANYA HANYA ITU SAJA ATAU KEBANYAKAN PEMBICARAAN ADALAH ITU …yang kadang menyebabkan berbalik sangka  pada sebagian orang …iya ..disebabkan karena masalah sikap terhadap Ihyaut Turats….”
Audio:
atau download di sini
Siapa wahai Syaikh Dzulqarnain yang mendahuluimu mengucapkannya dari kalangan ulama seperti ucapanmu? Masalah Ihya’ut Turats sudah selesai dan yang masih terus membicarakannya, mentahdzir umat dari bahaya dan makar kejahatan mereka adalah PAHLAWAN KESIANGAN??!
Bagaimana mungkin engkau hendak membungkam Ahlussunnah agar selesai berbicara tentang Ihya’ut Turats padahal sampai hari ini yayasan Hizbiyyah tersebut masih terus menggerakkan serdadu-serdadunya, menebarkan hartanya di pelbagai belahan dunia untuk memecahbelah Ahlussunnah dan mendakwahkan kebid’ahannya?!
Bukankah ini merupakan jual belimu yang sangat jelek lagi rusak?
Pembaca…
Simak lagi cercaan, tuduhan khabits dan serangan Dzulqarnain Al Makasari terhadap Ahlussunnah di I’tisham:
“Kemudian juga dari hal yang bertentangan dengan ilmu dan tidak menghormati menghargai para ulama, seorang mengambil satu bagian dari ilmu setelah itu dia gugurkan yang lainnya, dia gugurkan yang lainnya, iya. Nah ini termasuk aneh bin ajaib memang, terlihat pada sebagian penuntut ilmu. Masya Allah kalau masuk di dalam pembahasan tahdzir mentahdzir, sikap terhadap ahlul bid’ah atau baca buku tentang itu masya Allah, iya, semangat sekali untuk hadir, iya. Kita tidak meragukan bahwa mentahdzir ahlul bid’ah itu adalah bagian yang pokok dari agama kita ahlussunnah, iya dari ushul ahli sunnah, iya, dari ushul Ahlisunnah tapi harus dipahami bahwa para ulama ahlissunnah menekankan pembahasan akidah di seluruh cabangnya bukan di satu mas alah saja, iya. Dia hanya ambil di satu masalah setelah itu masalah yang lainnya dia gugurkan, iya, dia tidak pelajari masalah yang lainnya. Gak pernah dia pelajari tafsir Al Qur’an, tidak pula dia menghormati mempelajari ilmu fiqih, iya. Tidak pula dia menghormati mempelajari apa namanya ilmu akidah secara umum. Dia mengambil satu bab saja, meninggalkan bab yang lainnya, nah ini bukan orang yang mengagungkan ilmu dan mengagungkan para ulama. Itu bertentangan dengan konsekwensi ilmu dan bertentangan dengan jalan para ulama, iya bertentangan dengan jalan para ulama.”
Audio:
atau download di sini
DI ANTARA MAKAR TIPU DAYA DAN KEDUSTAAN  DZULQARNAIN BIN SUNUSI AL MAKASARI
Disamping getol berkampanye untuk melakukan penggembosan, menjelek-jelekkan Ahlussunnah yang memperingatkan umat dari bahayanya Hizbiyun Turatsiyun Sururiyun dengan gelaran-gelaran buruk lagi dusta, Dzulqarnain juga melancarkan misi gerilya secara terselubung, demi menikam para duat Ahlussunnah dengan melaporkan kepada para ulama berita-berita dusta hanya karena para du’at tersebut memiliki satu “kesalahan dan dosa” di sisi dirinya dan kelompoknya yakni tetap gigih membentengi umat  dari makar tipu daya Hizbiyyun dengan membongkar kejahatan-kejahatan mereka!!
Dzulqarnain memberikan gambaran-gambaran buruk tentang Salafiyin dengan kedustaan yang dia sampaikan di hadapan Syaikh Utsman dan Syaikh Abdullah Al Mar’i bahwa Salafiyin mengadakan Daurah selama 2 atau 3 hari hanya membahas Ihya’ut Turats dan Sururiyyah di daerah yang penduduknya belum mengenal apa itu Surury!!
✏ Ada apa dengan anda ya Dzulqarnain sehingga mampu mempermainkan ulama, memberikan sajian kedustaan-kedustaan di hadapan Syaikh Utsman dan Syaikh Abdulloh Al Mar’i?
✏Siapakah yang mengadakan daurah selama 2 atau 3 hari tersebut?
✏Kenapa anda berdusta dengan mengatakan di Indonesia bagian timur tidak mengenal Sururiyah, bukankah Si Khabits Hizby Firanda itu dari Sorong yang letaknya di Indonesia Bagian timur?
✏Bukankah syubhat yang engkau lemparkan di depan kedua Syaikh tersebut wahai Dzulqarnain merupakan syubhat yang engkau adopsi dari syubhatnya Ali Hasan Al Halaby dan Ibrahim Ruhaily?!!
“Jangan membahas bid’ah di daerah yang di sana penduduknya belum mengenal bid’ah (atau versi anda) membahas Sururiyah Turatsiyah yang di sana mereka belum mengenal apa itu Surury??
Silakan pembaca sekalian mendengarkan suara seorang yang bernama Dzulqarnain bin Sunusi al Makasari ketika mempermainkan dua ulama tersebut demi menikam para du’at Ahlussunnah yang dinisbahkan pada mereka kedustaan-kedustaan agar Ahlussunnah diberangus, dibungkam agar tidak lagi (berani) membicarakan kejahatan Hizbiyyah Sururiyah Turatsiyah!! Dan inilah cara Dzulqarnain mempersembahkan Fiqih Muamalahnya yang indah pada Hizbiyun dan dakwah mereka:
Audio:
atau download di sini
Duhai apakah masih ada diantara anda wahai pembaca yang menaruh kepercayaan dien kepada model pengkhianat dakwah berbaju Salafy yang tega menikam dari belakang para duat Ahlussunnah karena “dosa” mereka yakni membentengi umat dari kejahatan Hizbiyun dan dakwahnya?!
Sungguh benar Asy Syaikh Rabi’ bahwa Dzulqarnain adalah La’aab Mutalawwin dan berada di atas jalannya Al Halaby di dalam makar!!
DZULQARNAIN MEMBOCORKAN BUKTI MAKAR & KEBOHONGANNYA SENDIRI
Dan diantara bentuk lain La’aab dan Mutalawwinnya Dzulqarnain yang sangat luar biasa lagi menakjubkan adalah: Bukti rekaman suara kedustaannya di atas (ketika mempermainkan Syaikh Utsman dan Syaikh Abdullah Al Mar’i dengan laporan-laporan palsu untuk menikam Asatidzah Ahlussunnah pada jalsah bandara) TIDAK BOLEH ADA YANG MEREKAM KECUALI DZULQARNAIN SAJA YANG DIIJINKAN.
Jadi, tersampaikannya rekaman tersebut kepada kita adalah bukti nyata bahwa Dzulqarnain sendirilah yang MEMBOCORKAN BUKTI KEDUSTAANNYA SENDIRI!!!
Simak pengakuan temannya, Muhammad Na’im Grenjeng Solo:
“Maka, sampai terakhirpun juga.. ee..ini mungkin sedikit ya.. yang sempat saya catat. Karena kemarin.. ee..pada tausiyah yang terakhir kemarin.. ini.. TIDAK BOLEH ADA YANG MEREKAM KECUALI USTADZ DZULQARNAIN SAJA YANG DIIJINKAN  UNTUK MEREKAM.
Jadi rekaman ada pada beliau, releasenya dan juga nasehat-nasehatnya itu ada pada beliau….”
Berikut bukti suara pengakuan Muhammad Na’im:
Audio:
atau download di sini
Demikianlah hakekat yang sebenar-benarnya dari PAHLAWAN KESIANGAN TURATSIYAH SURURIYYAH, dia yang melecehkan serta melemparkan kedustaan demi menikam para duat Ahlussunnah sebagai PAHLAWAN KESIANGAN, dia pula yang membocorkan bukti kedustaannya kepada kita semua. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membalikkan makar dan tuduhan-tuduhan dustanya mengena pada dirinya sendiri. Walhamdulillah.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَا يَرْمِي رَجُلٌ رَجُلًا بِالْفُسُوقِ وَلَا يَرْمِيهِ بِالْكُفْرِ إِلَّا ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذَلِكَ
”Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan kata fasiq dan menuduhnya dengan kata kafir, kecuali tuduhan itu akan kembali kepada si penuduh jika orang yang tertuduh tidak seperti yang dituduhkan. [HR Bukhari]
Jika benar masalah Ihya’ut Turats sudah selesai (dan jangan dibicarakan lagi!!) lalu kenapa para ulama masih terus memperingatkannya sampai saat ini wahai Syaikh Dzulqarnain?! Dan inilah Asy Syaikh Ahmad Bazmul hafizhahullah, salah satu “Pahlawan Kesiangan” yang engkau tikam dengan ucapan khabitsmu! Yang terus memperingatkan umat dari bahaya kejahatan Ihya’ut Turats!
Maka ketika hakekat makar khabitsnya, tikaman-tikamannya terhadap para duat Ahlussunnah (bahkan para ulama Ahlussunnahpun tak luput dari tikaman khabitsnya!!), tingkah-polah mutalawwin serta la’aabnya tiada lagi tersembunyi disisi Asy Syaikh Rabi’ hafizhahullah sehingga turunlah tahdzir beliau –walhamdulillah- tersebab gerakan dan makarnya yang sangat berbahaya dalam upayanya menghancurkan dakwah Ahlussunnah ini dari dalam, bukannya dia memilih jalan kemuliaan untuk rujuk dan mengakui kesalahannya tetapi Dzulqarnain memilih berteriak untuk merealisasikan BURUK MUKA KACA TETANGGA YANG DIBELAH. Berbalik menuduh asatidzah (dan Asy Syaikh Hani’) hafizhahumullah yang melaporkan berita-berita dusta tentang dirinya kepada beliau…!!!! La hawla wala quwwata illa billah..
Teringatlah hamba dengan untaian kata….maling teriak maling. Allahul musta’an.
tikaman balik dzulqarnain
Gambar. Screenshot BURUK MUKA KACA TETANGGA YANG DIBELAH. Si Pendusta Dzulqarnain menolak, membangkang dari tahdziran Syaikh Rabi’ dan berbalik menikam asatidzah (dan Syaikh Hani’) hafizhahumullah
Tidak tersisakah rasa malumu walaupun sedikit wahai Dzulqarnain???!!
Lihatlah dan dengarlah sendiri bukti tingkah laku manhaj Bunglonmu bersama kawan-kawanmu!?
Bukankah bukti-bukti itu telah tersebarluas dan bisa disaksikan ataupun didengarkan oleh segenap umat?
Dan lihat serta dengarlah wahai Dzulqarnain bahwa virus kebinasaan, kebohongan yang engkau tebarkan benar-benar telah menjalar ganar menular pada orang-orang dekatmu!! Kedustaan menjadi sesuatu yang tak malu untuk ditabuh bertalu-talu, diteriakkan di atas mimbar dakwah dan bahkan menjadi sebuah hasungan yang dielu-elu.
Muhammad Barmimmu hadahumullah telah menjadi kepanjangan lidah dustamu berteriak tanpa malu memamerkan amarah dan dusta tanpa ragu:
“Sebagian orang, sebagian kelompok, sebagian asatidz, mungkin dia menyibukkan diri dengan membuat daurah khas dalam perkara manhaj. FAIDAHNYA APA? DAURAH MANHAJIYYAH..YAUM YAUMAIN TSALATSA AYYAM, SEDANGKAN SYAIKH MUQBIL RAHIMAHULLAH TIDAK PERNAH SEDIKITPUN MENGKHUSUSKAN DARS DALAM PERKARA MANHAJ. YA..NGGAK ADA..kata Syaikh rahimahullah. Dan ini sering kita dengar di dars beliau….kita sambil membaca kitab sambil dars kita ‘alath thariq sambil jalan, tidak menjadikan bab khusus atau kemudian jalsah khusus untuk membantah kelompok fulaniyah atau membicarakan si fulan nggak pernah Syaikh Muqbil seperti itu. Belum pernah ana yang pernah hidup dengan Syaikh Muqbil, yang pernah mengikuti darsnya Syaikh Muqbil nggak pernah…..Syaikh tidak pernah membicarakan  ketika mereka…dakwah membicarakan masalah manhaj…tidak pernah. …faidahnya apa? Apa kemudian kita keluar dari tempat ini menjadi orang alim sekelas Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah… ”
Audio:
atau download di sini
Maka untuk menyempurnakan bukti-bukti manhaj bunglonmu, kebohonganmu, kejahatanmu dan kawan-kawanmu, menghancurkan dan meluluhlantakkan makar licikmu dan kawan-kawanmu kami hadirkan di hadapanmu hujjah dari ulama yang selama ini kamu bangga-banggakan sebagai gurumu (dan dibangga-banggakan pula oleh para pengekormu), na’am Al Allamah Al Fauzan hafizhahullah telah menggilas kebatilan orang-orang yang semodel dengan dirimu dan menyingkap baju kepalsuanmu agar umat mengetahui hakekat sebenarnya dari dirimu, kawan-kawanmu dan yang semodel denganmu dalam hal makar!!
Penanya:
Bagaimana membantah orang yang suka merendahkan bantahan-bantahan terhadap ahli bid’ah dan dia menyatakan bahwa hal itu menyia-nyiakan ilmu yang lain dan bukan merupakan kebiasaan Salaf?
Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah:
DIA INI BODOH, YANG MENYATAKAN UCAPAN SEMACAM INI ADALAH ORANG BODOH. ORANG YANG MENYELISIHI KEBENARAN DIBANTAH DAN DIJELASKAN PENYIMPANGANNYA AGAR DIA MAU KEMBALI KEPADA KEBENARAN DAN AGAR JANGAN SAMPAI ORANG LAIN TERTIPU DENGANNYA. Dan ini termasuk nasehat yang dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam:
الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ.
“Agama adalah nasehat.”
Para shahabat bertanya, “Untuk siapakah wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab:
لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ.
“Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan mereka seluruhnya.”
Dan termasuk bentuk nasehat bagi kitab Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam adalah dengan kita membantah siapa saja yang salah dalam memahami keduanya dan menafsirkan dengan tafsir yang tidak benar. Ketika itu wajib untuk kita bantah dan kita jelaskan kesalahannya. Demikian juga siapa saja yang salah dalam salah satu perkara agama dan ibadah, wajib dijelaskan kesalahan tersebut. Kalau tidak dilakukan dan hanya dibiarkan, niscaya agama ini akan lenyap dan hilang. Allah Jalla wa Ala telah membantah orang-orang musyrik dalam Al-Qur’an, membantah Yahudi dan membantah Nashara. Berbagai bantahan ada di dalam Al-Qur’an. Maka bantahlah mereka dan jangan dibiarkan begitu saja! Jadi ucapan bahwa orang yang menyimpang tidak perlu dibantah ini adalah ucapan orang bodoh yang tidak memahami. Hanya saja yang membantah adalah orang yang memiliki ilmu ya ikhwah. Yang mengurusi perkara-perkara ini adalah para ulama. Bukan orang-orang bodoh atau yang baru belajar. Mereka ini akan lebih banyak melakukan kesalahan dibandingkan melakukannya dengan benar. Bisa jadi kesalahan mereka lebih banyak dibandingkan pihak yang dibantah. Bisa juga mereka membantah berdasarkan kebodohan. Jadi tidak berhak membantah kecuali orang-orang yang memiliki ilmu, bashirah dan ma’rifat.
Ditranskrip oleh:
Abu Syu’bah Muhammad Al-Maghriby
Senin 13 Syawwal 1432 H
Sumber artikel:
Catatan: yang dimaksud oleh Asy-Syaikh Al-Fauzan bahwa yang berhak melakukan bantahan adalah para ulama, bukan berarti hanya para ulama yang boleh membantah. Tetapi maksudnya hendaklah siapa saja yang membantah melakukannya dengan ilmiah dan merujuk kepada penjelasan para ulama dan tidak mengandalkan dirinya. Atau bisa juga dipahami bahwa jika masalahnya besar atau yang melakukan kesalahan adalah setingkat ulama maka yang berhak hanya para ulama atau yang diizinkan atau ditugaskan oleh ulama. Karena kesalahan itu sendiri bertingkat-tingkat. Tentunya tidak benar kalau dipahami secara mutlak bahwa yang berhak membantah hanya para ulama.
INI KITA JELASKAN AGAR TIDAK ADA CELAH BAGI HIZBIYUN ATAU ORANG-ORANG YANG HATINYA BERPENYAKIT ATAU ORANG-ORANG YANG SUKA MENGGEMBOSI UNTUK MENYERANG AHLUS SUNNAH YANG MEMBANTAH MEREKA. KEMUDIAN HAL INI JUGA DIJELASKAN OLEH ASY-SYAIKH AL-FAUZAN SENDIRI DI KESEMPATAN YANG LAIN SEBAGAI BERIKUT:
Penanya: Saya berniat untuk menulis bantahan terhadap sebagian kelompok-kelompok sesat dan mentahdzirnya. Hanya saja kelompok tersebut belum keluar dari agama ini dan sebagian ulama ada yang memujinya. Saya juga khawatir ulama tersebut akan mendoakan keburukan terhadap saya. Maka apa nasehat Anda, dan perlu diketahui bahwa saya benar-benar memiliki ilmu yang menunjukkan bahwa kelompok tersebut menyimpang?
Asy-Syaikh: Yang wajib atas engkau adalah menjelaskan kebenaran, yang wajib atas engkau adalah menjelaskan kebenaran. Jika engkau memang benar-benar yakin dan mengetahui kesalahan-kesalahan yang ada pada mereka dan berbagai kesesatan mereka. Jika engkau yakin 100 % dan engkau memiliki kemampuan dan ilmu serta mampu menjelaskan, ketika itu maka wajib atas dirimu.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وإذَ أَخَذَ اللهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلاَ تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَاء ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْاْ بِهِ ثَمَناً قَلِيلاً فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ.
“Dan ingatlah ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Al-Kitab: “Hendaklah kalian benar-benar menerangkan isi kitab itu kepada manusia dan janganlah sekali-kali kalian menyembunyikannya.” (QS. Ali Imran: 187)
Juga firman-Nya:
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِن بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلعَنُهُمُ اللهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاَّعِنُونَ.
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan yang jelas dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknat oleh Allah dan dilaknat pula oleh semua mahluk yang bisa melaknat.” (QS. Al-Baqarah: 159)
Jadi tidak boleh menyembunyikan ilmu. Jika engkau memiliki ilmu dan engkau benar-benar yakin terhadap berbagai kesesatan sebagian kelompok, maka jelaskan kepada manusia agar mereka mewaspadainya, dan ini termasuk bentuk nasehat.
Rasulullah shallallahu alaihi was sallam:
الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ.
“Agama adalah nasehat.”
Para shahabat bertanya, “Untuk siapakah wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab:
لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ.
“Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan mereka seluruhnya.”
Janganlah engkau takut kepada manusia. Takutlah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan jelaskanlah kebenaran serta bantahlah kebathilan dan jangan takut kepada manusia.
Audio:
atau download di sini
Sumber artikel:

http://tukpencarialhaq.com

Al-Ustadz Luqman Ba'abduh & Al-Ustadz Qomar Suaidi – 29 Prisip Ahlussunnah